Di antara para sahabat Nabi ﷺ, ada seorang pemuda cerdas yang memiliki peran besar dalam sejarah Islam, yaitu Zaid bin Tsabit. Ia dikenal sebagai penulis wahyu dan tokoh penting dalam proses penghimpunan Al-Qur’an.
Kecerdasan Sejak Muda
Zaid bin Tsabit masih berusia belasan tahun ketika mulai dikenal oleh Rasulullah ﷺ. Ketika itu, ia memiliki kemampuan luar biasa dalam menulis dan menghafal. Bahkan, Rasulullah ﷺ pernah memintanya untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, agar mampu memahami surat-surat yang datang dari luar. Dalam waktu singkat, Zaid pun menguasainya.
Penulis Wahyu Rasulullah ﷺ
Setiap kali wahyu turun, Rasulullah ﷺ memanggil Zaid untuk menuliskannya. Ia menjadi saksi langsung proses turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, dan mencatatnya di pelepah kurma, tulang, maupun kulit.
Kesungguhannya menjadikan Zaid salah satu sahabat yang paling paham urutan dan isi Al-Qur’an.
Penghimpun Al-Qur’an
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, banyak para penghafal Al-Qur’an gugur di medan perang. Umar bin Khattab mengusulkan agar Al-Qur’an dihimpun dalam satu mushaf. Abu Bakar kemudian menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai pemimpin tim pengumpulan Al-Qur’an.
Zaid sempat merasa berat karena tugas ini sangat besar, tetapi akhirnya ia menerima amanah tersebut. Dengan teliti, ia mengumpulkan ayat-ayat dari berbagai sahabat, mencocokkannya dengan hafalan, hingga tersusunlah mushaf pertama.
Pada masa Utsman bin Affan, Zaid kembali dipercaya untuk menyusun mushaf standar yang kemudian disalin dan disebarkan ke berbagai wilayah Islam.
Nilai Keteladanan Zaid bin Tsabit
-
Kecerdasan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
-
Ketekunan serta kehati-hatian dalam menjaga Al-Qur’an.
-
Amanah dalam melaksanakan tugas yang sangat berat.
Kisah Zaid bin Tsabit memberi pelajaran bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga agama. Dari tangannya, Al-Qur’an terhimpun dan terjaga hingga hari ini.