“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Tafsir dan Penjelasan
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini merupakan janji Allah yang pasti: siapa pun yang bersyukur atas nikmat, baik kecil maupun besar, maka Allah akan menambah nikmatnya.
Sebaliknya, jika seseorang kufur dan tidak mengakui kebaikan Allah, maka nikmat itu akan dicabut dan diganti dengan kesempitan hidup.
Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tapi meliputi tiga bentuk:
-
Syukur dengan hati, dengan meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
-
Syukur dengan lisan, dengan memuji dan mengingat Allah.
-
Syukur dengan amal, dengan menggunakan nikmat untuk taat kepada-Nya.
Pelajaran dari Ayat Ini
-
Syukur memperluas rezeki dan ketenangan.
Nikmat yang dijaga dengan syukur tidak akan hilang, bahkan akan bertambah. -
Kufur nikmat menutup pintu kebaikan.
Tidak bersyukur membuat hati keras dan sulit menerima kebahagiaan. -
Syukur harus diwujudkan dalam tindakan.
Ucapan syukur tanpa amal hanya sebatas kata, bukan bukti iman.
Refleksi
Sering kali manusia hanya ingat bersyukur saat nikmat besar datang, tapi lupa ketika diberi nikmat kecil seperti kesehatan, udara, dan ketenangan.
Padahal, Allah tidak menilai besarnya nikmat, tapi keikhlasan hati dalam mensyukurinya.
Syukur bukan hanya “terima kasih” di lisan, tapi juga kesadaran bahwa semua milik Allah dan harus digunakan di jalan yang benar.
Penutup
Syukur adalah kunci bertambahnya nikmat dan terjaganya kebahagiaan hidup.
Dengan bersyukur, hati menjadi tenang, hidup terasa cukup, dan hubungan dengan Allah semakin dekat.
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)