BIOGRAFI USTADZ SALMAN ABDUL HAMID

Pendiri Pesantren Ruhama Al Fajar – Bogor, Jawa Barat

Oleh: Ade Darmawan – 28 Oktober 2025

Latar Belakang dan Kelahiran

Ustadz Salman Abdul Hamid adalah seorang pendidik, dai, dan penggerak pendidikan Islam yang dikenal dengan dedikasi dan keikhlasannya dalam membangun generasi Qurani yang mandiri dan berakhlak mulia. Ia merupakan pendiri Pesantren Ruhama Al Fajar, sebuah lembaga pendidikan Islam di Bogor, Jawa Barat, yang memadukan nilai-nilai keilmuan Islam klasik, semangat kewirausahaan, dan karakter kenabian (Nabawi).

Beliau lahir pada 26 April 1983 di Desa Pangkalan Dodek, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, dari pasangan Abdul Hamid dan Ramlah Batubara. Dalam lingkungan masyarakat desa yang sederhana, Salman kecil tumbuh dengan suasana penuh kehangatan keluarga, nilai-nilai agama, dan etos kerja keras. Namun, ujian berat datang lebih awal dalam hidupnya.

Ketika berusia tujuh tahun, ayahandanya wafat, meninggalkan beliau, ibunda, dan dua orang adiknya: Hamdan Abdul Hamid dan Sopwan Sopiyan Abdul Hamid. Kepergian sang ayah menjadi titik awal perjalanan panjang kehidupan Salman yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Sejak saat itu, ia hidup bersama ibunda yang penuh kesabaran dan keteguhan, membesarkan ketiga anaknya dalam kesederhanaan dan doa yang tak pernah putus.

Kehidupan keluarga yang terbatas secara ekonomi memaksa mereka berpindah dari Desa Pangkalan Dodek ke Purba Baru, kampung asal kakek dari jalur ibu. Di lingkungan baru inilah, nilai-nilai religius dan tradisi keilmuan Islam mulai menumbuhkan kecintaan Salman terhadap dunia pendidikan dan dakwah.

Masa Pendidikan Awal dan Jiwa Kemandirian

Di Purba Baru, Salman memulai pendidikannya di SD Negeri Purba Baru, dan sejak masa sekolah dasar telah menunjukkan semangat belajar yang tinggi serta tanggung jawab yang besar terhadap keluarga. Dalam usia yang masih belia, ia harus bekerja sambil belajar demi membantu kebutuhan sehari-hari keluarga.

Keterbatasan yang dihadapi tidak membuatnya putus asa, melainkan justru menumbuhkan jiwa kemandirian dan keuletan yang kelak menjadi karakter khasnya. Di tengah kesulitan ekonomi, Salman belajar memahami arti perjuangan, menumbuhkan empati terhadap sesama, dan menanamkan rasa syukur atas setiap nikmat yang Allah berikan.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau melanjutkan menuntut ilmu ke Pesantren Musthafawiyyah Purba Baru, salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Sumatera Utara yang didirikan oleh Syaikh Musthafa Husain Al-Mandili. Pesantren ini menjadi tempat yang sangat berperan dalam membentuk karakter, wawasan, dan arah perjuangan hidupnya.

Di pesantren, beliau menjalani kehidupan yang penuh kedisiplinan. Setiap hari diisi dengan belajar, beribadah, dan berkhidmah. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, beliau berjualan kue di lingkungan sekitar pesantren, menyadap karet, bahkan mengabdi sebagai marbot masjid. Semua dilakukan dengan penuh kesungguhan, tanpa mengeluh, dan selalu dilandasi niat untuk menegakkan ilmu dan menjemput keberkahan.

