Sa’id bin Amir – Gubernur yang Menangis Saat Jadi Pemimpin
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, banyak daerah baru membutuhkan pemimpin. Di antara nama-nama calon pejabat, Umar menunjuk seorang sahabat bernama Sa’id bin Amir untuk menjadi gubernur di wilayah Hims, Suriah.
Namun, yang menarik adalah: Sa’id tidak meminta jabatan itu. Bahkan ia berat menerimanya.
Ia berkata kepada Umar, “Jangan uji aku dengan fitnah dunia, wahai Amirul Mukminin.”
Tetapi Umar bersikeras, karena ia mengenal Sa’id sebagai orang yang jujur, adil, dan amanah.
Hidup Sederhana di Tengah Kekuasaan
Setelah beberapa waktu menjabat, warga Hims datang kepada Umar untuk menyampaikan aduan tentang gubernur mereka. Umar mempersilakan mereka bicara.
Beberapa keluhan yang disampaikan:
-
Sa’id jarang keluar rumah.
-
Ia tidak langsung merespon ketika diminta bantuan.
-
Terkadang ia tidak terlihat sepanjang hari.
Umar memanggil Sa’id dan menanyakan semua keluhan itu.
Dengan tenang Sa’id menjawab:
-
Aku tidak keluar pagi-pagi karena aku tidak memiliki pembantu, aku harus menyiapkan sendiri kebutuhan keluargaku.
-
Aku tidak langsung keluar karena sebelum itu aku harus menyucikan diri dan salat.
-
Aku tidak terlihat seharian karena pada hari itu aku tidak punya pakaian selain yang aku pakai, dan harus aku cuci sendiri.
Umar menangis mendengar penjelasan itu. Ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Sa’id. Aku tidak akan meragukanmu lagi.”
Menolak Gaji Demi Rasa Takut kepada Allah
Umar menawarkan gaji untuk jabatan gubernur. Tapi Sa’id menolaknya, dan memilih hidup dari usaha kecilnya.
Ia takut harta dari jabatan akan memberatkan hisabnya kelak.
Nilai Keteladanan Sa’id bin Amir
-
Tidak ambisius terhadap jabatan
-
Hidup sederhana dan penuh tanggung jawab
-
Takut kepada Allah melebihi kenikmatan dunia
-
Adil dan tidak mudah tergoda oleh kekuasaan
Sa’id bin Amir mengajarkan bahwa pemimpin yang baik bukan hanya cerdas dan berani, tetapi juga bersih hatinya, tidak haus pujian, dan takut akan amanah yang dipikul.
Dalam dunia hari ini, keteladanan seperti ini sangat langka, tapi tetap mungkin dicontoh—setidaknya dimulai dari diri sendiri, dalam lingkup keluarga, sekolah, pekerjaan, atau komunitas kecil.