APAKAH KITA BISA MENENTUKAN SENDIRI DALAM MEMILIH HADITS

Ketika belajar Muhkam dan Mukhtalif dalam hadits kita akan sadar bahwa tidak semua hadits, selalu muwafiqah (maknanya sejalan secara dzahir). Bahwa ada di antara hadits yang bertentangan. Maka kita bertanya, hadits mana yang harus saya amalkan? Kebanyakan orang awam akan melihat jika ini di Shahih Al-Bukhari dan yang lain yang bertentangan adalah di Sunan al-Tirmidzi, langsung mengambil hadits yang berada di Shahih al-Bukhari. Padahal tidak seperti itu, dan semudah itu.

Marilah kita melihat sejenak apa yang ada di dalam buku yang sederhana, ringkasan Musthalah al Hadits karya Dr. Mahmud al-Thahan. Beliau menuliskan bahwa pilihan pertamanya untuk solusi hadits yang bertentangan adalah mengumpulkan untuk dikompromikam secara makna, dan ini tentu adalah otoritas yang memiliki pengetahuan tentang hadits, dari segi lughah (bahasa), ilmu ushul hadits, asbabul wurud hadits, bahkan sampai ilmu tentang ta’arrudh al dilalah serta ilmu lainnya..Kemudian solusi pilihan kedua, jika tidak bisa di kompromikan maknanya (yakni: al-Jam’u wa al-Taufiq), dapat menempuh 3 langkah berikut. Apa saja itu?

Pertama, dilihat apakah hadits itu berstatus NASAKH dan MANSUKH (yang satu menghapus hukum yang lainnya), maka dalam ini kita membutuhkan ilmu asbabul wurud (ilmu tentang kapan disampaikannya hadits termasuk sebabnya). Jika tidak bisa, maka dapat menempuh langkah yang kedua, dengan lakukan AL-TARJIH atau mengunggulkan salah satu hadits dari yang bertentangan itu. Tentu kita membutuhkan ilmu, tentang bagaimana saya harus men-tarjih dan menilai rendah hadits yang lain baik dari segi sanad ataupun matan? Kemudian jika belum juga kita dapat memutuskan, kita lakukan langkah yang ketiga, adalah JANGAN menilai satu hadits lebih unggul dari yang lain, namun berusaha untuk mengamalkan keduanya, sampai kita mendapatkan informasi dari seorang yang ahli dalam hadits untuk memutuskan hal tersebut..Itulah betapa agama ini tidak hanya sekadar senda gurau di antara orang-orang yang tidak berilmu. Hanya mengetahui sebagain dan menganggap sudah memiliki semuanya. Memuntahkan dalil bukan mengolahnya. Selain itu, sejarah keilmuan mencatat bahwa ulama pertama yang fokus tentang hadits-hadits yang bertentangan adalah Imam Syaf’ii. Kemudian disusul Ibnu Qutaibah dengan kitabnya Ta’wil Mukhtalif Al Hadits. Dan Al Thahawi (Abi Ja’far Ahmad bin Salamah) dengan kitabnya Musykil al Atasr..Maka sebagai manusia yang awam dengan ilmu, kita sandarkan agama ini kepada ahlinya. Dan tidak gegabah untuk mengambil kesimpulan sendiri. Semoga Allah jadikan kita hamba yang menitih jalan yang benar. Allahummahdina sawaaassabil..

Wallahu A’lam.

– Diambil dari hasil bacaan Kitab Musthalah al Hadits karya Dr. Mahmud al Thahhan

Re-Write : Hamba yang lemah dan kurang berilmu, Ade Darmawan