Kutipan Ayat
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)
Tafsir Singkat
Ayat ini menekankan pentingnya keadilan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam bermuamalah dan berbisnis. Keadilan bukan sekadar hukum, melainkan prinsip moral yang menjadi fondasi keberkahan rezeki. Sa’id bin Zaid, salah satu sahabat utama yang dijamin masuk surga, menjalankan prinsip ini dalam seluruh urusan ekonominya.
Kisah Keteladanan Sa’id bin Zaid
Sa’id bin Zaid berasal dari keluarga terpandang, namun kehidupannya tidak selalu mudah. Ia tumbuh dari rumah yang berpegang pada prinsip tauhid—ayahnya, Zaid bin Amr, adalah salah satu pencari kebenaran sebelum Islam. Nilai itu kemudian membentuk karakter Sa’id dalam bermuamalah.
Sebagai seorang pedagang, Sa’id dikenal ** sangat menjunjung kejujuran dan anti terhadap kecurangan**. Ia menolak untuk memperdaya pembeli, tidak menaikkan harga secara zalim, dan tidak mengambil manfaat dari kesulitan orang lain. Bahkan ketika ia memiliki kesempatan untuk meraih keuntungan besar, Sa’id memilih jalan yang paling bersih daripada jalan yang meragukan.
Ada satu kisah terkenal tentang dirinya yang menunjukkan integritas luar biasa. Dalam sebuah sengketa lahan yang melibatkan dirinya, meskipun ia yakin bahwa tanah itu miliknya, Sa’id tetap menghindari mengambil hak yang ia rasa belum jelas. Ia memilih jalan aman dan menyerahkan kepemilikan itu daripada terjerumus pada kezhaliman sekecil apa pun. Sikap ini kemudian menjadi pelajaran besar tentang kehati-hatian dalam harta.
Dalam bisnis, Sa’id dikenal tidak mengejar popularitas. Ia tidak memamerkan kebaikannya, tidak mencari pujian, dan tidak menjadikan kekayaan sebagai simbol status. Ia bekerja seperlunya, mencukupi keluarganya, dan membantu orang lain dalam diam.
Pelajaran yang Dapat Diambil
-
Keadilan adalah modal yang lebih besar daripada keuntungan materi.
-
Rezeki yang bersih lebih berkah daripada keuntungan besar yang meragukan.
-
Integritas dalam bisnis menumbuhkan reputasi jangka panjang.
-
Tidak semua peluang harus diambil—lebih baik memilih yang halal, jelas, dan aman.
Refleksi
Sa’id bin Zaid mengingatkan kita bahwa kekayaan bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang bagaimana ia diperoleh. Di tengah dunia usaha modern yang kadang penuh manipulasi, keteladanan Sa’id menjadi contoh bahwa berbisnis dengan adil tetap mungkin, tetap mulia, dan tetap membawa berkah.
Penutup
Keberhasilan tidak hanya diukur melalui hasil, tetapi melalui cara mencapainya. Sa’id bin Zaid menunjukkan bahwa keberkahan rezeki datang dari integritas, kejujuran, dan kehati-hatian dalam setiap keputusan ekonomi.