Geografi dan Asal-Usul
Said bin Musayyab memiliki nama lengkap Abu Muhammad Said ibn Musayyab bin Hazn bin Wahhab al-Quraisyi al-Makhzumi al-Madani. Ia dilahirkan pada tahun 15 H di Kota Suci Madinah. Alquran-sunnah
Madinah al-Munawwarah pada masa itu bukan sekadar kota kenangan para sahabat Nabi. Ia adalah ibu kota keilmuan Islam — tempat di mana majelis-majelis ilmu berpendar di setiap sudut Masjid Nabawi, para ulama duduk bersila mengajarkan warisan Rasulullah ﷺ, dan para penuntut ilmu berdatangan dari penjuru Arabia. Di kota inilah Said bin Musayyab lahir, tumbuh, dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya.
Said bin Musayyab hidup sezaman dengan para sahabat senior Rasulullah, di antaranya Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Sayyidah Aisyah, dan Ummu Salamah. Ia bahkan menjadi menantu Abu Hurairah — perawi hadits terbanyak setelah Ibnu Abbas — sebuah kedudukan yang menjadikannya berada di pusat rantai keilmuan Islam generasi awal. Wikipedia
Said bin al-Musayyab dikenal sebagai penghulu para tabi’in, menantu Abu Hurairah, ahli hadits, termasuk dalam al-fuqaha’ al-sab’ah — tujuh pakar fikih Madinah — sosok ulama yang berwibawa, ahli ibadah, dan terkemuka di berbagai bidang ilmu. Cas
Said bin Musayyab sebagai Pedagang: Antara Ilmu dan Kemandirian
Di tengah kesibukannya sebagai ulama besar, Said bin Musayyab tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk menghidupi diri. Walaupun sibuk dengan ilmu dan dakwah, ia tetap bekerja untuk kehidupan dunianya. Tabi’in yang mulia ini adalah seorang pedagang minyak zaitun. WordPress
Ahmad bin Abdullah al-‘Ajali berkata: “Said bin al-Musayyab adalah seorang yang shalih, ahli fikih dan tidak mau mengambil begitu saja suatu pemberian. Dia pernah mempunyai barang perniagaan senilai 400 dinar, dengan jumlah itu ia berdagang minyak.” Perpus
400 dinar bukanlah jumlah yang kecil. Ini menunjukkan bahwa Said bin Musayyab adalah seorang pedagang yang serius dan sukses secara materi — namun kesuksesan itu tidak sedikit pun mengubah prinsip hidupnya.
Imran bin Abdillah berkata: “Said bin al-Musayyab tidak pernah menerima sedikitpun pemberian, satu dinar ataupun satu dirham, baik itu dari orang biasa atau penguasa.” Kebutuhan hidupnya ia dapatkan dari berdagang minyak. Cas
Ini adalah pernyataan yang sangat kuat: seorang ulama terbesar zamannya menolak setiap pemberian dan memilih menghidupi diri dari hasil tangannya sendiri. Baginya, kemandirian ekonomi adalah benteng kehormatan seorang ulama.
Kisah Pertama: Menolak Pinangan Khalifah, Menikahkan dengan Murid yang Miskin
Ini adalah kisah paling masyhur dan paling menggetarkan dari kehidupan Said bin Musayyab — sebuah keputusan yang mengguncang istana dan membekas hingga berabad-abad sesudahnya.
Putri Said bin Musayyab menjadi dambaan bagi setiap laki-laki pada waktu itu. Bahkan Abdul Malik bin Marwan, khalifah ke-5 Bani Umayyah, ingin meminangnya untuk dinikahkan dengan putranya yang bernama al-Walid. Jatman
Bayangkan situasinya: gubernur Madinah, Hisyam bin Ismail yang merupakan kerabat Said sendiri, datang bersama rombongan utusan khalifah untuk menyampaikan pinangan itu. Tidak seorang pun menduga ada penolakan. Namun Said bin Musayyab tidak bergeming.
