Kutipan Ayat
“Tidak satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qāf: 18)
Tafsir dan Penjelasan
Ayat ini menjelaskan bahwa setiap ucapan manusia—baik yang kecil, spontan, serius, atau bercanda—semuanya dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Para mufasir seperti Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat ini adalah bentuk pengingat agar manusia berhati-hati dalam berbicara.
Islam melihat lisan sebagai salah satu sumber kebaikan terbesar, sekaligus pintu kerusakan jika tidak dijaga. Dalam banyak hadis, Nabi ﷺ menekankan bahwa kualitas iman seseorang sangat terlihat dari cara ia berbicara.
Lisan mampu:
-
Menyembuhkan hati atau melukainya,
-
Menyatukan manusia atau memecah-belah,
-
Membangun pahala atau menjerumuskan dalam dosa.
Karena itu Allah memberikan “pengawasan khusus” pada setiap kata yang keluar dari mulut manusia.
Pelajaran Penting
-
Setiap ucapan memiliki konsekuensi. Tidak ada kata yang terbuang sia-sia.
-
Ucapan baik adalah amal jariyah. Senyum, nasihat, doa, dan kata yang menguatkan—semua dicatat sebagai kebaikan.
-
Menghindari ghibah, fitnah, dan caci maki adalah bentuk ketakwaan.
-
Diam kadang lebih baik. Jika ucapan tidak membawa manfaat, diam adalah pilihan paling bijak.
-
Mengontrol lisan adalah tanda kedewasaan iman.
Refleksi
Seberapa sering kita berbicara tanpa berpikir?
Di era media sosial, satu kalimat bisa tersebar luas, mempengaruhi banyak orang. Ayat ini mengingatkan bahwa bukan hanya yang tertulis di dunia maya yang terekam—tetapi juga yang tercatat di sisi Allah.
Cobalah bertanya pada diri sendiri:
-
Apakah kata-kataku hari ini membawa manfaat?
-
Apakah lisanku lebih banyak menyakiti atau menguatkan orang lain?
-
Apakah aku akan menyesal jika ucapanku diperdengarkan kembali pada hari akhir?
Penutup
Menjaga lisan berarti menjaga diri dari dosa yang tidak terasa. Setiap kata memiliki nilai, dan setiap nilai akan kembali kepada kita. Jadikan ayat ini sebagai pengingat untuk berhati-hati dalam berbicara, serta menjadikan lisan sebagai penyebar kebaikan, bukan keburukan.