Oleh: Ade Darmawan – 29 Oktober 2025

Pendahuluan
Buku Entrepreneur Qurany Karakter Nabawi karya Salman Abdul Hamid hadir sebagai sebuah karya yang menggugah kesadaran kaum muslimin tentang pentingnya membangun jiwa wirausaha yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan keteladanan Rasulullah ﷺ. Di tengah arus modernisasi dan kapitalisme yang seringkali mengabaikan etika, buku ini berupaya meneguhkan kembali hakikat bisnis dalam Islam sebagai jalan ibadah, sarana kemuliaan, dan bentuk pengabdian kepada Allah. Dengan bahasa yang komunikatif dan bernuansa spiritual, penulis mengajak pembaca untuk tidak hanya menjadi entrepreneur sukses di dunia, tetapi juga entrepreneur yang berkah dan bernilai akhirat.
Analisis Isi Buku
Secara sistematis, buku ini memaparkan sepuluh bab yang mengurai fondasi hingga praktik konkret entrepreneurship dalam perspektif Qurani dan Nabawi.
Bab pertama, Prinsip Dasar Preneur Qurany, membangun pondasi pemikiran bahwa setiap aktivitas bisnis harus bersumber dari nilai tauhid dan keikhlasan. Wirausaha dalam Islam tidak sekadar mengejar laba, melainkan mencari ridha Allah. Bab ini menegaskan bahwa prinsip keberkahan lebih utama daripada sekadar keuntungan material.
Bab kedua dan ketiga membahas Sumber Semangat dan Kemuliaan Seorang Preneur Qurani. Penulis mengaitkan motivasi kerja dengan semangat jihad dan amanah. Bahwa bekerja keras adalah bentuk ibadah, dan berdagang adalah profesi yang dimuliakan, sebagaimana banyak Nabi dan Rasul juga berprofesi sebagai pedagang.
Bab keempat hingga keenam menyoroti Kebiasaan Baik, Sikap, dan Karakter Seorang Preneur Qurany. Di sini, penulis menggambarkan bagaimana sifat jujur (shidq), amanah, sabar, tawakal, dan dermawan menjadi karakter utama seorang pengusaha muslim. Pembahasan tentang “cara berdagang Rasulullah” menjadi bagian yang sangat inspiratif, karena mengaitkan teori dengan teladan nyata Nabi Muhammad ﷺ dalam praktik bisnis.
Bab ketujuh menegaskan Larangan dan Pantangan dalam Berdagang, seperti riba, penipuan, dan monopoli, dengan dasar ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis. Bab ini memberikan panduan moral yang tegas bagi pengusaha agar tidak tergelincir dalam praktik yang diharamkan.
Tiga bab terakhir memperkaya wawasan dengan menampilkan Profesi Para Nabi dan Sahabat, serta Ragam Profesi di Zaman Nabi. Bagian ini menjadi refleksi historis yang menunjukkan bahwa menjadi pengusaha bukan sekadar pilihan duniawi, tetapi tradisi mulia yang diwariskan oleh para Nabi dan generasi salaf.
Kelebihan Buku
Kelebihan utama buku ini terletak pada kedalaman spiritualitas dan relevansi moralnya. Penulis berhasil menghadirkan konsep entrepreneurship dalam bingkai ketauhidan, sehingga bisnis dipahami bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga ladang ibadah. Penggunaan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis di setiap pembahasan memperkuat argumentasi dan menjadikan buku ini kaya nilai dakwah.
Selain itu, gaya penulisan yang ringan namun bernuansa reflektif membuat pembaca dari berbagai kalangan—santri, mahasiswa, atau pelaku usaha—mudah memahami dan menghayati pesan-pesannya. Buku ini juga unggul karena menyatukan antara teori, sejarah, dan praktik, dengan menjadikan Rasulullah ﷺ dan para sahabat sebagai teladan utama.
Kekurangan Buku
Kendati demikian, terdapat beberapa hal yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Beberapa bagian cenderung bersifat konseptual dan belum banyak menyentuh strategi praktis bisnis modern yang Islami. Penulis bisa menambahkan contoh-contoh aktual tentang penerapan prinsip Qurani dalam konteks ekonomi digital atau wirausaha muda muslim masa kini. Selain itu, penyajian buku akan lebih menarik bila dilengkapi dengan studi kasus atau kisah nyata yang relevan dengan dunia usaha kontemporer.
Penutup
Secara keseluruhan, Entrepreneur Qurany Karakter Nabawi merupakan buku yang patut dibaca oleh setiap muslim yang ingin menapaki jalan wirausaha dengan landasan iman. Buku ini tidak hanya menumbuhkan semangat usaha, tetapi juga membentuk karakter spiritual seorang pebisnis sejati yang berakhlak Nabawi. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada keberkahan rezeki dan kemanfaatan yang dirasakan umat. Dalam dunia yang kian materialistik, buku ini hadir sebagai penyejuk hati dan penuntun arah bagi siapa pun yang ingin menjadi entrepreneur Qurani, yakni pengusaha yang bekerja dengan niat ibadah dan berjiwa Nabi.