Syekh Muhammad Ja’far Abdul Qadir Al-Mandili: Ulama Penghafal Al-Qur’an dari Rahim Keluarga Ulama

Gambar 1: Tuan Syekh Muhammad Ja’far Abdul Qadir Al-Mandili (1896 – 1958 M)

Biografi Singkat

Syekh Muhammad Ja’far bin Abdul Qadir Al-Mandili lahir di Makkah pada tahun 1314 H/1896 M. Ia adalah anak ketiga dari ayahnya yang bernama Abdul Qadir dan ibunya yang bernama Syarifah Lubis. Ayahnya, Syekh Abdul Qadir Al-Mandili, adalah seorang alim besar kelahiran Mandailing Natal yang sejak kecil tinggal dan menimba ilmu di Tanah Haram. Keilmuan Syekh Abdul Qadir inilah yang menjadi salah satu dasar Syekh Muhammad Ja’far dalam mendalami ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an. LpmqkemenagLpmqkemenag

Selain orang tuanya sendiri, Syekh Ja’far juga menimba ilmu dari sejumlah ulama besar seperti Ahmad Al-Baghdadi, Syekh Abdullah Sanggura, Syekh Ibrahim Fida Misri, Syekh Abdurrahman Dahhan, dan beberapa alim di Makkah, Madinah, serta Thaif. Lpmqkemenag

Setelah ilmunya matang, ia meninggalkan kawasan Ajyad, Jabal Banat — pemukiman dekat Masjidil Haram tempat ia tumbuh besar — untuk menjawab panggilan tanah leluhurnya di Mandailing. Ketika Syekh Ja’far menginjakkan kaki di Panyabungan sekitar tahun 1920-an, kondisi sosial masyarakat masih didominasi kaum bawah, infrastruktur sangat minim, jalan berupa batu kerikil tanah padat, belum ada listrik, apalagi telepon. Start News

Syekh Ja’far wafat setelah salat Ashar pada Rabu, 3 Desember 1958, dalam usia 62 tahun. Jenazahnya diangkat dari tangan ke tangan hingga ke pemakaman Banjar Kobun, Panyabungan II, tanpa menggunakan keranda — sebuah penghormatan tulus dari masyarakat yang mencintainya. LpmqkemenagStart News


Kisah Paling Mashur: Menguji Hafalan dari Balik Tirai di Tengah Malam

Di antara kisah-kisah yang paling berkesan dari kehidupan Syekh Ja’far adalah metode pengajaran tahfiznya yang unik dan ketat — sebuah kisah yang sampai kini masih sering dikisahkan para murid dan keturunannya.

Kegiatan setoran tahfiz dilakukan di rumahnya setelah salat Isya. Antrean santri bergantian menyetorkan hafalan kepada Syekh dari balik tirai, dan setiap kesalahan hafalan ditandai dengan bunyi ketukan papan oleh Syekh. Setelah masing-masing santri menyelesaikan setorannya, Syekh meminta mereka membaca dua maqra’ untuk memeriksa kualitas hafalannya. Lpmqkemenag

Namun yang paling dikenang — dan sering dikisahkan dengan senyum oleh para muridnya — adalah cara Syekh Ja’far menguji hafalan di luar waktu yang ditentukan. Salah satu cara Syekh Ja’far dalam menguji hafalan santrinya adalah dengan membangunkan santri dari tidur dan langsung memintanya untuk melanjutkan bacaan ayat Al-Qur’an. Lpmqkemenag

Bagi Syekh Ja’far, hafalan yang sesungguhnya adalah hafalan yang melekat bahkan di saat pikiran paling lemah — di antara kantuk dan tidur. Inilah standar yang ia terapkan, bukan sekadar hafalan untuk dipertunjukkan di depan majelis, melainkan hafalan yang benar-benar menyatu dalam jiwa.

