
Biografi Singkat
Syekh Haji Abdul Qadir bin Abdul Muthalib bin Hassan Al-Mandili lahir pada 1329 H (1910 M) di Desa Sigalapang, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dari keluarga petani yang sederhana. Wikipedia
Setelah menamatkan sekolah Belanda pada 1923, hasrat ilmunya membawanya merantau ke Kedah, Malaysia, untuk belajar di beberapa pondok pesantren terkemuka. Selama lebih dari satu dekade ia menimba ilmu di sana, hingga akhirnya diangkat sebagai guru di Pondok Titi Gajah — bukti nyata kedalaman ilmunya. Pada 1355 H (1936 M), ia bertolak ke Makkah Al-Mukarramah, berguru kepada belasan ulama besar Tanah Suci, lalu mendapat izin mengajar di Masjidil Haram selama hampir tiga puluh tahun. Ia wafat pada 20 Rabi’ul Tsani 1385 H dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Ma’la, Makkah Al-Mukarramah. WikipediaWikipedia
Kisah Paling Mashur: Menolak Tiga Tawaran Besar demi Masjidil Haram
Inilah kisah yang paling sering dikenang para murid dan sejarawan — cermin paling jernih dari ketawadhuannya.
Ketika namanya sudah harum sebagai pengajar di Masjidil Haram, datanglah tiga tawaran sekaligus: posisi guru agama di Cape Town Afrika Selatan, tawaran Presiden Soekarno sebagai Mufti Indonesia, dan tawaran Raja Arab Saudi sebagai Qadhi Al-Qudat (Hakim Agung) dengan gaji yang sangat besar. Wikipedia
Tiga jabatan bergengsi. Tiga kesempatan emas yang bagi kebanyakan orang adalah puncak karier seorang ulama. Namun Syekh Abdul Qadir menolak ketiganya. Ia lebih memilih konsentrasi mengajar di Masjidil Haram, sesuai gelar yang ia pilih sendiri: “Khuwaidam Talabah al-Ilmu as-Syarif bil Harami al-Makki” — Khadam kecil bagi penuntut ilmu di Masjidil Haram. Wikipedia
Seorang ulama yang dihormati presiden dan raja, memilih menyebut dirinya “pelayan kecil.” Inilah tawadhu yang bukan sekadar ucapan, melainkan pilihan hidup yang paling nyata.
Peran dalam Masyarakat dan Pengaruhnya
Majelis pengajiannya di sisi Bab Al-Umrah selalu dihadiri tidak kurang dari 200 pelajar setiap sesi, mencakup berbagai disiplin ilmu: fiqih, nahwu, sharaf, balaghah, hadis, tafsir, dan lainnya. Murid-muridnya datang dari seluruh Nusantara, Malaysia, hingga Thailand. Wikipedia
Ia juga aktif menulis, menghasilkan sekitar 24 karya dalam bahasa Melayu dan Arab, meliputi bidang ushuludin, fiqih, akhlak, hingga pemikiran politik Islam — termasuk pembahasan tentang kapitalisme, sosialisme, dan komunisme. Kitab-kitabnya hingga kini masih dicetak ulang dan menjadi kurikulum di pesantren-pesantren Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Wikipedia
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Dari perjalanan hidup Syekh Abdul Qadir Al-Mandili, setidaknya ada empat hikmah yang layak kita renungkan.
Pertama, ilmu adalah perjalanan tanpa henti. Ia tidak berhenti belajar bahkan ketika sudah cukup mumpuni untuk mengajar. Kedua, tawadhu bukan sekadar kata, melainkan pilihan hidup — dibuktikan dengan menolak jabatan-jabatan tinggi demi tetap menjadi “pelayan” para penuntut ilmu. Ketiga, keikhlasan dalam mengajar adalah warisan yang paling tahan lama; kitab-kitabnya yang masih dibaca enam puluh tahun setelah wafatnya adalah buktinya. Keempat, kesederhanaan asal-usul bukan penghalang kemuliaan — dari anak petani di pedalaman Sumatera, hingga ulama yang mengajar di masjid paling mulia di dunia.
Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia, Majalah Alkisah (Januari 2014), Muslim.or.id, dan buku Syeikh Abdul Qadir Al-Mandaili (1910–1965): Biografi dan Pendidikan Akhlak karya Prof. Madya Dr. Ramli Awang, Universitas Teknologi Malaysia.