Abdullah bin Abbas – Lautan Ilmu dari Keluarga Nabi

Di antara para sahabat muda Nabi ﷺ, Abdullah bin Abbas menonjol karena kecerdasannya dan keluasan ilmunya. Rasulullah ﷺ sendiri pernah mendoakannya dengan doa yang agung:

“Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir Al-Qur’an.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Doa itu menjadi nyata — Abdullah bin Abbas tumbuh menjadi salah satu ulama besar di kalangan sahabat, hingga dijuluki “Habrul Ummah” (lautan ilmu umat ini).


Masa Muda yang Penuh Berkah

Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasulullah ﷺ. Sejak kecil, ia tumbuh dekat dengan Nabi, sering ikut ke masjid, dan memperhatikan setiap ucapan beliau. Ia baru berusia sekitar 13 tahun ketika Rasulullah ﷺ wafat, namun semangat belajarnya begitu luar biasa.

Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Ibnu Abbas mendatangi sahabat-sahabat senior untuk mempelajari hadis dan tafsir. Ia tidak segan-segan menunggu di depan rumah mereka hingga tertidur di depan pintu, hanya demi mendapatkan satu hadis.


Keilmuan yang Dihormati

Karena ketekunannya, para sahabat pun mengakui keluasan ilmunya. Umar bin Khattab sering memanggil Ibnu Abbas dalam majelis para senior, meskipun usianya masih muda. Ketika ditanya alasannya, Umar menjawab,

“Dia memiliki akal yang tajam dan hati yang cerdas.”

Ibnu Abbas menjadi rujukan dalam menafsirkan Al-Qur’an, memahami hukum, dan menjelaskan makna ayat-ayat dengan mendalam.


Kerendahan Hati dan Akhlak Mulia

Meski berilmu tinggi, Ibnu Abbas tetap rendah hati. Ia sering berkata,

“Ilmu tidak akan diperoleh oleh orang yang malu dan orang yang sombong.”

Sikapnya yang lembut dan penuh kasih menjadikannya guru yang dicintai banyak murid, termasuk para tabi’in besar seperti Mujahid dan Ikrimah.


Nilai Keteladanan Abdullah bin Abbas

  • Semangat menuntut ilmu sejak muda.

  • Kerendahan hati dalam berilmu dan berdakwah.

  • Ketekunan dalam menjaga dan memahami Al-Qur’an serta Sunnah.


Kisah Abdullah bin Abbas mengajarkan bahwa ilmu tidak datang dengan mudah. Diperlukan kesabaran, rasa hormat kepada guru, dan tekad kuat untuk memahami agama. Dari seorang pemuda yang tekun belajar, lahirlah “lautan ilmu” yang menerangi peradaban Islam.

Scroll to Top