Utusan itu terperangah mendengar kata penolakan dari Said bin Musayyab dan berkata, “Apa alasan Anda menolak pinangan Amirul Mukminin?” Said bin Musayyab menjawab: “Karena putra mahkota adalah laki-laki yang tidak terpuji perilakunya.” NU Online
Said bin Musayyab tetap menolak tawaran pihak istana meskipun ia disakiti dengan hukuman seratus cambukan. Dicambuk seratus kali. Namun pendiriannya tidak bergeser sejengkal pun. Uinsaizu
Lalu kepada siapa ia menikahkan putrinya? Tidak lama setelah kejadian itu, seorang muridnya yang bernama Abu Wada’ah tidak hadir beberapa hari di majelis. Said menanyakannya dengan penuh perhatian, dan mendapati sang murid baru saja ditinggal mati istrinya dan kini berstatus duda yang miskin.
Said bin Musayyab melihat Abdullah bin Abi Wida’ah sebagai sosok murid yang rendah hati, ikhlas dalam menuntut ilmu, shaleh dan bertakwa. Ketika Abu Wada’ah hendak pamit, Said menahannya dan berkata: “Tidakkah engkau berpikir untuk menikah kembali, wahai Abu Wada’ah?” Jatman
Abu Wada’ah menjawab: “Semoga Allah merahmatimu, siapa orang yang mau menikahkan putrinya denganku? Saya adalah seorang pemuda yatim lagi miskin, saya tidak memiliki harta kecuali hanya 2 atau 3 dirham saja.” Said berkata kepadanya: “Aku yang akan menikahkan putriku denganmu.” Rodovid
Abu Wada’ah terpaku. Guru yang sama yang menolak pinangan putra mahkota khalifah kini menawarkan putrinya kepadanya — seorang duda miskin yang yatim.
Said memanggil beberapa orang saksi, memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya, lalu menikahkan Abu Wada’ah dengan putrinya dengan mahar uang dua dirham. Rodovid
Tiga hari kemudian Abu Wada’ah bersaksi: “Ternyata istriku adalah wanita yang paling cantik di Madinah, paling hafal Kitabullah, dan paling mengerti soal-soal hadits Rasulullah, juga paling paham akan hak-hak suami.” NU Online
Ketika ditanya mengapa ia menolak pinangan khalifah dan memilih seorang murid miskin, Said menjawab: “Putriku adalah amanat di leherku, maka kupilihkan apa yang sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya.” Ia berkata lebih lanjut: “Bagaimana pandanganmu bila misalnya dia pindah ke istana Bani Umayyah lalu bergelimang di antara ranjang dan perabotnya? Aku khawatir putrinya akan terpengaruh oleh fitnah dunia.” Detik.com
Kisah Kedua: Menolak Hak dari Baitul Mal demi Menjaga Harga Diri
Bukan hanya pinangan khalifah yang ditolak Said bin Musayyab. Bahkan haknya sendiri dari negara pun ia tolak ketika itu berkaitan dengan penguasa yang ia anggap zalim.
Dari Imran bin Abdullah berkata: “Said mempunyai hak atas harta yang ada di baitul mal sebanyak tiga puluhan ribu. Dia diundang untuk mengambilnya, akan tetapi dia menolaknya. Dia berkata: ‘Aku tidak membutuhkannya, hingga Allah berkenan memberikan keputusan yang adil antara aku dan Bani Marwan.'” Perpus
Puluhan ribu dirham dari baitul mal yang merupakan haknya sendiri — ia tinggalkan begitu saja. Karena baginya, menerima sesuatu dari tangan penguasa yang tidak adil berarti membuka pintu ketergantungan yang akan mengikis kemerdekaan bersuaranya sebagai seorang ulama.
