Siapa yang TERBAIK? Saya atau Mereka?

Pada satu waktu ketika kami sedang melakukan puasa sunnah, kami dikejutkan dengan sebuah hadits yang sangat menegur bagi orang-orang yang berpuasa. Hadits tersebut berbunyi sebagai berikut,
.
الطاعمُ الشَّاكرُ بمنزلةِ الصائمِ الصابرِ
.
Artinya: “Orang yang makan (tidak berpuasa) namun dia bersyukur, itu berada pada posisi yang sama seperti orang yang berpuasa dan ia bersabar (dalam puasanya)”. (HR. Tirmidzi, Ahmad dengan kualitas hadits Shahih)
.
Artinya bahwa syukur itu merupakan ibadah yang Muhimmah (sangat penting), sampai untuk menyatakan betapa mulianya orang yang bersyukur, dibuatkanlah satu perbandingan yang cukup signifikan, yakni antara orang yang berpuasa dengan orang yang tidak berpuasa. Bahwa bagi yang tidak berpuasa, jika mereka dalam mengkonsumsi makananya kemudian dimanifestasikan dalam syukur maka itu kedudukannya sama seperti orang yang berpuasa dan mereka sabar.
.
Tidak dapat dipungkiri lagi, betapa susahnya untuk berpuasa kemudian kita harus tetap dalam kesabaran, sampai batas berbuka (waktu maghrib). Tanpa marah, ghibah, fitnah, atau menyebarkan berita hoaks, atau informasi adu domba. Dan bahkan perbuatan yang bernilai dosa lainnya. Setelah itu nilai puasa dengan kesebaran tersebut memiliki posisi yang sama dengan yang tidak berpuasa. Maka kita tidak tahu di antara siapa yang terbaik apakah pelaku puasa atau yang tidak.
.
Kemudian, suatu saat kami diberikan kesempatan untuk mengobrol dengan salah satu mahasiswa jurusan sains, ketika berbicara tentang tema agama mereka menyatakan kepada kami, “beruntung ya, anda berada pada posisi pelajar agama yang mulia ini.” “Sedangkan kami setiap hari dihadapkan dengan materi yang bersifat duniawi”. Maka dihati saya terbesit jawaban, “tidak lah seperti itu pertanyaan itu seharusnya”.
.
Maka mari kita renungkan bahwa memang sunnatullah, atau bahkan ini sebagai ayat Allah, bahwa makhlukNya diciptakan dalam keadaan yang bermacam-macam, dalam fisik yang bermacam-macan, dalam fokus ilmu yang bermacam-macam, dalam perkerjaan yang bermacam-macam dan lain sebagainya. Hal itu ditegaskan dalam QS. Al Isra ayat 21, bahwa Allah swt berfirman “Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain)…”.
.
Imam Abi Fida Ismail ibn Katsir, dalam tafsirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, menjelaskan bahwa maksud “dilebihkan antara satu di atas yang lainnya” adalah adanya fakir dan kaya, adanya baik dan buruk, bahkan ada yang meninggal waktu kecil ada juga yang dipanjangkan umurnya. Selain itu, juga bermakna kita diberikan kesempatan untuk belajar dimanapun, itu juga karunia Allah swt. Kita diberikan kesempatan beribadah atau tidak, dengan puasa dan tidak puasa, itu juga karunia Allah swt, bahwa Allah hendak menyatakan ayat-ayat nya.
.
Namun dibalik semua itu, yang terpenting adalah bagaimana kita dalam bersikap, sebagai hamba di sisi Allah swt, dengan penciptaan yang berbeda-beda ini. Sebagaimana Allah swt pertegas dengan kalam Nya, dalam QS. Al Isra’ ayat 84, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”
.
Dan ternyata memang benar yang mendatangkan kemuliaan dan keridhaan di sisi Allah, bukan karena siapa kita dan dimana kita. Namun jauh dari itu apa yang kita niatkan dan lakukan. Maka kita tidak bisa menilai sebenarnya, apakah yang berpuasa itu lebih baik, atau yang tidak berpuasa? apakah yang ‘alim terhadap agama adalah yang baik atau yang biasa saja? semua jawabannya ada di sisi Rabb al ‘Izzah.
.
Apakah kita akan menilai buruk, ketika Rasulullah saw bersama para sahabat kalah dalam perang Uhud. Tentu tidak, ternyata hal itu menjadi pelajaran berharga bagi umat muslim untuk bangkit kembali dan menjadi lebih kuat. Sehingga tidak ada kekalahan setelah itu, yang diperoleh hanyalah kemenangan dan keberhasilan. Maka sekali lagi Allah swt ingatkan dalam firmannya QS. Ali Imran ayat 140, “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).”
.
Manusia digilirkan untuk menang dan kalah, untuk bahagia dan sedih. Namun yang beruntung adalah yang bersyukur.
.
Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS. Al-An’am: 53)
.
Syukurilah keadaanmu sekarang, dan mulailah untuk melangkah.

5 Adab Menuntut Ilmu

Adab lebih tinggi derajatnya daripada Ilmu (الادب فوق العلم)
AL- ADAB FAUQOL ILMI
TANCAPKAN PADA HATIMU RASA HORMAT PADA MEREKA YANG SUDAH TUA UMURNYA APAPUN STATUS MEREKA
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba- Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.
Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali KW sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan – di depan beliau – ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Sayyidina Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Sayyidina Ali KW akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani. Pada saat Sayyidina Ali KW masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku’. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku’ bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku’nya hingga kira- kira dua ruku’. Kemudian Sayyidina Ali KW ber- takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku’. Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku’ selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku’ dan hendak bangkit dari ruku’ tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku’. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.
Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama’ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku’ sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama’ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama’ah selesai.
Demikianlah hikmah kisah teladan Sayyidina Ali KW yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua