
Ilustrasi Gambar Dari AI
Biografi Singkat
Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626. Nama lengkapnya Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani. Dalam sejarah lokal ia dikenal dengan gelar kehormatan Tuanta Salamaka ri Gowa — “guru agung penyelamat dari Gowa”. Start News
Sejak remaja ia berguru kepada Syekh Jalaludin al-Aidit di Cikoang, Sulawesi Selatan selama empat tahun. Menginjak usia 19 tahun, ia memilih melanjutkan pendidikan ke luar negeri pada 1645. Perjalanan panjang membawanya ke Banten, Aceh, Yaman, Madinah, Makkah, hingga Damaskus — menimba ilmu dari puluhan ulama besar dan memegang sanad berbagai tarekat terkemuka. Detik.com
Ketika kembali ke Nusantara, ia berdiri di samping Sultan Ageng Tirtayasa mempertahankan Banten dari penjajahan Kompeni Belanda, hingga akhirnya ditangkap, dipenjara di Batavia, diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka), lalu dibuang ke Afrika Selatan hingga wafat di sana pada tahun 1699 M. Meskipun jasadnya dimakamkan di tanah pengasingan, atas permintaan Sultan Abdul Jalil, jenazahnya dipulangkan ke Makassar pada April 1705. Hingga kini ia memiliki dua makam — di Makassar dan di Faure, Cape Town. LpmqkemenagMuslim.or.id
Kisah Paling Mashur: Mendirikan Masjid dan Mengajar di Tanah Pengasingan
Di antara seluruh kisah tentang Syekh Yusuf Al-Makassari, satu kisah yang paling berkesan dan paling mencerminkan keteguhan jiwanya adalah apa yang ia lakukan di tanah pengasingan Afrika Selatan — sebuah kisah tentang seorang ulama yang tidak bisa dihentikan oleh penjara, lautan, maupun jarak ribuan mil dari tanah airnya.
Belanda mengira dengan membuangnya ke ujung dunia, pengaruh Syekh Yusuf akan lenyap. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di tanah pengasingan Cape Town, Afrika Selatan, ia tidak berdiam diri. Bersama ratusan pengikut yang turut diasingkan bersamanya, ia membangun komunitas Muslim pertama di Afrika Selatan. KliksumutPengawal
Di sinilah karakter Syekh Yusuf yang sesungguhnya terlihat. Seorang ulama yang baru saja direnggut dari keluarga, kerajaan, dan tanah airnya — bukan meratap, bukan menyerah — melainkan langsung membangun. Ia mengajar, membimbing, dan menyebarkan Islam kepada masyarakat setempat yang belum pernah mengenal agama ini sebelumnya.
Semangat perlawanannya mengajarkan bahwa perjuangan tidak hanya melalui senjata — pendidikan dan pembangunan karakter juga merupakan bentuk perlawanan yang efektif. Belanda berhasil membuang tubuhnya, namun gagal membuang pengaruhnya. Dari pengasingan itulah justru lahir komunitas Islam Cape Town yang hingga kini masih hidup dan berkembang. Kliksumut
Ketika ia wafat pada 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai “salah seorang putra Afrika terbaik.” Wikipedia
Peran dalam Masyarakat
Syekh Yusuf Al-Makassari adalah sosok yang menyatukan spiritualitas, ilmu, dan perjuangan dalam satu napas. Ia dikenang sebagai ulama besar, sufi yang arif, sekaligus pejuang kemerdekaan yang melawan penjajahan dengan dakwah dan keteguhan iman. Pengawal
Di Banten, ketika Kompeni Belanda menekan Kesultanan, rakyat Banten banyak yang berniaga dengan para pedagang dari Inggris, Denmark, Cina, India, Persia, Filipina, dan Jepang. Di tengah dinamika itu, Syekh Yusuf hadir bukan hanya sebagai pembimbing spiritual, melainkan juga sebagai benteng moral yang menjaga identitas Islam rakyat Banten dari gempuran kepentingan kolonial. Lpmqkemenag
Pengaruhnya
Pemerintah Afrika Selatan memberikan penghargaan tertinggi kepada Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai “Sumbangan Istimewa” bagi penentang kolonialisme, ditandatangani langsung oleh Presiden Republik Afrika Selatan pada 27 April 2005. Indonesia pun menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya — menjadikan Syekh Yusuf Al-Makassari satu-satunya ulama Nusantara yang berstatus pahlawan nasional di dua negara sekaligus. Wikipedia
Makam Syekh Yusuf di Faure, Cape Town, kini menjadi situs ziarah penting yang dikunjungi ribuan orang setiap tahunnya — membuktikan bahwa jasanya melampaui batas geografis dan waktu. Kliksumut
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Pertama, pengasingan tidak bisa menghentikan orang yang benar-benar ikhlas berdakwah. Syekh Yusuf dibuang ke Afrika Selatan agar diam — dan ia justru mendirikan komunitas Islam di sana. Ruang fisik bisa dibatasi, namun semangat berdakwah tidak mengenal batas.
Kedua, seorang ulama sejati tidak memisahkan agama dari tanggung jawab sosial dan politiknya. Syekh Yusuf tidak memilih antara menjadi ulama atau menjadi pejuang — ia adalah keduanya sekaligus, karena baginya membela keadilan adalah bagian dari keimanan.
Ketiga, pengaruh yang dibangun di atas keikhlasan akan bertahan jauh melampaui usia sang pemiliknya. Warisannya tetap hidup — menginspirasi generasi baru untuk memperjuangkan kebebasan, bukan hanya dari penjajahan lahiriah, tetapi juga dari belenggu batin. Pengawal
Keempat, seorang ulama yang diakui musuhnya sendiri adalah ulama yang benar-benar berpengaruh. Belanda, yang membuangnya, tidak mampu menghapus namanya dari sejarah — dan Nelson Mandela, yang berjuang di tanah yang sama, memanggilnya “putra Afrika terbaik.”
Sumber: Kompas.com — “Biografi Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama, Sufi, dan Pejuang Keadilan yang Menembus Tiga Benua” (April 2025); NU Online — “Perjalanan Syekh Yusuf al-Makassari, dari Sulawesi Selatan hingga Afrika Selatan” (Mei 2023); Wikipedia Bahasa Indonesia — Yusuf Al-Makassari; Kabar Gowa — “Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama, Sufi & Pahlawan Dua Negara” (November 2025); Surau.co — “Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama Pejuang dengan Semangat Perlawanan Abadi” (November 2025); Jurnal Al-Qalam STIT Insida — “Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari: Sosok Seorang Ulama, Mursyid, and A Phenomenal Freedom Fighter of Nusantara”.