Inilah rahasia di balik keberaniannya berkata jujur kepada penguasa: ia tidak pernah menerima sedikitpun pemberian dari siapapun, dari orang biasa maupun penguasa. Kebutuhan hidupnya ia dapatkan dari berdagang minyak. Perutnya diisi dari hasil tangannya sendiri, sehingga lisannya bebas untuk berkata benar. Cas
Peran dalam Masyarakat
Said bin al-Musayyab adalah simbol dalam hafalan, kecerdasan, sikap wara’, teladan dalam membela kebenaran, dan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Bahkan Abdullah bin Umar pernah mengatakan bahwa seandainya Rasulullah ﷺ melihat beliau, maka akan membuatnya gembira. BersamaDakwah
Beliau merupakan salah satu poros hadits di Madinah. Kredibilitasnya dalam transmisi sunnah Rasulullah telah mengantarkannya menjadi seorang perawi yang cukup disegani. Dalam berbagai literatur hadits, namanya kerap tergabung dalam rantai sanad periwayatan, termasuk dalam kutubut-tis’ah — sembilan kitab hadits utama seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Wikipedia
Said bin al-Musayyab tidak pernah luput mengerjakan shalat berjama’ah sejak empat puluh tahun, dan selama tiga puluh tahun setiap muazin mengumandangkan adzan ia telah berada di dalam masjid. Seorang pedagang yang disiplin ibadahnya seperti ini adalah teladan nyata bahwa kesibukan berdagang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk memakmurkan masjid. BersamaDakwah
Pengaruh kepada Masyarakat
Imam Makhul mengatakan: “Aku telah mengelilingi bumi seluruhnya untuk mencari ilmu dan aku tidak berjumpa seorang pun yang lebih berilmu dibandingkan Said bin al-Musayyab.” Imam Ali bin al-Madini mengatakan: “Aku tidak mengetahui dari kalangan tabi’in yang lebih luas ilmunya daripadanya.” BersamaDakwah
Pengaruh Said bin Musayyab kepada masyarakat melampaui ilmunya. Melalui kisah-kisahnya, ia mewariskan nilai-nilai yang terus dibaca dan dikaji hingga hari ini:
Pertama, bahwa seorang ulama yang menghidupi diri dari usahanya sendiri akan memiliki wibawa yang tidak bisa dibeli oleh kekuasaan manapun. Kedua, bahwa ukuran kemuliaan seorang manusia bukan pada hartanya atau jabatannya, melainkan pada takwa dan akhlaknya. Baginya kemuliaan bukan ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dimiliki dan bukan pula seberapa tinggi jabatan yang diduduki, tapi seberapa tinggi ketakwaannya kepada Allah. UICI
Said bin al-Musayyab meninggal dunia di Madinah pada tahun 94 Hijriah pada masa pemerintahan khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Pada saat meninggal dunia, ia berumur 75 tahun. Tahun wafatnya disebut sebagai sanah al-fuqaha’ — tahun bagi ulama fikih — karena pada saat itu banyak ahli fikih yang meninggal dunia. Perpus
Ayat dan Hadits
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, nikahkanlah dia. Jika tidak demikian, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Syaikh al-Albani) Rodovid
Penutup
Said bin Musayyab mengajarkan kepada kita bahwa minyak zaitun yang ia dagangkan bukan sekadar komoditas — ia adalah simbol dari sebuah prinsip hidup yang kokoh. Dengan hasil dagangannya, ia menjaga lisannya agar tetap bebas, menjaga putrinya agar tetap mulia, dan menjaga dirinya agar tidak pernah menunduk di hadapan siapapun selain Allah.
Di zamannya, ia menolak istana demi memilih kesederhanaan yang bermartabat. Di zaman kita, ia mengingatkan bahwa seorang Muslim sejati adalah ia yang mencari nafkah dengan tangannya sendiri, berbicara dengan lisannya yang merdeka, dan mengukur kemuliaan bukan dari rekening banknya — melainkan dari ketakwaannya kepada Allah ﷻ.
Wallahu a’lam bishawab.