
Geografi dan Asal-Usul
Syekh Musthafa Husein Nasution lahir pada tahun 1886 sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara, dari pasangan H. Husein Nasution dan Hj. Halimah Lubis. Beliau lahir di Desa Tano Bato, yang kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. BloggerCas
Desa Tano Bato terletak di kawasan pedalaman Mandailing — sebuah lembah subur yang dikelilingi pegunungan Bukit Barisan. Secara geografis, Mandailing berbatasan langsung dengan Sumatera Barat, sehingga arus keilmuan Islam dari Minangkabau dan jalur haji ke Makkah mengalir deras melewati kawasan ini sejak berabad-abad. Desa Purba Baru, yang kelak menjadi pusat perjuangan beliau, berlokasi strategis di jalur lintas Medan–Padang, sekaligus menjadi jalur perdagangan antara Padangsidimpuan dan Natal. Kemlu
Nama asli beliau ketika kecil adalah Muhammad Yatim. Sebelum berangkat ke Makkah, beliau dibimbing oleh Syekh Abdul Hamid Hutapungkut selama kurang lebih tiga tahun. Atas bimbingan Syekh Abdul Hamid inilah muncul semangat pada diri Muhammad Yatim untuk memperdalam ilmu agamanya di Makkah. Cas
Perjalanan Ilmu ke Makkah
Syekh Musthafa Husein menimba ilmu agama di Makkah selama 13 tahun. Di Tanah Suci, beliau belajar kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syekh Abdul Qadir al-Mandily, Syekh Sholeh Bafadil, Syekh Khatib Sambas, Syekh Ahmad Sumbawa, dan Syekh Ali Maliki. Nama “Musthafa” yang menjadi gelarnya diberikan kepadanya di Makkah al-Mukarramah, dan nama inilah yang kemudian diabadikan menjadi nama lembaga pendidikan yang beliau dirikan. Uin-suskaKemlu
Peran dalam Masyarakat:
Pendiri Pesantren Tertua dan Terbesar di Sumatera
Madrasah yang pertama didirikan di Mandailing adalah Madrasah Islamiyah yang dibangun oleh Syekh Musthafa Husein di Tano Bato, Kayu Laut sekitar tahun 1912. Kemudian beliau pindah ke Desa Purba Baru pada tahun 1915, dan di tempat inilah dilanjutkan pendidikan Islam yang kemudian bernama Madrasah/Pondok Pesantren Musthafawiyah. Perpindahan ini terjadi karena Tano Bato dilanda banjir bandang pada tahun 1915. Tribun NewsCas
Bidang pendidikan Islam yang diajarkan Syekh Musthafa Husein di pesantrennya meliputi: Ulumul Qur’an, Tafsir, Ulumul Hadits, Mushtholahul Hadits, Bahasa Arab dan tata bahasanya (Nahwu dan Sharaf), Fiqih, Ushul Fiqih, Tauhid, Ilmu Falak, Balaghah, Tasawuf, dan Berzanji. Kompas
Pelopor Inovasi Sistem Pendidikan Islam
Pada tahun 1931, di Madrasah Musthafawiyah, Syekh Musthafa Husein mengimplementasikan serangkaian inovasi dalam pendidikan. Selain mengubah sistem pendidikan dan pengajaran dari metode halaqah menjadi metode klasikal, juga dilakukan pembangunan gedung madrasah secara permanen. Langkah ini sangat berani untuk zamannya dan menjadi penanda lahirnya sistem pendidikan Islam modern di Sumatera. Kompas
Ulama Organisatoris dan Tokoh Pergerakan Nasional
Syekh Musthafa Husein bukan sekadar ulama mimbar, tetapi juga seorang organisatoris ulung. Pada tahun 1915, beliau menjadi Ketua Syarikat Islam cabang Tanobato. Pada tahun 1945, beliau diangkat menjadi Penasehat Majelis Islam Tinggi Sumatera Utara dan menjadi Anggota Komite Nasional Pusat di Sipaholan. Pada tahun 1952, beliau diangkat sebagai anggota Syuriah NU pusat. Blogger
Syekh Musthafa Husein tidak hanya seorang ulama besar, tetapi juga seorang wiraswasta, politikus, dan cendekiawan yang ikut menghantarkan kemerdekaan bangsa ini dari kolonialisme Belanda dan Jepang. Tribun News
Pendiri NU Sumatera Utara
