Kumpulan Hadits dan Dalil Tentang Siddiq
HADITS
HR. Bukhari & MuslimHadits 1
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
“‘Alaykum biṣ-ṣidqi fa-innaṣ-ṣidqa yahdī ilal-birri wa innal-birra yahdī ilal-jannati wa mā yazālur-rajulu yaṣduqu wa yataḥarrāṣ-ṣidqa ḥattā yuktaba ‘indallāhi ṣiddīqan…”
Artinya: “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang terus-menerus berlaku jujur dan selalu mengupayakan kejujuran akan dicatat oleh Allah sebagai seorang shiddiq (yang sangat jujur). Jauhilah kedustaan, karena kedustaan membawa kepada kefasikan dan kefasikan mengantarkan ke neraka.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu — Shahih Bukhari No. 6094, Shahih Muslim No. 2607
HR. Tirmidzi — Hasan ShahihHadits 2
إِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَالْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Innaṣ-ṣidqa ṭuma’nīnatun wal-kaẓiba rībah”
Artinya: “Sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan (ketentraman hati), sedangkan kedustaan adalah kegelisahan (keragu-raguan).”
Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu — HR. Tirmidzi No. 2518, dinilai hasan shahih
HR. Abu Dawud & TirmidziHadits 3
عَلَيْكَ بِالصِّدْقِ وَلَا تَكْذِبْ
“‘Alaika biṣ-ṣidqi wa lā takẓib”
Artinya: “Wajib bagimu berlaku jujur dan jangan sekali-kali berdusta.”
Pesan Nabi SAW kepada seorang sahabat. Menunjukkan bahwa siddiq adalah kewajiban setiap Muslim.
HR. BukhariHadits 4
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Ana za’īmun bi-baytin fī rabaḍil-jannati li-man taraka-l-mirā’a wa in kāna muḥiqqan, wa bi-baytin fī wasaṭil-jannati li-man taraka-l-kaẓiba wa in kāna māziḥan…”
Artinya: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan meskipun hanya bercanda, dan sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.”
Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu — HR. Abu Dawud No. 4800, dinilai hasan
HR. MuslimHadits 5
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Āyatul-munāfiqi ṡalāṡun: iẓā ḥaddaṡa kaẓaba, wa iẓā wa’ada akhlafa, wa iẓā-‘tumina khāna”
Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (Kebalikan dari sifat siddiq/jujur adalah kemunafikan yang sangat dicela Islam.)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu — Shahih Bukhari No. 33, Shahih Muslim No. 59
AYAT SUCI AL QURAN
QS. At-Taubah: 119
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa kūnū ma’aṣ-ṣādiqīn”
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).”
Dalil utama perintah Allah agar kaum mukmin senantiasa bersama orang-orang siddiq dan memiliki sifat tersebut.
QS. An-Nisa’: 69
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Wa may yuṭi’illāha war-rasūla fa-ulā’ika ma’allażīna an’amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna wasy-syuhadā’i waṣ-ṣāliḥīn”
Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur/membenarkan), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ayat ini menyebutkan derajat shiddiqin setingkat di bawah para nabi, lebih tinggi dari syuhada dan shalihin.
QS. Al-Ahzab: 70
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa qūlū qaulan sadīdā”
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (tepat/lurus).”
Qaulan sadīdan berarti perkataan yang lurus, tepat sasaran, dan jujur — inti dari sifat siddiq dalam ucapan.
QS. Maryam: 41
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا
“Wažkur fil-kitābi Ibrāhīm, innahu kāna ṣiddīqan nabiyyā”
Artinya: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan (shiddiq) lagi seorang Nabi.”
Allah memuji Nabi Ibrahim AS dengan gelar shiddiq — bukti bahwa siddiq adalah sifat utama para nabi dan kekasih Allah.
QS. Al-Maidah: 119
قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
“Qālallāhu hāẓā yawmu yanfa’uṣ-ṣādiqīna ṣidquhum”
Artinya: “Allah berfirman: ‘Ini adalah hari yang memberikan manfaat bagi orang-orang yang benar atas kebenaran mereka.'”
Dalil bahwa di hari kiamat, kejujuran seseorang selama di dunia akan memberi manfaat dan keselamatan.
QS. Az-Zumar: 33
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Wallażī jā’a biṣ-ṣidqi wa ṣaddaqa bihi, ulā’ika humul-muttaqūn”
Artinya: “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini mengaitkan sifat siddiq (membenarkan kebenaran) dengan derajat ketakwaan yang tinggi.