
Biografi Singkat
Syekh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi al-Makki, atau lebih dikenal sebagai Tuan Mukhtar Bogor atau Syekh Atharid, lahir di Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, 14 Sya’ban 1278 H bertepatan dengan 14 Februari 1862 M. Nama Sundanya adalah Raden Muhammad Mukhtar bin Raden Natanagara, putra dari Raden Aria Natanegara atau yang dikenal Kiai Atharid, putra Raden Wira Tanu Datar VI — garis keturunan bangsawan Cianjur yang juga tersambung ke jejaring Walisongo. WordPressIain-tulungagung
Pendidikan awalnya diperoleh dari ayahnya sendiri, sebelum kemudian merantau ke Betawi pada 1299 H untuk berguru pada beberapa ulama, salah satunya al-Allamah al-Habib Utsman bin Aqil bin Yahya, mufti Betawi saat itu. Perjalanan keilmuannya tidak berhenti di sana. Beliau kemudian menetap di Hijaz, dan menuntut ilmu di Tanah Suci Mekkah selama 28 tahun, sejak 1902 hingga wafatnya pada 1930. Di Mekkah, beliau tercatat memiliki tidak kurang dari 35 guru, dan akhirnya diakui sebagai seorang Syekh, Mudarris (guru besar) di Masjidil Haram, sekaligus Musnid dan Muhaddits (ahli sanad dan hadis). Beliau wafat di Mekkah pada 17 Safar 1349 H/13 Juli 1930 M. Iain-tulungagung + 3
Kisah Paling Mashur: “Kitab Belut” yang Mendunia
Di antara sekian banyak karya tulisnya, ada satu kisah yang paling melekat dalam ingatan para santri Nusantara hingga kini — perdebatan tentang hukum makan belut.
Pada masa itu, sejumlah ulama Timur Tengah mengharamkan belut karena dianggap termasuk jenis hewan yang hidup di dua alam, serupa dengan ular. Persoalan ini menjadi polemik yang cukup serius, terutama bagi masyarakat Nusantara yang menjadikan belut sebagai salah satu lauk sehari-hari. Sanad Media
Syekh Mukhtar tidak tinggal diam. Dengan kedalaman ilmu fikihnya, beliau menulis kitab berjudul Ash-Shawa’iq al-Mukhriqah lil-Auham al-Kadzibah fi Bayani Hillil Balut wa Raddi ‘ala Man Harramahu — sebuah bantahan ilmiah terhadap pendapat yang mengharamkan belut. Argumentasinya sederhana namun kuat: belut adalah hewan air yang tidak keluar ke darat secara permanen, kendati sesekali muncul untuk keperluan tertentu, sehingga tidak termasuk kategori hewan dua alam dan hukumnya halal. Sidogiri Media
Yang menarik, kitab ini ditulis bukan dengan nada menggurui atau merendahkan pendapat ulama lain, melainkan sebagai sumbangan keilmuan yang argumentatif dan santun. Justru karena ketenangan dan kedalaman cara beliau menyampaikan pendapat inilah, halaqah (majelis pengajian) beliau di Masjidil Haram menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi para penuntut ilmu, dibandingkan ulama Nusantara lain yang mengajar di sana. Sikap rendah hati dalam berilmu — berani menyampaikan kebenaran tanpa merasa lebih tinggi dari ulama lain — inilah yang membuat namanya semakin dihormati, bukan justru menimbulkan permusuhan. Wikipedia
Peran dan Pengaruh dalam Masyarakat
Kontribusi Syekh Mukhtar Atharid tidak hanya berhenti pada satu kitab. Selama 28 tahun mengajar di Masjidil Haram, beliau menulis puluhan karya, mulai dari bidang akidah seperti Ushuluddin I’tiqad Ahlusunnah wal-Jamaah, ilmu falak dalam Taqribul-Maqshad fil ‘Amali bir Rub’il Mujayyab, hingga kumpulan sanad hadis dalam Ithafu Sadatil-Muhadditsin. BangkitMedia
Namun pengaruh terbesarnya barangkali bukan dari tulisan, melainkan dari murid-muridnya. Halaqahnya di Masjidil Haram menjadi tempat berkumpulnya calon-calon tokoh besar dari seluruh dunia. Di antara murid Nusantara yang belajar kepadanya adalah Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah — dua tokoh yang kemudian melahirkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sanad Media
Selain itu, jangkauan muridnya juga melampaui Nusantara. Murid-muridnya tersebar hingga menjadi ulama berpengaruh di Malaysia, seperti Tok Kemuning dan Haji Abdullah Fahim yang kemudian menjadi Mufti Pulau Pinang, serta datang dari berbagai penjuru dunia mulai dari Filipina, India, Arab Saudi, Turki, hingga Mesir. Salah satu muridnya, Syekh Muhammad Ahyad bin Muhammad Idris al-Bughuri, bahkan menjadi santri kesayangan sekaligus menantu Syekh Mukhtar sendiri. Wikipedia + 2
Yang patut dicatat, meski berasal dari kalangan bangsawan Sunda dan diakui sebagai umara (pejabat), tidak banyak literatur Indonesia yang mencatat biografinya — justru namanya lebih banyak diabadikan dalam kitab-kitab biografi (tarajim) ulama besar dunia Islam yang mengajar di Masjidil Haram. Beliau tampaknya tidak terlalu mengutamakan popularitas di tanah kelahirannya, melainkan lebih fokus mencurahkan ilmunya di pusat keilmuan Islam dunia. Wikipedia
Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia — “Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri”; Sanad Media — “Biografi Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri” (Februari 2022); Warta Mandailing — “Biografi Syeikh Muhammad Mukhtar Atharid Al-Bughuri Al-Batawi Al-Jawi” (Maret 2023); Sidogiri Media — “Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bughuri” (Mei 2025); Bangkit Media — “Kisah Syekh Mukhtar, Guru Ulama Nusantara dan Dunia dari Bogor” (Januari 2021); P2K Stekom — Ensiklopedia “Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri”; Institute for Javanese Islam Research — “Kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah dan Marwah Ulama Nusantara”; Rodovid Indonesia — “R.H Muhammad Mukhtar Atharid al-Bughuri”.