Pendahuluan
Dalam dunia kewirausahaan, risiko adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Setiap pengusaha pasti dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan aman atau melangkah maju dengan konsekuensi besar. Salah satu sahabat Nabi yang memberikan teladan luar biasa tentang manajemen risiko dan pengorbanan adalah Suhaib bin Sinan Ar-Rumi.
Kisahnya bukan sekadar tentang hijrah, tetapi tentang bagaimana seorang pebisnis memahami bahwa kerugian jangka pendek bisa menjadi keuntungan jangka panjang.
Latar Belakang Kehidupan
Suhaib bin Sinan bukan berasal dari keluarga kaya di Makkah. Ia tumbuh sebagai pendatang dan sempat mengalami hidup sebagai tawanan. Namun justru dari kondisi itulah ia belajar bertahan, bekerja keras, dan membangun usaha sendiri.
Di Makkah, Suhaib dikenal sebagai pedagang yang cerdas dan ulet. Ia membangun kekayaan dari nol, mengandalkan kejujuran dan ketekunan. Sebagai pendatang, ia tahu bahwa kepercayaan adalah modal utama, sehingga ia sangat menjaga reputasi dalam setiap transaksi.
Keputusan Bisnis Paling Berani dalam Hidupnya
Ketika hendak hijrah ke Madinah, Suhaib dihadang oleh kaum Quraisy. Mereka tidak ingin kehilangan seorang pedagang sukses yang telah menyumbang perputaran ekonomi kota. Mereka berkata bahwa Suhaib boleh pergi, tetapi hartanya harus ditinggalkan.
Di sinilah tampak kejernihan berpikir seorang entrepreneur sejati. Suhaib memahami bahwa harta adalah alat, bukan tujuan. Ia memilih melepas seluruh kekayaannya demi kebebasan beriman dan masa depan yang lebih bermakna.
Keputusan ini bukan tindakan emosional, tetapi keputusan strategis: meninggalkan aset lama demi peluang yang lebih besar di masa depan.
Pengakuan Langsung dari Rasulullah
Ketika Suhaib tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ menyambutnya dengan kalimat yang sangat terkenal:
“Engkau telah beruntung dalam jual belimu, wahai Suhaib.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa dalam Islam, pengorbanan yang tepat waktu dan tepat tujuan adalah bentuk transaksi paling menguntungkan.
Prinsip Kewirausahaan dari Suhaib Ar-Rumi
Dari kisah Suhaib, kita bisa menarik beberapa prinsip penting:
Pertama, memahami kapan harus mempertahankan aset dan kapan harus melepaskannya.
Kedua, keberanian mengambil risiko adalah bagian dari kepemimpinan diri.
Ketiga, kerugian materi tidak selalu berarti kegagalan.
Keempat, visi jangka panjang lebih penting daripada keuntungan sesaat.
Relevansi untuk Dunia Usaha Modern
Banyak pelaku usaha hari ini terjebak pada rasa takut kehilangan modal. Suhaib mengajarkan bahwa terkadang, mempertahankan segalanya justru membuat kita stagnan. Ada momen di mana pengusaha harus berani menutup satu pintu agar pintu lain terbuka lebih luas.
Keberanian Suhaib adalah contoh bahwa pengusaha muslim tidak boleh diperbudak oleh hartanya sendiri.
Penutup
Suhaib bin Sinan Ar-Rumi menunjukkan bahwa kewirausahaan sejati bukan hanya tentang kecerdikan berdagang, tetapi tentang keberanian memilih nilai yang benar. Ia rela kehilangan segalanya demi tujuan yang lebih tinggi, dan dari situlah justru lahir keberuntungan sejati.