
Biografi Singkat
Muhammad Arsyad Thalib Lubis lahir di Stabat, Sumatera Utara, pada Oktober 1908 dan meninggal pada 6 Juli 1972 di Medan. Ia adalah anak kelima dari pasangan Lebai Thalib bin Ibrahim Lubis dan Markoyum Nasution. Ayahnya berasal dari kampung Pastap, Kotanopan, Tapanuli Selatan, yang berhijrah dan menetap di Stabat. Berprofesi sebagai petani yang agamais hingga mendapat panggilan “Lebai” — sebuah gelar kehormatan yang menandai kesalehannya di mata masyarakat setempat. Laduni
Muhammad Arsyad Thalib Lubis menjalani pendidikannya di berbagai daerah di Sumatera Utara: Madrasah Islam di Stabat (1917–1920), Madrasah Islam di Binjai (1921–1922), Madrasah Ulumil Arabiyah di Tanjung Balai, Asahan (1923–1924), dan Madrasah Hasaniyah Medan (1925–1930). Kemudian ia mempelajari ilmu tafsir, hadis, usul fikih, dan fikih kepada Syekh Hasan Maksum, seorang ulama terkemuka di Medan. Laduni
Ia adalah seorang murid yang cerdas dan rajin, sehingga ketika belajar di Madrasah Binjai, ia mendapat kepercayaan dari gurunya, H. Mahmud Ismail Lubis, untuk menyalin karangan yang akan dimuat di surat kabar — sebuah latihan awal yang kelak membentuknya menjadi penulis produktif. Laduni
Kisah Paling Mashur: Ditahan Belanda, Tak Pernah Berhenti Berjuang
Di antara begitu banyak kisah dari perjalanan hidup Arsyad Thalib Lubis, satu peristiwa yang paling sering dikenang adalah ketika ia harus merasakan dinginnya penjara kolonial — bukan karena kejahatan, melainkan karena keberanian.
Di pergerakan kemerdekaan Indonesia, Arsyad Thalib Lubis aktif membangkitkan semangat jihad melawan penjajah. Ia menulis buku Tuntunan Perang Sabil. Terkait perjuangannya, pada 29 Maret 1949, pendiri Al-Washliyah ini ditangkap pihak Negara Sumatera Timur — yang bertindak sebagai perpanjangan tangan Belanda. Arsyad Thalib Lubis ditahan sebagai tawanan politik di penjara Sukamulia, Medan, dari 29 Maret hingga 23 Desember 1949. Blogger
Namun yang paling berkesan bagi mereka yang mengenalnya bukanlah soal penangkapan itu semata, melainkan apa yang ia lakukan sebelum dan sesudahnya. Menurut muridnya yang pernah mengikutinya berdakwah, mereka menyaksikan bahwa beliau tidak pernah merasa lelah masuk kampung keluar kampung dengan berjalan kaki, bermalam mengembara di pedalaman. Seorang ulama yang sudah mengajar di universitas dan menjadi tokoh nasional tetap rela berjalan kaki dari kampung ke kampung demi menyampaikan dakwah — itulah Arsyad Thalib Lubis yang sesungguhnya. ResearchGate
Peran dalam Masyarakat
Arsyad Thalib Lubis adalah salah seorang pendiri Al-Jam’iyatul Washliyah yang berdiri pada 30 November 1930. Sejak berdirinya organisasi ini, ia turut menjadi anggota Pengurus Besar Al-Washliyah hingga 1956. Blogger
Syekh Arsyad juga aktif mengajar di beberapa madrasah Al-Washliyah dari tahun 1926–1957. Ia menjadi Rektor Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Islam Indonesia di Medan pada tahun 1953–1954, kemudian guru besar di Universitas Islam Sumatera Utara pada tahun 1954–1957, dan pensyarah tetap di Universitas Al-Washliyah sejak terbentuknya hingga akhir hayatnya. ResearchGate
Pengaruhnya
Arsyad Thalib Lubis mumpuni dalam pelbagai cabang ilmu Islam: tauhid, fikih, ushul fikih, hadis, sejarah, dan kristologi. Keahliannya di bidang kristologi lebih melambungkan namanya sebagai “kristolog besar” dari Sumatera. Buku pertamanya, Rahasia Bible, terbit pada 1934 dan menjadi pegangan muballigh serta dai Al-Washliyah dalam mensyiarkan Islam di Porsea, Tapanuli Utara. Blogger
Selama hidupnya Tuan Arsyad telah menulis lebih dari 50 buku dalam berbagai disiplin ilmu, di samping puluhan artikel yang dimuat di berbagai majalah Medan. Semua bangunan milik Al-Washliyah yang didirikan sebelum tahun 1972 adalah kontribusi almarhum. Tulisan-tulisan murid-muridnya telah mewarnai kehidupan masyarakat muslim Provinsi Sumatera Utara, khususnya warga Al-Washliyah. Laduni
Pemikiran politik dan fatwanya memiliki pengaruh yang luas dalam membangkitkan semangat nasionalisme para pemuda Islam, khususnya di Sumatera Utara, dalam melawan kolonialisme dan memberantas komunisme. Mujahid Dakwah
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Dari perjalanan hidup Muhammad Arsyad Thalib Lubis, ada empat hikmah yang layak direnungkan.
Pertama, ilmu yang luas harus diimbangi dengan keberanian menyuarakannya. Arsyad Thalib Lubis tidak hanya menulis di ruang aman — ia berpendapat di hadapan presiden, berdebat dengan pejabat gereja, dan masuk penjara demi prinsipnya. Kedua, seorang ulama yang sejati tidak membatasi medan juangnya. Ia sekaligus pengajar, jurnalis, politisi, penulis, dan pendakwah lapangan yang rela berjalan kaki ke pedalaman tanpa keluhan. Ketiga, menulis adalah sedekah jariyah yang terus mengalir. Lebih dari 50 buku yang ditinggalkannya masih menjadi rujukan di berbagai lembaga pendidikan Islam Sumatera Utara hingga kini. Keempat, memahami lawan bicara adalah kunci dakwah yang efektif. Arsyad Thalib Lubis mempelajari Injil secara mendalam bukan untuk meragukannya sendiri, melainkan agar ia bisa berdialog dengan umat Kristiani secara bermartabat dan berbobot.
Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia — Arsyad Thalib Lubis; Al Washliyah Official — “HM Arsyad Thalib Lubis: Ulama, Politikus, Kristolog, Jago Debat, Penulis dan Pendiri Al Washliyah” (November 2025); Kuliah Al-Islam — “Mengenal Syekh Muhammad Arsyad Thalib Lubis Pendiri Al Jam’iyatul Washliyah”; Jurnal MIQOT UIN Sumatera Utara — “Nationalism and Political Thoughts of Sheikh M. Arsyad Thalib Lubis”; ResearchGate — “Muhammad Arsyad Thalib Lubis (1908–1972): Ulama yang Membesarkan Al Jam’iyatul Washliyah”.