Syekh Abdul Wahab Lubis: “Tuan Muara Mais” Penjaga Cahaya Islam di Tambangan, Mandailing

Gambar 1: Syaikh Abdul Wahab Lubis

Catatan Awal tentang Data

Terdapat perbedaan kecil dalam sumber mengenai tahun lahir beliau. Wikipedia Indonesia mencatat Syekh Haji Abdul Wahab Lubis lahir pada tahun 1914 M dan wafat 1991 M. Sementara itu, jurnal akademik dari Repository UIN Sumatera Utara mencatat tahun kelahiran beliau adalah 1919. Kedua sumber sepakat bahwa beliau wafat tahun 1991 dan berasal dari Muara Mais, Mandailing Natal. casResearchGate


Geografi dan Asal-Usul

Syekh Abdul Wahab Lubis, yang lebih dikenal dengan panggilan Tuan Muara Mais, adalah sosok ulama yang sangat dihormati di Kabupaten Mandailing Natal. Beliau lahir dan berasal dari Desa Muara Mais, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. kemdiktisaintek

Desa Muara Mais terletak di kawasan pedalaman Mandailing Natal, di lembah sungai yang dikelilingi perbukitan hijau Bukit Barisan. Secara geografis, Tambangan adalah kecamatan yang berjarak cukup jauh dari pusat kota Panyabungan, namun justru dari kampung terpencil inilah lahir seorang ulama yang cahaya keilmuannya menerangi jauh melampaui batas desanya.

Ayah beliau bernama Abdurrahman dan ibunya Siti Khadijah. Syekh Abdul Wahab Lubis adalah anak keempat dari sembilan bersaudara. ResearchGate


Perjalanan Ilmu yang Panjang dan Berlapis

Syekh Abdul Wahab menempuh perjalanan pendidikan yang sangat terstruktur dan panjang. Beliau menempuh pendidikan di Sekolah Desa selama 2 tahun (1925–1927) di Muara Mais, kemudian Gouvernement School selama 2 tahun (1927–1929) di Kotanopan, lalu masuk Pondok Pesantren Musthafawiyah selama 4 tahun (1930–1934) di Purba Baru. Setelah selesai menempuh pendidikan di Musthafawiyah, beliau pergi ke Makkah dan menuntut ilmu di Dar al-Ulum Makkah selama 8 tahun (1934–1942). Selain pendidikan formal, Syekh Abdul Wahab juga menuntut ilmu kepada para syekh yang ada di Makkah dan sering mengikuti majelis taklim yang dilaksanakan di Masjidil Haram. kemdiktisaintek

Di Makkah, ia belajar kepada Syekh Abdul Qadir bin Shabir Al-Mandily dan menghadiri halaqah di Masjidil Haram, termasuk berguru kepada Syekh Abdurrahman dan Syekh Muhammad Alawi al-Maliki. uinsyahada


Peran dalam Masyarakat

Ulama, Pendidik, dan Pembuka Pengajian

Sepulang ke tanah air, Syekh Abdul Wahab Lubis mengajar di Madrasah Al-Ittihadiyah Muara Mais dan membuka pengajian rutin bagi masyarakat. Ia dikenal sebagai ulama yang tegas dalam fiqih dan tauhid, tetapi tetap rendah hati dan dekat dengan masyarakat. uinsyahada

Beliau juga dikenal dengan pesan-pesan motivasi khas kepada para santrinya dalam bahasa Mandailing. Salah satu pesannya yang terkenal kepada para santri berbunyi: “Iqra: Botoho, ulang ko bodo songon orbo” — yang bermakna “Bacalah: Ketahuilah, jangan kamu bodoh seperti kerbau.” Ungkapan yang tegas namun penuh kasih ini mencerminkan kepribadian beliau sebagai seorang pendidik yang serius sekaligus membumi. uinsyahada

Pendiri Pesantren Darul Ulum Muara Mais

Syekh Haji Abdul Wahab Lubis kemudian mendirikan Pondok Pesantren Darul Ulum di Muara Mais Jambur. Sepeninggalnya, pesantren ini dipimpin oleh putra tertuanya, Syekh Mawardi Lubis. cas

Di Pondok Pesantren Darul Ulum ini, beliau mengajarkan berbagai kitab seperti Al-Qur’an, tauhid, fikih, tasawuf, dan kitab-kitab lainnya. Pesantren Darul Ulum Muara Mais berkembang pesat di bawah asuhan Syekh Abdul Wahab Lubis, menjadi tidak hanya pusat pendidikan agama tetapi juga tempat penyebaran dakwah Islam dan pembinaan masyarakat. kemdiktisaintek


Pengaruh terhadap Masyarakat

Contoh Nyata: Pesantren yang Terus Hidup dan Diakui Negara

Pengaruh Syekh Abdul Wahab Lubis dapat diukur dari kelangsungan pesantren yang beliau dirikan. Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah, secara khusus mengunjungi Syekh Mawardi Lubis — putra kandung Syekh Haji Abdul Wahab Lubis dan penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Jambur — di kediamannya di Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal. Kunjungan seorang Wakil Gubernur kepada pewaris sebuah pesantren adalah pengakuan nyata atas besarnya pengaruh keluarga ulama ini di masyarakat Sumatera Utara. Ulumuna

Contoh Nyata: Bagian dari Jaringan Ulama Besar Mandailing

Syekh Abdul Wahab Lubis hidup sezaman dan berinteraksi dengan banyak ulama besar Mandailing lainnya, seperti Syekh Muhammad Ya’qub Abdul Qadir Al-Mandili, Syekh Abdul Halim Khatib (Tuan Naposo), dan Syekh Ali Hasan Ahmad Addary. Keberadaan beliau dalam lingkaran ulama-ulama besar ini membuktikan bahwa Muara Mais dan Tambangan bukan pinggiran dalam peta keilmuan Islam Mandailing, melainkan bagian penting dari jaringan dakwah yang kokoh. ResearchGate

Contoh Nyata: Warisan Keilmuan yang Tersambung ke Generasi Berikut

Sejarah Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais mencatat bahwa pesantren ini didirikan oleh seorang tokoh muslim yang merupakan alumni Dar al-Ulum Makkah, yaitu Syekh Abdul Wahab Lubis (Tuan Muara Mais). Penelitian akademik tentang beliau telah tersimpan di Repository UIN Imam Bonjol Padang dan UIN Sumatera Utara Medan, membuktikan bahwa peranannya dalam sejarah Islam Mandailing Natal telah diakui secara ilmiah oleh dunia akademik. Iainlhokseumawe


Penutup

Syekh Abdul Wahab Lubis adalah potret ulama Mandailing yang menapaki jalan keilmuan dengan penuh kesabaran — dari sekolah desa di Muara Mais, ke pesantren Musthafawiyah Purba Baru, hingga menimba ilmu selama delapan tahun di jantung Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya ke kampung halaman, beliau tidak memilih kota besar, melainkan kembali ke Muara Mais yang sunyi untuk mengabdikan seluruh ilmunya kepada masyarakat di sana. Dari kampung yang sederhana itulah, cahaya dakwahnya menerangi Mandailing Natal dan terus dipelihara oleh putra-putranya hingga hari ini.

Scroll to Top