K.H. Ahmad Shofawi: Saudagar Tenun yang Mendirikan Pesantren dari Hasil Dagang

Kategori: Ulama Preneur | Kisah Teladan

Gambar 1: K.H. Ahmad Shofawi

Biografi Singkat

KH. Ahmad Shofawi, putra dari Akram bin Ikram bin Thohir, lahir di Kota Solo pada tahun 1879. Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan agama terutama dari sang ayah. Memasuki usia remaja, Shofawi mondok di pesantren yang diasuh Kiai Ahmad Kadirejo, Klaten, untuk mempelajari dan mendalami ilmu tasawuf, Thoriqoh Naqsabandi. Di pesantren inilah ia bertemu sahabatnya, KH Abdul Mannan, yang kelak bersama-sama mendirikan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan. Journaledutech + 2

Beliau dikenal sebagai sosok yang dermawan lagi sholeh, wira’i, cermat dan hati-hati dalam menjalankan syariat, tawadhu dan rendah hati, sangat menyayangi ulama dan kiai, serta berbahasa Jawa halus (Kromo Inggil). Keistiqomahan beliau dalam ibadah dan hubungan baik dengan masyarakat terjaga hingga usia 83 tahun, dan beliau wafat pada tahun 1962, dimakamkan di Maqbaroh “Pulo” Laweyan, Solo. JournaledutechJournaledutech


Jejak Entrepreneur: Dari Santri Tenun Menjadi Saudagar Sukses

Berbeda dari kebanyakan santri yang melanjutkan jalan sebagai pengajar agama, setelah selesai nyantri di pesantren asuhan Kiai Ahmad Kadirejo, Shofawi justru lebih tertarik menekuni dunia bisnis. Usaha yang ia jalankan terbilang kelas berat, yaitu tenun kain. YouTube

Jalan menuju sukses tidak mudah. Modal yang besar dan persaingan ketat kala itu menjadi tantangan utama. Namun, berkat ketekunannya selama beberapa tahun, Kiai Ahmad Shofawi menjadi pengusaha sukses dan maju. Yang membedakannya, kekayaan tidak mengubah cara hidupnya. Meski bergelimang harta, sosok Kiai Shofawi tetap zuhud dan wara’, menghindari syubhat. YouTubeYouTube

Lebih dari itu, tempat usahanya sendiri menjadi ruang dakwah harian. Sebagai seorang ulama, dakwah Shofawi tidak hanya berupa nasihat lisan, tetapi juga lewat tindakan sehari-hari (bil hal) — usaha dagangnya menjadi salah satu sarana dakwahnya dengan menebar kebaikan, di mana ia senantiasa mengajarkan anak-anak dan karyawan yang bekerja untuknya untuk tidak melupakan keyakinan (Islam) dan ajaran-ajaran agama. Dengan kata lain, pabrik tenun miliknya bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan juga semacam “majelis kecil” tempat nilai-nilai keislaman ditanamkan kepada para pekerjanya — sebuah model bisnis yang menyatukan produktivitas ekonomi dengan pembinaan akhlak, jauh sebelum istilah seperti “bisnis berbasis nilai” dikenal luas seperti sekarang. Liputan6


Peran dan Pengaruh bagi Masyarakat

Hasil keuntungan bisnisnya tidak berhenti di tangannya sendiri, melainkan diputar kembali untuk kepentingan umat. Beliau adalah salah satu tokoh pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Solo — lembaga pendidikan Islam yang hingga kini masih berdiri dan terus mencetak generasi penghafal Al-Qur’an dan kader dakwah. Journaledutech

Kepeduliannya terhadap pendidikan keluarga juga menonjol. Di bidang pendidikan, ia mendatangkan beberapa ulama untuk mengajarkan ilmu agama kepada putra-putrinya, antara lain KH Djauhar Keprabon, KH Mawardi Sepuh Keprabon, KH Masjhud Keprabon, dan KH Asy’ari Tegalsari — yang kemudian juga turut bergabung mengajar anak-anak yang lain. Secara lebih luas, bersama rekan-rekannya, pendirian masjid dan pesantren di Surakarta menjadi tonggak penting dalam perkembangan lembaga-lembaga keislaman di kota tersebut. JournaledutechLiputan6


Warisan Peninggalan Beliau

Warisan paling nyata dari KH. Ahmad Shofawi adalah Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, yang ia rintis bersama sahabatnya, KH Abdul Mannan — buah pertemuan keduanya semasa nyantri di Klaten. Pesantren ini menjadi bukti bahwa hasil keringat dari dunia tenun-menenun bisa bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang manfaatnya melampaui generasi pendirinya. Hingga kini, haul untuk mengenang jasa-jasa para sesepuh pondok seperti beliau masih rutin digelar di Al-Muayyad sebagai bentuk penghormatan generasi penerus.


Nasehat untuk Entrepreneur Masa Kini

Dari teladan KH. Ahmad Shofawi, ada pesan sederhana namun dalam: kesuksesan dalam berdagang bukanlah tujuan akhir, melainkan alat. Kekayaan yang melimpah tidak lantas mengubah gaya hidup menjadi mewah dan jauh dari kesederhanaan — justru semakin besar usaha, semakin besar pula ladang dakwah dan amal yang bisa dijalankan, baik kepada keluarga, karyawan, maupun masyarakat luas. Bisnis yang dijalankan dengan kejujuran dan kehati-hatian (wara’), lalu hasilnya diwakafkan kembali dalam bentuk lembaga pendidikan, adalah model “ulama-preneur” yang dampaknya bisa terus bertahan jauh setelah sang pendiri wafat.


Sumber: NU Online — “KH Ahmad Shofawi, Tokoh Alim nan Dermawan” (Maret 2025); Republika Online — “Ahmad Shofawi Pebisnis yang Berjuang untuk Umat” (Februari 2016); Laduni.id — “Biografi KH. Abdul Rozaq Shofawi”; ResearchGate — “KH. Ahmad Shofawi (1928-1962 M); Cleric and Batik Merchant Who Contributed Greatly to Islamic Da’wah in Surakarta” (Maret 2022).

Scroll to Top