Keteguhan Abdullah bin Hudhafah As-Sahmi – Ketaatan Tanpa Tawar

Kutipan Ayat

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu.”
(QS. Muhammad: 33)

Tafsir Singkat

Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sikap hidup yang konsisten dalam kondisi apa pun. Para mufassir menjelaskan bahwa ketaatan sejati akan diuji ketika seseorang berada dalam tekanan, ancaman, atau situasi yang mengguncang prinsipnya.

Keteladanan ayat ini tampak jelas pada sosok Abdullah bin Hudhafah As-Sahmi. Ia adalah sahabat Nabi yang dikenal karena keteguhan iman dan keberanian luar biasa. Dalam sebuah misi dakwah dan diplomasi, ia pernah ditawan oleh penguasa Romawi dan dihadapkan pada berbagai ancaman, bujukan, bahkan siksaan. Namun, semua itu tidak menggoyahkan keimanannya.

Abdullah tetap teguh memegang prinsip, menolak tawaran duniawi yang mengharuskan ia menggadaikan aqidahnya. Ia menunjukkan bahwa iman yang kokoh tidak tunduk pada rasa takut, dan ketaatan yang benar tidak bisa ditawar dengan apa pun.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Ketaatan sejati diuji ketika berada dalam kondisi sulit, bukan saat aman.

Iman yang kuat melahirkan keberanian dalam mempertahankan prinsip.

Godaan dunia tidak sebanding dengan keteguhan aqidah.

Keberanian bukan berarti kasar, tetapi teguh tanpa kehilangan adab.

Sikap konsisten dalam iman adalah bentuk kemuliaan seorang hamba.

Refleksi

Dalam kehidupan modern, tekanan sering datang dalam bentuk yang lebih halus: kompromi nilai, popularitas, kenyamanan, dan keuntungan pribadi. Kisah Abdullah bin Hudhafah mengajarkan bahwa menjaga prinsip tidak selalu mudah, namun selalu bernilai.

Tidak semua orang diuji dengan penjara atau ancaman fisik, tetapi banyak yang diuji dengan pilihan kecil yang menentukan arah hidupnya. Di situlah keteladanan sahabat ini menjadi sangat relevan, mengingatkan bahwa iman bukan sekadar identitas, melainkan komitmen yang harus dijaga.

Penutup

Abdullah bin Hudhafah As-Sahmi menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul adalah fondasi kekuatan sejati. Keteguhan hatinya menjadi pelajaran bahwa iman yang kokoh akan melahirkan keberanian, ketenangan, dan kemuliaan. Semoga kita mampu meneladani keteguhan beliau dalam menjaga prinsip, di tengah berbagai ujian kehidupan.

Scroll to Top