Muhammad bin Sirin: Pedagang Jujur dari Pasar Basrah yang Menjadikan setiap Transaksi Sebagai Ibadah

Gambar 1: Muhammad bin Sirin

Geografi dan Asal-Usul

Abu Bakr Muhammad bin Sirin al-Basri lahir pada tahun 33 H/653 M, dua tahun sebelum berakhirnya kekhalifahan Utsman bin Affan. Ayahnya, Sirin, adalah bekas budak yang dimerdekakan oleh Sayyidina Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Uinsyahada

Pada resepsi pernikahan Sirin dan ibunda Muhammad, hadir sebagai tamu kehormatan 18 sahabat Nabi pejuang Perang Badar. Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu memandu doa dan diaminkan oleh seluruh tamu. Dari rumah tangga yang diberkahi inilah lahir Muhammad bin Sirin — seorang anak dari bekas budak yang kelak menjadi salah satu ulama terbesar zamannya. ResearchGate

Keluarga beserta remaja yang brilian ini kemudian berpindah ke Basrah dan menjadikannya sebagai tempat menetap. Ketika itu, Basrah adalah kota baru yang dibangun kaum muslimin — sebagai basis pasukan muslimin, pusat pengajaran bagi penduduk Irak dan Persia yang baru memeluk Islam, dan cermin masyarakat Islam yang giat berusaha untuk dunia seakan hidup selamanya dan beramal untuk akhirat seakan hendak mati keesokan harinya. ARZUSIN

Di kota inilah Muhammad bin Sirin menjalankan dua peran sekaligus: ulama di masjid dan pedagang di pasar.


Muhammad bin Sirin sebagai Pedagang: Tiga Waktu, Tiga Pengabdian

Muhammad bin Sirin menjalani kehidupan di Basrah dengan proporsional. Ketika matahari terbit, beliau berangkat ke masjid Basrah untuk mengajar sambil belajar. Bila matahari mulai tinggi, beliau keluar menuju pasar untuk berdagang. Bila malam menjelang, beliau tekun di mihrab rumahnya, menghayati Al-Qur’an dengan sepenuh jiwa sampai menangis karena takutnya kepada Allah. ResearchGate

Sebuah ritme hidup yang sempurna: pagi untuk ilmu, siang untuk usaha, malam untuk munajat.

Muhammad bin Sirin tidaklah memasuki pasar di siang hari kecuali dalam keadaan bertakbir, bertasbih, dan berdzikir kepada Allah Ta’ala. Seseorang pernah berkata kepadanya, “Hai Abu Bakr, apakah di waktu seperti ini?” Ia menjawab, “Ini adalah waktu di mana banyak orang sedang lalai.” Ketika orang-orang sibuk menghitung untung rugi dan melupakan Allah, Muhammad bin Sirin justru menjadikan pasar sebagai ladang dzikir. Uin-suska


Kisah: Bangkai Tikus dalam Kaleng Minyak

Ini adalah kisah yang paling kuat dan paling mengena — sebuah peristiwa yang membuktikan betapa dalam kejujuran Muhammad bin Sirin meresap ke dalam setiap sudut kehidupan dagangnya.

Suatu ketika, Muhammad bin Sirin membeli minyak sayur dalam jumlah besar untuk kepentingan usaha perdagangannya dengan sistem kredit. Ketika salah satu kaleng minyak dibuka, di dalamnya terdapat bangkai tikus yang membusuk. Cas

Sejenak ia berpikir. Secara hukum, ia berhak mengembalikan barang yang cacat kepada penjual dan urusannya selesai. Namun akalnya yang jernih dan hatinya yang bersih melihat lebih jauh dari itu.

Ia khawatir, jika mengembalikannya, si pedagang minyak itu akan menjualnya kepada orang lain. Sedang tempat pembuatan minyak hanya ada satu — tentu seluruh minyak telah tercemar oleh bangkai tikus itu. Jika dijual kepada orang lain, maka akan tersebarlah bangkai dan najis itu ke mana-mana. Atas pertimbangan itu, dibuanglah seluruh minyak itu olehnya. Cas

Ia menanggung kerugian besar sendirian. Bukan karena ia tidak punya hak untuk mengembalikan. Bukan karena ia tidak membutuhkan uang. Tetapi karena ia tidak rela mudharat itu berpindah ke pundak orang lain yang tidak tahu apa-apa.

