Di awal dakwah Islam, Rasulullah ﷺ menghadapi banyak penentangan, bahkan dari kerabat terdekatnya sendiri. Salah satunya adalah Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib, sepupu sekaligus saudara sesusuan Nabi.
Awalnya, ia adalah penentang keras Islam. Ia menggunakan syair-syair pedas untuk menyerang Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin. Namun, takdir Allah membawanya berubah menjadi salah satu sahabat paling setia dan pemberani.
Dari Penentang Menjadi Pendukung
Selama bertahun-tahun, Abu Sufyan bin Al-Harits berada di barisan musuh. Namun, hatinya gundah melihat semakin kuatnya Islam. Saat menjelang Fathu Makkah (penaklukan Makkah), ia akhirnya datang menemui Rasulullah ﷺ bersama anaknya, Ja’far.
Pada awalnya, Rasulullah menolak menemuinya karena luka hati dari sikap Abu Sufyan di masa lalu. Namun setelah ia menyatakan tobat dengan sungguh-sungguh, Rasulullah ﷺ menerimanya.
Sejak itu, hidupnya berubah total. Ia menjadi salah satu sahabat yang paling teguh membela Nabi.
Keberanian di Hunain
Dalam Perang Hunain, kaum Muslimin sempat kocar-kacir karena serangan mendadak musuh. Saat banyak orang mundur, Abu Sufyan bin Al-Harits justru tetap bertahan di sisi Rasulullah ﷺ. Ia melindungi beliau dengan sepenuh jiwa.
Keberanian itu membuatnya dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling kokoh di saat genting.
Nilai Keteladanan Abu Sufyan bin Al-Harits
-
Bukti bahwa hidayah bisa datang kepada siapa pun, bahkan musuh terdekat Nabi.
-
Tulus dalam taubat: dari penentang keras menjadi pembela gigih.
-
Kesetiaan yang luar biasa setelah menemukan kebenaran.
Kisah Abu Sufyan bin Al-Harits mengingatkan kita bahwa tidak ada pintu taubat yang tertutup. Seseorang bisa saja memiliki masa lalu kelam, namun ketika hidayah menyapa dan ia bersungguh-sungguh, ia bisa menjadi pribadi yang mulia di sisi Allah.