Asy-Syifa binti Abdullah: Sahabat Preneur Perempuan Pertama yang Menguasai Tiga Keahlian Sekaligus

Kategori: Sahabat Preneur | Kisah Teladan

Gambar 1: Ilustrasi wanita muslimah

Biografi Singkat

Nama lengkapnya Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah. Menurut Ahmad bin Soleh Al-Misri, nama aslinya adalah Laila, namun ia lebih dikenal sebagai Asy-Syifa — yang berarti penyembuh. Kompas

Asy-Syifa adalah ahli pengobatan dan ahli baca tulis sejak zaman Jahiliyah. Ia memeluk Islam pada masa awal penyebaran Islam di Makkah, sebelum Rasulullah dan kaum muslimin hijrah ke Madinah, dan termasuk golongan muhajirin awal. Di era di mana hanya segelintir perempuan yang bisa membaca dan menulis, Asy-Syifa adalah pengecualian yang luar biasa: ia literat, medis, dan visioner — jauh sebelum Islam datang. Kompas

Asy-Syifa binti Abdullah wafat pada tahun 20 Hijriyah, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, meninggalkan warisan besar sebagai pendidik dan penyebar ilmu di kalangan muslimah. Wikipedia


Kisah Perjalanan Preneur: Tiga Keahlian, Satu Jiwa

Asy-Syifa adalah contoh paling sempurna dari konsep preneur keahlian dalam sejarah Islam. Ia tidak memiliki lahan seperti Rafi’ bin Khadij, tidak memiliki modal besar seperti Abdurrahman bin Auf — namun tiga keahlian yang ia miliki menjadikannya sosok yang paling dibutuhkan di Madinah.

Pertama — Ahli Pengobatan Ruqyah. Ibnu Qayyim menerangkan bahwa Asy-Syifa meruqyah sejak zaman Jahiliyah, khususnya untuk mengobati penyakit eksim. Ketika hijrah kepada Rasulullah dan berbaiat, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku biasa meruqyah sejak zaman Jahiliyah untuk mengobati penyakit eksim, dan kini aku hendak menunjukkannya kepada engkau.” Harian Haluan

Rasulullah tidak melarangnya. Sebaliknya, Rasulullah SAW mendirikan klinik pengobatan yang dekat dengan pemukiman warga agar Asy-Syifa dapat mengobati masyarakat melalui praktik ruqyahnya. Asy-Syifa menempati klinik sekaligus rumah tersebut bersama anaknya Sulaiman. Seorang Nabi membuatkan klinik untuk seorang shahabiyah — ini adalah pengakuan tertinggi terhadap sebuah keahlian. Rentak

Kedua — Pendidik Pertama Muslimah. Setelah masuk Islam, Asy-Syifa meneruskan pekerjaan mulianya dengan memberikan pendidikan kepada wanita-wanita Islam. Asbab kesabaran dan ketekunannya, akhirnya membuahkan hasil yang manis — terbantasnya masalah buta huruf di kalangan muslimah Madinah. MerahPutih

Puncaknya, Rasulullah SAW sendiri yang secara langsung memintanya mengajarkan keahlian kepada Hafshah binti Umar, istri Nabi. Rasulullah bersabda kepada Asy-Syifa: “Wahai Syifa’, ajarkanlah kepada Hafshah cara mengobati penyakit sebagaimana engkau mengajarinya menulis.” (HR. Abu Daud) Dua keahlian — literasi dan pengobatan — diajarkan sekaligus kepada Ummul Mukminin. Yasin-alsys

Ketiga — Regulator Pasar. Inilah yang menjadikannya benar-benar unik dalam sejarah Islam. Asy-Syifa dipercaya Khalifah Umar bin Khattab sebagai pengurus manajemen pasar Madinah karena kecerdasan dan ide-idenya yang cemerlang. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat menyebutkan bahwa Asy-Syifa merupakan seorang Qadhi Hisbah — pengawas pasar di lingkungan Madinah — dan diberi wewenang untuk perizinan usaha. Yasin-alsys

Seorang perempuan yang mengelola klinik, mengajar muslimah, dan mengawasi pasar — tiga jabatan sekaligus di tiga sektor berbeda: kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Ini bukan kebetulan. Ini adalah bukti bahwa keahlian yang dikembangkan dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan ruang untuk berkembang, bahkan melampaui batas yang dibayangkan.