Menurut Syekh Ja’far, seseorang yang ingin menghafal Al-Qur’an harus konsentrasi dan fokus. Oleh karena itu, ia melarang orang yang ingin menghafal Al-Qur’an untuk sekolah atau melakukan kegiatan lain yang menyita waktu dan pikiran. Bahkan, sebelum seorang santri mulai menghafal, ia diwajibkan menguasai bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar: makhraj huruf, sifat, tajwid, dan kaidah umum lainnya. Lpmqkemenag


Peran dalam Masyarakat

Kehidupan sehari-hari Syekh Ja’far bergelut dengan dinamika sosial masyarakat. Seluruh kalangan adalah potensi sekaligus pihak yang memerlukan cahaya ilmu agar kapasitasnya sesuai dengan tuntunan agama. Selain mengajarkan kitab kuning, Syekh Ja’far lebih menitikberatkan pada tahfiz Al-Qur’an. Target hafalannya terbagi menjadi tiga tahun: tahun pertama ditargetkan hafal 15 juz, tahun kedua 10 juz, dan tahun ketiga 5 juz. Per hari, seorang santri dinyatakan lulus setoran jika tidak mengalami kesalahan hafalan lebih dari 5 kali. StartfmmadinaLpmqkemenag


Pengaruhnya

Syekh Ja’far aktif dalam berbagai organisasi keislaman: al-Ittihadiah Islamiyah Tapanuli, Majelis Islam Tinggi Tapanuli, Partai Masyumi Tapanuli, Nahdlatul Ulama Tapanuli, hingga Organisasi Jihad Batanggadis. Menjelang Pemilu 1955, Syekh Ja’far bersama Syekh Musthafa Husein dan Syekh Ya’qub membuat dan menandatangani amanat tertulis pada 24 September 1955 — yang di antaranya menyerukan umat Islam untuk mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan mazhab yang empat. Start NewsStart News

Tidak kurang dari 25 orang yang mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an kepadanya. Beberapa muridnya yang menonjol antara lain Buya Safar, Lobe Nukman, Abdul Khuwailid Daulay, dan Khuwailid Ja’far. Selain itu ia meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya Syair Maulud Nabi Besar Muhammad Saw., Syair Mikraj Nabi Besar Muhammad Saw., dan karya di bidang hadis bernama Sulamul Hadis dalam bahasa Arab. Lpmqkemenag


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Dari perjalanan hidup Syekh Muhammad Ja’far Abdul Qadir Al-Mandili, setidaknya ada empat hikmah yang layak direnungkan.

Pertama, meninggalkan kenyamanan demi pengabdian adalah puncak kemuliaan seorang ulama. Syekh Ja’far meninggalkan Makkah — kota tempat ia lahir, tumbuh, dan belajar — untuk pulang ke tanah leluhur yang jauh lebih sederhana, semata karena merasa terpanggil. Kedua, ketelitian dalam mendidik bukan kekejaman melainkan kasih sayang. Standar hafalan yang ketat, termasuk menguji santri dari tidur, bukan untuk menyusahkan, melainkan agar Al-Qur’an benar-benar menyatu dalam diri muridnya. Ketiga, seorang ulama yang baik tidak hanya mengurusi langit, ia juga terlibat dalam urusan bumi — terbukti dari keterlibatan aktif Syekh Ja’far dalam berbagai organisasi sosial dan pergerakan umat. Keempat, warisan terbaik seorang guru adalah murid yang meneruskan amanah — dan 25 orang hafiz yang lahir dari bimbingannya adalah warisan yang tak ternilai harganya.


Sumber: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI — “Syekh Muhammad Jakfar Abdul Qadir Al-Mandili (1896–1958)” (Diringkas dari buku Para Penjaga Al-Qur’an, Jakarta: LPMQ, 2011); Start News & Start FM Madina — “Syekh Muhammad Ja’far Abdul Qadir Al-Mandili: Relasi dan Ulama Sezaman” (Juni 2022).

Scroll to Top