Semangat belajar yang tinggi membuahkan hasil. Salman dikenal sebagai santri yang cerdas, sopan, dan rajin. Beliau dipercaya untuk membantu mengajar santri lain bahkan sebelum menamatkan pendidikannya. Di sela rutinitas padat, ia berhasil menorehkan sejumlah prestasi, di antaranya juara pertama kaligrafi dan Qiraatul Kutub, yang menunjukkan kedalaman pemahaman dan ketekunan dalam bidang keilmuan Islam.

Guru dan Lingkungan Ilmiah di Pesantren Musthafawiyyah

Selama menuntut ilmu di Musthafawiyyah, Salman berguru kepada banyak ulama besar yang menjadi pilar keilmuan di Sumatera Utara. Di antara para guru yang sangat berpengaruh dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya adalah KH. Mahmudin Pasaribu, KH. Muhammad Ya‘qub, KH. Rayhanul Jannah, KH. Umar Bakri, dan KH. Mukmin, serta sejumlah ulama lain yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam.

Dari para guru tersebut, beliau tidak hanya memperoleh ilmu-ilmu agama seperti fikih, tafsir, hadis, dan nahwu-sharaf, tetapi juga mendapatkan teladan dalam akhlak, kesabaran, dan keteguhan prinsip dalam berdakwah. Di bawah bimbingan mereka, Salman memahami bahwa seorang penuntut ilmu tidak hanya dituntut untuk menguasai pengetahuan, tetapi juga untuk memuliakan ilmu dengan akhlak, kesabaran, dan pengabdian.

Perjalanan Ilmiah ke Tanah Suci Makkah

Setelah menamatkan pendidikan di Musthafawiyyah pada tahun 2001, semangat menuntut ilmu membawa beliau melangkah lebih jauh. Dengan restu para guru dan dorongan kuat untuk memperdalam ilmu agama, beliau memutuskan melanjutkan studi ke luar negeri.

Atas arahan KH. Buya Rayhan dan Uwak Miswar, serta dukungan beasiswa dari Bapak Fauzi Lubis, pada tahun 2002 beliau berangkat ke Makkah al-Mukarramah untuk menimba ilmu di Madrasah Shaulathiyyah, lembaga pendidikan Islam tertua di dunia yang telah melahirkan banyak ulama besar dari berbagai negara.

Kehidupan di Makkah dijalani dengan kesungguhan dan keikhlasan. Di sana, beliau menuntut ilmu kepada para ulama besar seperti Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Syaikh Dr. Muhammad Ismail, Syaikh Dr. Thariq Sardar, Syaikh Dr. Ahmad Muhammad Al-Maliki, Syaikh Ahmad Jabir Jibran, Syaikh Muhammad Amin Al-Harari, dan Sayyid Nabil Al-Ghamri.

Beliau dikenal sebagai murid yang rendah hati, disiplin, dan tekun. Siang dan malam diisi dengan belajar, membaca kitab, menghadiri majelis ilmu, dan berkhidmah kepada para guru. Dalam suasana keilmuan Makkah yang penuh keberkahan, beliau memperdalam berbagai cabang ilmu agama, khususnya tafsir, hadis, ushul fiqh, dan akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah.

Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, beliau menuntaskan studinya dengan predikat Jayyid Jiddan (sangat baik) pada 14 Rajab 1429 H / 17 Juli 2008 M. Pencapaian ini menjadi bukti dari kesungguhan dan keteguhan niatnya dalam menuntut ilmu di jalan Allah.

Kepulangan dan Awal Pengabdian di Tanah Air

Setelah menyelesaikan studinya, pada akhir tahun 2011, Ustadz Salman Abdul Hamid kembali ke Indonesia. Ia membawa amanah besar dari para gurunya untuk menyebarkan ilmu, membina umat, dan menghidupkan dakwah Islam melalui pendidikan.

Sekembalinya ke tanah air, beliau mulai aktif memberikan pengajaran dan membangun jaringan pendidikan di berbagai daerah. Namun, tekadnya tidak berhenti hanya pada kegiatan dakwah. Beliau menyadari bahwa tantangan terbesar umat adalah menyediakan pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan terjangkau bagi masyarakat kecil.