Prinsip yang Selalu Ia Terapkan

Pertama: Keahlian yang tidak dibagikan adalah keahlian yang mati. Asy-Syifa bukan tipikal egois dan pelit dalam mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Dengan izin dari Rasulullah, ia melanjutkan profesinya dan mengajarkannya kepada para wanita lainnya. Harian Haluan

Kedua: Keahlian lama tidak dibuang, melainkan diislamkan. Ia tidak meninggalkan ilmu ruqyahnya ketika masuk Islam — ia memperlihatkannya kepada Rasulullah, meminta penilaian, lalu melanjutkannya dengan bingkai yang benar. Ini adalah prinsip islamisasi keahlian yang sangat relevan.

Ketiga: Kepercayaan dari pemimpin adalah buah dari konsistensi. Amirul Mukminin Umar bin Khattab sangat mendahulukan pendapat Asy-Syifa — karena ia adalah seorang pemimpin yang adil dan patut diteladani. Kepercayaan itu bukan datang tiba-tiba — ia adalah buah dari puluhan tahun konsistensi dalam ilmu dan pengabdian. Wikipedia


Kontribusi Besar bagi Peradaban Islam

Tidak sedikit ulama terkemuka menilai Asy-Syifa sebagai ilmuwan perempuan pertama yang luar biasa karena di dalam dirinya terhimpun keimanan, ketaqwaan, dan ilmu pengetahuan. Asy-Syifa juga menjadi seorang perawi hadits — meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah secara langsung maupun dari sahabat lainnya. Di antara perawi yang mengambil hadits darinya adalah Sulaiman bin Abu Khatmah (anaknya), Abu Bakar dan Utsman (cucunya), Abu Ishaq, serta Hafshah Ummul Mukminin. RentakYasin-alsys

Ia membuktikan bahwa dalam Islam, perempuan bukan sekadar objek yang dilindungi — melainkan subjek aktif yang membangun peradaban.


Pelajaran untuk Entrepreneur Masa Kini

Pertama, menguasai lebih dari satu keahlian adalah strategi terbaik melawan ketidakpastian. Asy-Syifa adalah dokter, guru, dan regulator sekaligus — tiga keahlian yang saling menguatkan, bukan saling menguras.

Kedua, keahlian yang divalidasi oleh otoritas tertinggi adalah keahlian yang paling kuat. Rasulullah sendiri yang memvalidasi ilmu ruqyahnya dan memintanya mengajar Hafshah. Bagi entrepreneur masa kini, validasi dari pihak yang tepat — bukan sekadar pengakuan viral — adalah fondasi reputasi yang paling kokoh.

Ketiga, jangan batasi keahlian hanya pada satu sektor. Asy-Syifa bergerak dari klinik ke ruang kelas ke pasar — dan di setiap tempat ia memberi nilai nyata. Entrepreneur modern yang bisa bergerak lintas sektor dengan keahlian yang solid adalah yang paling dibutuhkan dan paling bertahan.

Keempat, ilmu yang tidak pelit mengajarkan akan terus hidup melalui murid-muridnya. Nama Asy-Syifa hidup hingga hari ini bukan karena ia menyimpan ilmunya rapat-rapat, melainkan karena ia bagikan kepada Hafshah, para muslimah Madinah, dan seluruh generasi setelahnya.


Sumber: Islami.co — “Asy-Syifa binti Abdullah: Sahabat Perempuan yang Diperintah Rasulullah untuk Mengajarkan Pengobatan Tradisional kepada Hafshah” (Maret 2023); Mubadalah.id — “Asy-Syifa binti Abdullah: Ilmuwan Perempuan Pertama dan Kepala Pasar Madinah” (Maret 2023); Detik Hikmah — “Sosok Asy Syifa binti Abdullah, Muslimah Cerdas yang Dihormati Rasulullah” (Desember 2023); VOA Islam — “Asy-Syifa Al-Adawiyah: Shahabiyah Mulia Pakar Pengobatan Ruqyah”; UI Salam — “Kisah Asy-Syifa binti Abdullah”; MuslimahHTM.com — “Asy-Syifa binti Abdullah, Sahabiyah yang Berbakat” (September 2023); JatimTimes — “Asy-Syifa binti Abdullah, Guru Perempuan Pertama dalam Sejarah Islam” (Agustus 2025); Ibnu Sa’ad — Thabaqat Al-Kubra; HR. Abu Daud — Hadits Pengobatan Ruqyah Asy-Syifa.

Scroll to Top