Kutipan Ayat
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Tafsir Singkat
Ayat ini menegaskan bahwa rezeki selalu datang bagi orang yang menjaga ketakwaan, sekalipun dari arah yang tidak pernah ia prediksi. Inilah gambaran perjalanan hidup Al-Miqdad bin Al-Aswad, salah satu sahabat yang pernah berada dalam kesulitan ekonomi ekstrem namun bangkit melalui usaha, kerja keras, dan keteguhan hati.
Kisah Keteladanan Al-Miqdad
Al-Miqdad bukan berasal dari keluarga kaya. Ia pernah mengalami masa hidup yang penuh perjuangan, termasuk menjadi orang yang tidak memiliki banyak harta ketika masuk Islam. Namun ia tidak menyerah dan tidak bergantung pada orang lain. Ia memilih bekerja keras, mengembangkan keterampilan, dan mencari penghasilan sendiri.
Di antara keunggulannya adalah kemampuannya dalam berkuda dan berburu, sebuah keahlian yang kemudian menjadi sumber penghidupan sekaligus kontribusinya dalam pasukan Islam. Ia melatih diri untuk mahir dalam berbagai pekerjaan berat sehingga tidak menjadi beban bagi siapa pun. Rasulullah ﷺ bahkan pernah memuji Miqdad sebagai salah satu sahabat yang memiliki keberanian, kemandirian, dan ketegasan dalam prinsip.
Kemandiriannya juga tercermin ketika kaum muslimin kekurangan makanan. Ia tidak mengeluh, tidak meminta, tetapi mencari solusi. Ia berburu, mengumpulkan hasil, dan membagikannya kepada kaum muslimin yang membutuhkan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
-
Kemandirian adalah modal besar dalam hidup dan usaha.
-
Kesulitan bukan alasan untuk berhenti; ia bisa menjadi batu loncatan.
-
Setiap keterampilan dapat menjadi sumber rezeki jika ditekuni dengan serius.
-
Jangan menjadi beban orang lain jika kita mampu berusaha sendiri.
-
Keberanian mengambil peran juga mendatangkan peluang rezeki.
Refleksi
Dalam dunia wirausaha, sering kali orang merasa tidak bisa maju karena tidak punya modal. Miqdad menunjukkan bahwa modal terpenting bukan uang, melainkan kemauan belajar, kerja keras, dan keteguhan prinsip. Dari tidak punya apa-apa, ia menjadi salah satu sahabat paling dihormati.
Penutup
Perjalanan Al-Miqdad mengingatkan kita bahwa siapa pun bisa bangkit dari kesulitan. Yang penting adalah kemauan bekerja, kejujuran, dan tidak bergantung pada orang lain. Kemandirian seperti inilah yang menjadi fondasi kuat bagi seorang muslim yang ingin sukses dalam hidup dan usaha.