Ketika datang penjual minyak itu untuk menagih, ia tidak sedang memiliki uang. Ia pun menanggung utang dari barang yang sudah ia buang demi kemaslahatan umat — sebuah pengorbanan yang nyata, bukan sekadar wacana. Cas


Kehati-hatian yang Melampaui Kewajaran

Ketika berniaga, jika Muhammad bin Sirin mendapatkan uang dirham yang palsu atau usang, ia menyimpannya dan tidak menggunakannya dalam berdagang. Di hari wafatnya ditemukan 500 uang dirham yang usang di rumahnya. Lima ratus dirham yang ia pilih rugi sendiri daripada meneruskannya kepada orang lain. ResearchGate

Dari as-Sirri bin Yahya, ia berkata: “Muhammad bin Sirin pernah meninggalkan nilai keuntungan 40.000 dirham dalam suatu permasalahan yang masih diperselisihkan oleh seorang ulama.” Keuntungan yang secara hukum boleh diambil — namun ia tinggalkan demi menjaga hati dari syubhat. Uin-suska

Maimun bin Mihran berkata: “Aku pernah membeli pakaian dari Muhammad bin Sirin. Setiap kali ia memberi pilihan kepadaku, ia selalu berkata, ‘Apakah engkau senang dengan ini?’ hingga jika aku mengatakan ‘iya’, ia mengulangi pertanyaan itu tiga kali. Setelah itu ia memanggil dua orang untuk menjadi saksi atas jual beli kami. Sejak itu, aku menjadi langganan di tokonya karena yakin dengan kejujurannya.” ResearchGate


Peran dalam Masyarakat

Setiap kali beliau ke pasar di siang hari, tak bosan-bosannya beliau mengingatkan orang-orang akan kehidupan akhirat dan menjelaskan tentang hakikat dunia. Beliau memberikan bimbingan kepada mereka tentang cara mendekatkan diri kepada Allah. ResearchGate

Kalimat yang benar senantiasa ditegakkan Muhammad bin Sirin di hadapan para penguasa Bani Umayyah. Beliau secara tulus mewujudkan nasihat bagi Allah, Rasul, dan imam-imam kaum muslimin. ResearchGate

Muhammad bin Sirin juga dikenal sebagai pakar takwil mimpi pertama dalam Islam — sebuah keahlian yang menjadikannya tempat bertanya masyarakat luas, dari rakyat biasa hingga kalangan istana.


Pengaruh kepada Masyarakat

Hammad bin Zaid berkata dari Utsman al-Batti: “Tidak ada yang lebih alim tentang qadha selain Muhammad bin Sirin.” Ibnu Yunus berkata: “Ibnu Sirin lebih cerdas daripada Hasan al-Bashri dalam beberapa perkara.” Uinsyahada

Muhammad bin Sirin meninggal dunia seratus hari setelah meninggalnya Hasan al-Bashri, di usianya yang ke-77 tahun setelah masa hidupnya yang penuh ketakwaan. Kabar duka cita meliputi seluruh penduduk Basrah — mereka kehilangan seorang ulama besar yang mempunyai kharisma yang tinggi. Cas

Warisan terbesarnya bukan toko pakaiannya di pasar Basrah, melainkan teladan hidupnya yang membuktikan bahwa seorang pedagang bisa menjadi lebih mulia dari banyak ahli ibadah — ketika ia menjadikan setiap transaksinya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.


Ayat dan Hadits

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat.” (QS. An-Nur: 37)

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur dan terpercaya kelak akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)


Penutup

Muhammad bin Sirin lahir dari keluarga bekas budak, namun ia tumbuh menjadi salah satu tabiin paling mulia yang pernah berdiri di pasar Basrah. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kejujuran dalam berdagang bukan sekadar strategi bisnis yang menguntungkan — ia adalah ekspresi tertinggi dari ketakwaan seorang Muslim. Ketika ia membuang seluruh minyak yang tercemar demi menjaga orang lain dari mudarat, ia tidak sedang rugi. Ia sedang berinvestasi untuk akhirat dengan mata uang yang nilainya tak pernah terdepresiasi.

Wallahu a’lam bishawab.

Scroll to Top