Kesabaran Suhaib Ar-Rumi – Pengorbanan Tanpa Penyesalan

Kutipan Ayat

“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 207)

Tafsir Singkat

Ayat ini menggambarkan puncak keikhlasan seorang hamba, yaitu ketika ia rela melepaskan apa yang ia miliki demi mencari keridaan Allah. Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa hijrah Suhaib Ar-Rumi, yang harus meninggalkan seluruh hartanya di Makkah demi menjaga keimanannya.

Suhaib bukanlah orang Quraisy. Ia datang ke Makkah sebagai perantau, bekerja keras hingga memiliki harta. Namun ketika ia hendak berhijrah ke Madinah, kaum Quraisy menghalanginya. Dengan penuh kesadaran, Suhaib menyerahkan seluruh hartanya agar diizinkan pergi. Ia memilih iman dibandingkan kekayaan, dan pengorbanan inilah yang dipuji langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Keimanan sejati menuntut pengorbanan nyata, bukan hanya ucapan.

  2. Harta adalah titipan, sedangkan iman adalah tujuan hidup.

  3. Kesabaran dalam kehilangan akan diganti Allah dengan keberkahan yang lebih besar.

  4. Ketulusan terlihat ketika seseorang rela melepas sesuatu yang dicintainya.

  5. Hijrah tidak selalu berpindah tempat, tetapi juga berpindah sikap dan pilihan hidup.

Refleksi

Dalam kehidupan modern, banyak orang mengukur keberhasilan dari harta dan kenyamanan. Kisah Suhaib Ar-Rumi mengingatkan bahwa nilai seorang hamba tidak terletak pada apa yang ia miliki, tetapi pada apa yang berani ia lepaskan demi kebenaran.
Kita mungkin tidak diminta meninggalkan seluruh harta, namun sering kali diminta memilih antara prinsip dan keuntungan sesaat. Di situlah keteladanan Suhaib menjadi sangat relevan.

Penutup

Suhaib Ar-Rumi mengajarkan bahwa kehilangan karena Allah bukanlah kerugian, melainkan kemenangan sejati. Semoga kisah ini menguatkan kita untuk bersabar, ikhlas, dan berani memilih iman di atas kepentingan dunia.

Scroll to Top