TABLIGH (تَبْلِيْغ) “Deliver the Islamic message”

Tabligh (تَبْلِيْغ) berasal dari kata ballagha–yuballi­ghu yang berarti “menyampaikan”. Secara istilah, tabligh adalah menyampaikan seluruh wahyu dan ajaran Allah kepada umat manusia tanpa menyembunyikan satu pun, dengan cara yang fasih dan mudah dipahami.

Tabligh adalah sifat wajib ketiga bagi para Rasul. Lawannya adalah kitman (menyembunyikan) yang bersifat mustahil bagi Rasul.

Wajib: Tabligh (menyampaikan)↔Mustahil: Kitman (menyembunyikan)

HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG TABLIGH

HR. BukhariHadits 1

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Balligū ‘annī wa lau āyah”

Artinya: “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu — HR. Bukhari No. 3461. Hadits ini menjadi dasar bahwa tabligh bukan hanya tugas Rasul, melainkan kewajiban seluruh umat dalam batas kemampuan masing-masing.

HR. Bukhari & MuslimHadits 2

أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللَّهُمَّ اشْهَدْ

“Alā hal ballagtu? Allāhumm-asyhad”

Artinya: “Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan (risalah)? Ya Allah, saksikanlah!”

Sabda Nabi SAW dalam Haji Wada’ (perpisahan) di hadapan lebih dari 100.000 sahabat — HR. Bukhari No. 1741, Muslim No. 1218. Bukti nyata bahwa Rasulullah SAW telah menunaikan tabligh secara sempurna dan meminta Allah menjadi saksi.

HR. MuslimHadits 3

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Man ra’ā minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi, fa-in lam yastaṭi’ fa bilisānihi, fa-in lam yastaṭi’ fa biqalbihi, wa żālika aḍ’aful-īmān”

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu — HR. Muslim No. 49. Hadits ini menunjukkan bahwa tabligh (menyampaikan kebenaran) adalah bagian dari iman itu sendiri.

HR. Abu Dawud & TirmidziHadits 4

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Naḍḍarallāhu-mra’an sami’a minnā syay’an fa-ballagahu kamā sami’ahu, fa-rubba muballagin au’ā min sāmi'”

Artinya: “Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Boleh jadi orang yang disampaikan lebih paham daripada yang mendengar.”

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu — HR. Tirmidzi No. 2657 (hasan). Nabi SAW mendoakan kebaikan bagi siapa saja yang menyampaikan haditsnya dengan tepat.

HR. Bukhari & MuslimHadits 5

وَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Wallāhi la-an yahdiyallāhu bika rajulan wāḥidan khayrun laka minad-dunyā wa mā ‘alaihā”

Artinya: “Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang melalui perantaramu, itu lebih baik bagimu daripada dunia dan seisinya.”

Sabda Nabi SAW kepada Ali bin Abi Thalib saat diutus ke Khaybar — HR. Bukhari No. 3701, Muslim No. 2406. Menunjukkan betapa agungnya pahala tabligh meskipun hanya menyampaikan kepada satu orang.

HR. Tirmidzi — Hasan ShahihHadits 6

مَنْ كَتَمَ عِلْمًا أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ

“Man katama ‘ilman aljamahullāhu yaumal-qiyāmati biljāmin minan-nār”

Artinya: “Barangsiapa menyembunyikan ilmu (yang wajib disampaikan), maka Allah akan mengekangnya pada hari kiamat dengan kekang dari api neraka.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu — HR. Ibnu Majah No. 261, Tirmidzi. Ancaman keras bagi orang yang memiliki ilmu agama namun sengaja menyembunyikannya dari umat (sifat kitman).

DALIL AL-QUR’AN TENTANG TABLIGH

QS. Al-Maidah: 67

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗ وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Yā ayyuhar-rasūlu ballig mā unzila ilaika mir rabbika, wa il lam taf’al fa mā ballagta risālatahu, wallāhu ya’ṣimuka minan-nās”

Artinya: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah menjagamu dari (gangguan) manusia.”

Dalil paling kuat tentang kewajiban tabligh bagi Rasulullah SAW. Ayat ini menegaskan tidak boleh ada satu pun wahyu yang disembunyikan.

QS. Ali Imran: 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Waltakun minkum ummatun yad’ūna ilal-khayri wa ya’murūna bil-ma’rūfi wa yanhauna ‘anil-munkar, wa ulā’ika humul-mufliḥūn”

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Dalil bahwa tabligh bukan hanya kewajiban Rasul, tetapi juga kewajiban umat Islam sebagai pewaris risalah kenabian.

QS. Ali Imran: 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kuntum khayra ummatin ukh­rijat lin-nāsi ta’murūna bil-ma’rūfi wa tanhauna ‘anil-munkari wa tu’minūna billāh”

Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Predikat “umat terbaik” (khairu ummah) dikaitkan langsung dengan praktik tabligh — amar ma’ruf nahyi munkar. Artinya tabligh adalah syarat utama meraih derajat tersebut.

QS. An-Nahl: 125

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ

“Ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jādilhum billatī hiya aḥsan”

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”

Ayat ini mengajarkan metode tabligh yang benar: dengan hikmah (bijaksana), mauizhah hasanah (nasihat yang baik), dan jidal ahsan (debat dengan cara terbaik).

QS. At-Taghabun: 12

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Wa aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasūl, fa-in tawallaitum fa-innamā ‘alā rasūlinat-balāghul-mubīn”

Artinya: “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

Ayat ini menegaskan bahwa tugas Rasul adalah al-balāghul-mubīn (penyampaian yang jelas dan terang). Hidayah adalah hak Allah; kewajiban Rasul hanya menyampaikan.

QS. An-Najm: 3–4

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā. In huwa illā waḥyun yūḥā”

Artinya: “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Bukti kemurnian tabligh Rasulullah SAW — semua yang beliau sampaikan adalah murni wahyu dari Allah, bukan rekayasa pribadi. Ini menjamin kesempurnaan tabligh beliau.

Scroll to Top