Menepati Janji sebagai Cermin Iman: Tafsir QS. Al-Ma’idah Ayat 1

Kutipan Ayat

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji itu…”
(QS. Al-Mā’idah: 1)


Tafsir dan Penjelasan

Ayat ini dibuka dengan seruan langsung kepada orang-orang beriman, yang menunjukkan bahwa menepati janji adalah bagian dari keimanan. Menurut tafsir Ibnu Katsir, janji yang dimaksud dalam ayat ini bersifat luas, mencakup janji kepada Allah dan janji kepada sesama manusia.

Janji kepada Allah meliputi ketaatan terhadap perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta komitmen menjalankan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Sementara janji kepada manusia mencakup akad, kesepakatan, tanggung jawab, dan amanah dalam kehidupan sosial.

Para ulama tafsir menegaskan bahwa Islam sangat menekankan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Seseorang yang mudah berjanji tetapi lalai menepatinya menunjukkan kelemahan akhlak dan iman, meskipun lisannya terlihat baik.


Pelajaran Penting

  1. Menepati janji adalah kewajiban, bukan pilihan.

  2. Janji mencerminkan karakter dan integritas seseorang.

  3. Pengingkaran janji merusak kepercayaan dan hubungan sosial.

  4. Islam memandang janji sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

  5. Keimanan terlihat dari konsistensi, bukan sekadar pengakuan.


Refleksi

Dalam kehidupan sehari-hari, janji sering dianggap sepele: janji waktu, janji pertemuan, atau janji tanggung jawab. Padahal dalam Islam, setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban, baik besar maupun kecil.

Ayat ini mengajak kita untuk lebih berhati-hati sebelum berjanji, dan lebih bersungguh-sungguh dalam menepatinya. Lebih baik sedikit berjanji tetapi ditepati, daripada banyak berjanji namun diingkari.


Penutup

QS. Al-Ma’idah ayat 1 mengajarkan bahwa keimanan sejati tercermin dari sikap bertanggung jawab dan konsisten. Menepati janji bukan hanya menjaga hubungan dengan manusia, tetapi juga menjaga hubungan dengan Allah.

Scroll to Top