Nama Khabbab bin Al-Aratt mungkin tidak sepopuler sahabat besar lainnya, namun keteguhannya dalam mempertahankan iman menjadikannya salah satu tokoh yang patut dikenang dalam sejarah Islam. Ia adalah simbol kesabaran dan keistiqamahan di tengah penderitaan yang luar biasa.
Dari Budak Menjadi Pejuang
Khabbab berasal dari suku Tamim, namun semasa muda ia ditawan dan dijual di Makkah hingga menjadi budak milik seorang wanita Quraisy. Ketika Islam datang, Khabbab termasuk di antara orang-orang pertama yang memeluk Islam, bahkan sebelum Umar bin Khattab masuk Islam.
Keislamannya membuat majikannya marah besar. Ia disiksa dengan kejam — disetrika punggungnya dengan besi panas hingga kulitnya mengelupas. Namun, Khabbab tidak pernah mundur dari kalimat tauhid.
Guru Rahasia di Rumah Arqam
Meski menderita, Khabbab tidak berhenti berdakwah. Ia menjadi salah satu pengajar Al-Qur’an bagi para sahabat di rumah Arqam bin Abi Arqam — tempat Rasulullah ﷺ dan para sahabat pertama kali berkumpul secara rahasia.
Salah satu muridnya adalah Umar bin Khattab, yang pada awalnya datang dengan niat membunuh Nabi, namun justru mendapat hidayah melalui bacaan Al-Qur’an yang dibimbing oleh Khabbab.
Keberanian dan Keteguhan
Ketika kaum Muslimin masih sedikit dan lemah, Khabbab sering datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta doa agar penderitaan mereka berakhir. Rasulullah ﷺ menasihatinya agar bersabar, karena umat terdahulu pun telah melalui ujian yang lebih berat.
Namun kesabaran itu tidak sia-sia — setelah kemenangan Islam, Khabbab menjadi salah satu sahabat yang dihormati, hidup dalam kehormatan setelah melewati cobaan yang amat pahit.
Nilai Keteladanan Khabbab bin Al-Aratt
-
Kesabaran dan keteguhan dalam mempertahankan iman.
-
Keberanian untuk tetap berdakwah meski disiksa.
-
Ketulusan dalam berjuang tanpa mengharapkan balasan dunia.
Kisah Khabbab bin Al-Aratt mengingatkan bahwa keteguhan hati adalah kekuatan terbesar dalam mempertahankan keimanan. Dari luka dan penderitaan, lahirlah kemuliaan yang abadi.