Pendahuluan
Sejarah manusia tidak pernah lepas dari konflik dan peperangan. Dari perang antar suku, ekspansi kekaisaran, hingga perang berskala global seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II, peperangan selalu muncul sebagai bagian dari dinamika peradaban manusia. Dalam Islam, pembahasan tentang perang tidak dilepaskan dari nilai moral, tujuan, dan batasan etis yang ketat. Sirah Nabawiyah—sejarah hidup Rasulullah ﷺ—memberikan perspektif yang sangat kaya tentang bagaimana perang terjadi, bagaimana ia dikelola, dan bagaimana perang diposisikan bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai jalan terakhir untuk menjaga agama, jiwa, dan keadilan.
Isu kontemporer tentang kemungkinan meletusnya Perang Dunia Ketiga kembali mengundang kekhawatiran global. Ketegangan geopolitik, perlombaan senjata, konflik regional yang meluas, dan krisis kemanusiaan menjadi indikator yang sering dikaitkan dengan tanda-tanda akhir zaman. Artikel ini berusaha mengulas fenomena perang dunia dalam perspektif sirah Nabawi: bagaimana perang terjadi dalam sejarah, bagaimana sikap para sahabat dalam peperangan, bagaimana Rasulullah ﷺ menyusun strategi perang, serta bagaimana Islam memandang perang global dalam kaitannya dengan tanda-tanda akhir zaman.
Perang dalam Sejarah Manusia
Perang pada hakikatnya lahir dari berbagai faktor: perebutan sumber daya, perbedaan ideologi, ambisi kekuasaan, dan kegagalan diplomasi. Dalam sejarah modern, Perang Dunia I (1914–1918) dipicu oleh nasionalisme ekstrem dan rivalitas kekuatan besar, sementara Perang Dunia II (1939–1945) lahir dari ketidakadilan politik pasca perang sebelumnya, ideologi totalitarian, dan kegagalan sistem internasional menjaga perdamaian.
Al-Qur’an telah menggambarkan tabiat manusia yang cenderung kepada konflik apabila tidak dikendalikan oleh nilai ketakwaan:
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ
“Sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (QS. Al-Baqarah: 251)
Ayat ini menunjukkan bahwa konflik bisa menjadi bagian dari sunnatullah, namun harus berada dalam koridor keadilan dan pencegahan kerusakan yang lebih besar.
Peperangan dalam Sirah Nabawiyah
Latar Belakang Terjadinya Perang
Peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ bukanlah perang agresi. Seluruh peperangan besar seperti Badar, Uhud, dan Khandaq dilatarbelakangi oleh penindasan, pengusiran kaum Muslimin dari Makkah, pelanggaran perjanjian, dan ancaman nyata terhadap eksistensi umat Islam.
Allah ﷻ berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi.” (QS. Al-Hajj: 39)
Ayat ini menjadi dasar bahwa perang dalam Islam bersifat defensif dan bertujuan menghilangkan kezaliman.
Sikap Para Sahabat dalam Peperangan
Para sahabat Rasulullah ﷺ menunjukkan akhlak yang luhur dalam peperangan. Mereka berperang bukan karena kebencian personal, melainkan karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Disiplin, keberanian, dan kepatuhan terhadap komando Rasulullah ﷺ menjadi ciri utama.
Dalam Perang Badar, misalnya, para sahabat yang jumlahnya jauh lebih sedikit tetap teguh karena keyakinan mereka kepada pertolongan Allah. Allah berfirman:
كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ
“Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 249)
Para sahabat juga sangat menjaga etika perang: tidak membunuh non-kombatan, tidak merusak tanaman, dan tidak menyiksa tawanan. Prinsip ini kelak menjadi dasar hukum humaniter Islam.
Strategi Perang Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang Nabi, tetapi juga seorang panglima yang sangat cerdas dalam strategi militer. Namun, strategi beliau selalu berpadu dengan nilai spiritual dan kemanusiaan.
- Musyawarah – Dalam Perang Uhud dan Khandaq, Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan para sahabat, menunjukkan pentingnya kolektivitas dalam pengambilan keputusan.
- Intelijen dan Informasi – Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan informasi musuh dan kondisi medan.
- Pertahanan dan Diplomasi – Perang Khandaq adalah contoh strategi defensif yang brilian. Selain itu, Perjanjian Hudaibiyah menunjukkan bahwa diplomasi didahulukan daripada peperangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ
“Janganlah kalian mengharap bertemu musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa perang bukan sesuatu yang diidamkan, melainkan dihindari selama masih ada jalan damai.
Perang Dunia dan Tanda-Tanda Akhir Zaman
Islam mengajarkan bahwa menjelang akhir zaman akan terjadi banyak fitnah, peperangan, dan pertumpahan darah. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الْهَرْجُ
“Kiamat tidak akan terjadi hingga banyak terjadi al-harj (pembunuhan).” (HR. Bukhari)
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa peperangan besar akan terjadi di akhir zaman, termasuk al-Malhamah al-Kubra (perang besar). Sebagian ulama mengaitkan konsep ini dengan perang berskala global, meskipun tidak secara eksplisit menyebut istilah “perang dunia” seperti yang kita kenal saat ini.
Namun, para ulama Ahlus Sunnah menekankan sikap hati-hati dalam mengaitkan peristiwa kontemporer dengan nubuwat akhir zaman. Tidak setiap konflik global dapat langsung dipastikan sebagai tanda besar kiamat, karena fitnah dan peperangan telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah.
Isu Perang Dunia Ketiga dalam Perspektif Islam
Wacana tentang Perang Dunia Ketiga sering muncul akibat eskalasi konflik internasional dan ancaman senjata pemusnah massal. Dalam perspektif Islam, isu ini seharusnya mendorong umat untuk:
- Memperkuat Keimanan dan Akhlak – Fitnah besar menuntut keteguhan iman.
- Mendorong Perdamaian dan Keadilan – Islam memerintahkan ishlah (perdamaian) selama masih memungkinkan.
- Menghindari Sikap Spekulatif Berlebihan – Fokus utama adalah memperbaiki diri dan masyarakat, bukan menebak-nebak waktu kiamat.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” (QS. Al-Anfal: 61)
Penutup
Sirah Nabawiyah memberikan panduan yang sangat komprehensif tentang bagaimana Islam memandang perang: bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana terakhir untuk menegakkan keadilan dan melindungi kemanusiaan. Dalam konteks perang dunia dan isu Perang Dunia Ketiga, umat Islam dituntut untuk bersikap bijak, berpegang pada nilai Al-Qur’an dan Sunnah, serta aktif mendorong perdamaian global.
Peperangan besar boleh jadi termasuk dalam rangkaian tanda akhir zaman, namun yang lebih penting adalah bagaimana manusia—khususnya kaum Muslimin—menyiapkan diri dengan iman, ilmu, dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mencontohkan, kekuatan sejati bukan hanya terletak pada senjata, tetapi pada ketakwaan dan keadilan.
Daftar Rujukan Singkat
- Al-Qur’an al-Karim
- Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim
- Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah
- Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq al-Makhtum
- Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Jihad
_________________________________
Penulis Artikel: Ade Darmawan-Guru di Pondok Pesantren Ruhama Al Fajar