Kebijaksanaan Sa’ad bin Mu’adz – Ketegasan yang Adil

Kutipan Ayat

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”
(QS. An-Nahl: 90)

Tafsir Singkat

Ayat ini menjadi salah satu prinsip besar dalam Islam: keadilan. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tanpa dipengaruhi hawa nafsu, kedekatan, atau kebencian. Keadilan bukan hanya dalam hukum, tetapi juga dalam sikap, keputusan, dan kepemimpinan.

Nilai ini tampak kuat dalam diri Sa’ad bin Mu’adz, seorang sahabat Anshar yang dikenal tegas, berwibawa, dan adil dalam mengambil keputusan. Keislamannya membawa perubahan besar bagi kaumnya, dan kepemimpinannya memberi rasa aman serta ketertiban.

Kisah dan Keteladanan

Sa’ad bin Mu’adz adalah tokoh terpandang di kalangan Aus di Madinah. Ketika ia menerima Islam, hampir seluruh kaumnya mengikuti jejaknya. Ini menunjukkan bahwa integritas pribadi memiliki pengaruh besar dalam masyarakat.

Dalam berbagai peristiwa penting, Sa’ad dikenal berani mengambil keputusan berdasarkan prinsip, bukan tekanan. Ketegasannya bukanlah bentuk keras hati, tetapi keberpihakan pada kebenaran. Ia tidak membiarkan kepentingan pribadi mencampuri keadilan.

Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya baik hati, tetapi juga harus tegas dan adil. Kelembutan tanpa prinsip bisa melemahkan, sementara ketegasan tanpa keadilan bisa menzalimi. Sa’ad menampilkan keseimbangan keduanya.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Keadilan adalah fondasi kepemimpinan yang kokoh.
Integritas pribadi dapat memengaruhi banyak orang menuju kebaikan.
Ketegasan yang didasari iman melahirkan keputusan yang bijak.
Kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, tetapi tanggung jawab.
Adil berarti berani berkata benar meski tidak populer.

Refleksi

Dalam kehidupan modern, keputusan sering dipengaruhi opini publik, tekanan sosial, atau kepentingan pribadi. Keteladanan Sa’ad bin Mu’adz mengingatkan bahwa keadilan menuntut keberanian moral.

Di lingkungan keluarga, pendidikan, organisasi, maupun pemerintahan, sikap adil menciptakan kepercayaan. Ketika seseorang dikenal adil, kata-katanya dihargai dan keputusannya diterima dengan lapang dada.

Penutup

Sa’ad bin Mu’adz menunjukkan bahwa ketegasan dan keadilan dapat berjalan berdampingan. Kepemimpinan yang berlandaskan iman melahirkan keputusan yang tidak hanya kuat, tetapi juga bermartabat. Semoga kita mampu meneladani keberanian beliau dalam menegakkan keadilan di setiap peran yang kita jalani.

Scroll to Top