Pada tahun 1939, atas inisiatif dan anjuran Syekh Musthafa Husein, dibentuk organisasi Islam yang bersifat sosial bernama Al-Ittihadidul al-Islamiyyah (AII), yang merupakan perkumpulan bagi alumni pesantren Musthafawiyah Purbabaru. Organisasi ini sangat cepat berkembang di daerah Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, dan seluruh wilayah Tapanuli Selatan. Pada tahun 1940, diadakan kongres pertama di Purba Baru yang dihadiri 62 cabang. Organisasi inilah yang menjadi dasar berdirinya Nahdlatul Ulama Sumatera Utara di Padangsidimpuan pada tahun 1947. ARZUSIN
Pada tanggal 9 Februari 1947, Nahdlatul Ulama Sumatera Utara resmi berdiri pertama kali di Kota Padangsidimpuan. Syekh Musthafa Husein terpilih menjadi Rais Syuriah pertama, dan Pesantren Musthafawiyah Purba Baru menjadi pusat organisasi NU di Sumatera. Uin-suska
Pengaruh terhadap Masyarakat:
Contoh Nyata: Penghargaan dari Pemerintah Kolonial Belanda
Besarnya pengaruh Syekh Musthafa Husein diakui bahkan oleh pihak yang seharusnya menjadi lawannya. Tahun 1936, pemerintah Belanda memberikan bintang jasa kepadanya atas usahanya dalam bidang pendidikan. Sebuah pengakuan yang luar biasa — penjajah pun terpaksa mengakui jasa seorang ulama yang justru mendidik rakyat untuk bangkit dari kebodohan di bawah cengkeraman kolonialisme. Tribun News
Contoh Nyata: Pesantren yang Melahirkan 40 Pesantren Baru
Warisan terbesar Syekh Musthafa Husein dapat dilihat dari luasnya persebaran alumni Musthafawiyah. Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru telah memiliki alumni yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Banyak alumni Musthafawiyah yang melanjutkan kuliah ke berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri dan telah berhasil di berbagai bidang. Penelitian Musa (2023) yang telah dikutip dalam artikel sebelumnya mencatat bahwa tidak kurang dari 40 pesantren di Tapanuli Selatan didirikan oleh alumni Musthafawiyah, dan ratusan lainnya tersebar di luar Sumatera Utara. Tribun News
Contoh Nyata: Konferensi Besar yang Dihadiri Lebih dari Seribu Orang
Konferensi besar murid dan lulusan Madrasah Musthafawiyah berlangsung pada bulan Februari 1952 di Purba Baru, Mandailing, dihadiri lebih dari seribu orang, dan dihadiri pula oleh pejabat pemerintah, termasuk Raja Djundjungan Lubis, Bupati Tapanuli Selatan saat itu. Ribuan orang berkumpul dari berbagai penjuru untuk merayakan sebuah pesantren — ini adalah bukti nyata betapa besar pengaruh beliau. ARZUSIN
Contoh Nyata: Namanya Diabadikan di UIN Sumatera Utara
Saat ini, nama Syekh Musthafa Husein diabadikan pada salah satu gedung utama di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Medan. Pengabadian nama seorang ulama di sebuah universitas negeri adalah pengakuan tertinggi dari negara atas sumbangsih beliau kepada pendidikan Islam Indonesia. Tribun News
Penutup
Ulama bersahaja itu akhirnya menghembuskan napas yang terakhir pada hari Rabu, 16 November 1955 / 1 Rabiulawal 1375 H, pukul 16.15 WIB di Padangsidimpuan. Jenazahnya dibawa kembali ke Purba Baru pada hari Kamis esoknya, dengan iringan yang cukup ramai disertai sambutan penuh haru dan rasa pilu yang mendalam. Desa Purba Baru penuh sesak oleh ribuan orang pelayat yang datang dari berbagai daerah sebagai tanda turut berduka dan untuk memberikan penghormatan terakhir. Tribun News
Syekh Musthafa Husein Nasution adalah bukti bahwa seorang anak desa yang lahir dari keluarga sederhana di Tano Bato, dengan tekad dan keikhlasan yang membaja, mampu mengubah wajah peradaban Islam di Sumatera. Dari Makkah ia membawa ilmu, dari Purba Baru ia menebarkan cahayanya ke seluruh Nusantara — dan pesantren yang ia dirikan lebih dari satu abad lalu masih berdiri kokoh hingga hari ini sebagai saksi bisu keagungan cita-citanya.