Kutipan Ayat
“Allah akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
(QS. Al-Baqarah: 276)
Tafsir Singkat
Ayat ini menjelaskan bahwa harta yang diperoleh dengan cara tidak benar—seperti riba—tidak akan membawa keberkahan, sedangkan harta yang dikelola dengan cara halal dan dipergunakan untuk kebaikan justru tumbuh subur. Nilai ini tercermin dalam perjalanan ekonomi Al-‘Abbas, paman Rasulullah yang dikenal sebagai salah satu pedagang paling sukses di Makkah.
Kisah Keteladanan Al-‘Abbas
Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib adalah salah satu tokoh Quraisy yang memiliki reputasi besar dalam dunia perdagangan. Bahkan sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai pengusaha profesional yang menjalankan bisnisnya dengan penuh perhitungan dan strategi. Ia memahami arus perdagangan, mengelola modal dengan tepat, dan membangun jaringan yang kuat di berbagai wilayah.
Setelah masuk Islam, Al-‘Abbas memfokuskan kekayaannya untuk membantu Nabi dan kaum muslimin. Ia merupakan salah satu dari sedikit saudagar yang menjalankan bisnis secara bersih, menghindari praktik riba yang sangat umum di Makkah kala itu. Keputusannya untuk meninggalkan riba membuat bisnisnya lebih diberkahi dan menjadi teladan bagi sahabat lainnya.
Al-‘Abbas juga dikenal sebagai orang yang sering memberikan pembiayaan tanpa bunga kepada para pedagang kecil. Ia meminjamkan modal dengan syarat ringan, terutama kepada mereka yang sedang memulai usaha. Sikap ini membuat banyak orang kecil mampu bangkit secara ekonomi.
Setelah hijrah dan perkembangan negara Madinah, Al-‘Abbas tetap menjalankan perannya sebagai donatur dan pendukung ekonomi umat. Ia mendanai beberapa kegiatan sosial, menanggung kebutuhan sebagian keluarga muslim, dan menjadi salah satu figur kunci yang menopang stabilitas finansial umat Islam pada masa awal.
Pelajaran yang Dapat Diambil
-
Menghindari riba adalah prinsip penting dalam keberkahan bisnis.
-
Kekayaan dapat menjadi sarana menguatkan umat, bukan alat kesombongan.
-
Bisnis tidak hanya mencari keuntungan pribadi tetapi juga memberikan manfaat sosial.
-
Jaringan dan manajemen modal yang baik dapat membawa usaha menjadi stabil dan berkembang.
-
Prinsip bisnis yang bersih menjadikan reputasi kuat di mata masyarakat.
Refleksi
Di era modern, banyak yang ingin cepat sukses namun mengabaikan prinsip halal-haram. Al-‘Abbas memberikan teladan bahwa keberhasilan sejati datang dari kepatuhan pada nilai moral. Ia sukses bukan karena oportunis, tetapi karena menjalankan bisnis dengan integritas dan menjadikan kekayaannya batu pondasi kemajuan umat.
Penutup
Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib membuktikan bahwa seorang pengusaha bisa sekaligus menjadi pahlawan dalam senyap. Kekayaan yang ia miliki digunakan untuk menegakkan kebaikan dan membantu sesama. Inilah esensi wirausaha dalam Islam: kuat secara ekonomi, tetapi tetap tunduk pada Allah dan peduli pada masyarakat.