Dorongan itulah yang melahirkan gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam berbasis masyarakat. Maka pada tahun 2012, beliau memulai langkah awal dengan mendirikan TPQ Ruhama—sebuah tempat belajar Al-Qur’an sederhana yang menjadi cikal bakal berdirinya pesantren besar di kemudian hari.

Lahirnya Pesantren Ruhama Al Fajar

Empat tahun setelah berdirinya TPQ Ruhama, semangat dakwah dan pengabdian itu tumbuh menjadi cita-cita besar. Dengan tekad yang kuat, pada tahun 2016, beliau mendirikan Pesantren Ruhama Al Fajar di Bogor, Jawa Barat.

Pesantren ini didirikan dengan visi besar untuk melahirkan generasi Qurani yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri secara ekonomi, dan berkarakter kenabian (Nabawi). Ruhama Al Fajar hadir sebagai pesantren modern yang tetap menjaga tradisi keilmuan klasik (turats) namun dikemas dengan sistem pengelolaan yang profesional dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dengan mengusung nafas Entrepreneur Qurani dan karakter Nabawi, pesantren ini tidak hanya mendidik santri dalam bidang keagamaan, tetapi juga menanamkan jiwa kewirausahaan, tanggung jawab sosial, serta kemampuan berpikir kritis dan solutif.

Bagi Ustadz Salman Abdul Hamid, pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan akhlak dan karakter. Oleh karena itu, seluruh sistem pendidikan di Ruhama Al Fajar dibangun di atas tiga pilar utama:

  1. Al-Ulum Ad-Diniyyah (Ilmu Keislaman Klasik),
  2. Entrepreneurship Qurani (Kemandirian Ekonomi Islami), dan
  3. Karakter Nabawi (Pembentukan Akhlak dan Keteladanan).

Pesantren Ruhama Al Fajar juga memberikan beasiswa penuh bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sebagai wujud nyata komitmen sosial lembaga terhadap pendidikan umat.

Filosofi dan Visi Kehidupan

Dalam pandangan Ustadz Salman Abdul Hamid, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya lulusan atau fasilitas yang dimiliki, tetapi dari ketulusan, keberkahan ilmu, dan manfaat yang lahir bagi masyarakat.

Beliau sering menegaskan bahwa santri Ruhama harus menjadi generasi yang berilmu dan berdaya, bukan sekadar pandai berbicara, tetapi mampu berbuat nyata untuk umat. Dengan pendekatan Qurani yang membumi, beliau menanamkan nilai bahwa ilmu tanpa amal adalah sia-sia, dan amal tanpa niat ikhlas tidak akan bernilai.

Kiprah beliau dalam dunia pendidikan dan dakwah telah menginspirasi banyak pihak. Pesantren Ruhama Al Fajar kini menjadi bukti bahwa keikhlasan dan ketekunan dapat melahirkan lembaga besar yang membawa manfaat bagi umat.

Penutup

Perjalanan hidup Ustadz Salman Abdul Hamid adalah cerminan nyata dari perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan dalam meniti jalan ilmu. Dari seorang anak yatim di pelosok Sumatera Utara, ia berjuang menempuh pendidikan hingga ke Tanah Suci Makkah, lalu kembali ke tanah air untuk menyalakan cahaya ilmu dan iman bagi generasi muda.

Pesantren Ruhama Al Fajar berdiri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai manifestasi cinta, ilmu, dan cita-cita besar seorang pendidik yang ingin menghadirkan generasi berakhlak mulia, mandiri, dan berjiwa Qurani.

Kini, jejak langkah beliau menjadi inspirasi bagi banyak pendidik dan santri di seluruh Indonesia, bahwa dari keterbatasan dapat lahir kemuliaan, dan dari keikhlasan dapat tumbuh peradaban.

Scroll to Top