Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi: Mutiara dari Empat Serangkai Ulama Nusantara

Ulama Nusantara | Kisah Keteladanan

Gambar 1: Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi

Biografi Singkat

Pada abad ke-18, ketika jaringan keilmuan Islam antara Nusantara dan Tanah Suci tengah berada di puncak kejayaannya, muncul empat sosok ulama besar asal Tanah Jawi yang namanya begitu disegani di Mekkah dan Madinah. Mereka dikenal sebagai “Empat Serangkai” — Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Abdussamad Al-Palimbani, Syekh Abdul Wahab Bugis, dan satu sosok yang menjadi fokus kisah kita kali ini: Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi.

Mengenai asal-usulnya, sejarah mencatat dua riwayat yang berbeda. Sebagian sumber menyebutkan beliau berasal dari keluarga bangsawan Minangkabau yang nenek moyangnya berasal dari Hadramaut, sempat menetap di Mesir, sebelum akhirnya merantau dan menetap di kawasan Tanah Abang, Betawi. Sementara sumber lain meyakini bahwa beliau memang asli berdarah Mesir, sehingga gelar “Al-Mishri” yang disandangnya benar-benar mencerminkan garis keturunannya. Terlepas dari perbedaan riwayat ini, satu hal yang disepakati: beliau tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keislaman Betawi yang kental, sebelum akhirnya menempuh perjalanan jauh ke Tanah Suci untuk menimba ilmu.

Di Mekkah, Syekh Abdurrahman berguru kepada para ulama besar, salah satunya Syekh Muhammad Abdul Karim As-Samman Al-Madani, seorang sufi terkemuka yang menjadi rujukan banyak ulama Nusantara pada masanya. Sayangnya, catatan mengenai tahun kelahiran maupun tempat lahir spesifik beliau tidak terdokumentasi dengan jelas — sebuah kondisi yang lazim ditemukan pada banyak riwayat ulama Nusantara di era tersebut, mengingat minimnya tradisi pencatatan sejarah formal pada masa itu. Yang dapat dipastikan, Syekh Abdurrahman wafat dan dimakamkan di area Masjid Jami Al-Islam, yang kini berada di Jalan KS Tubun Raya, tepat di depan RS Pelni Petamburan, Jakarta Pusat — sebuah lokasi yang hingga kini masih ramai diziarahi oleh masyarakat yang mengenang jasa-jasa keilmuannya.


Kisah Keteladanan

Kisah Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi tidak bisa dilepaskan dari kisah besar Empat Serangkai Ulama Nusantara — sebuah persaudaraan keilmuan yang terjalin erat di tanah suci, jauh dari kampung halaman masing-masing. Bersama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Abdussamad Al-Palimbani, dan Syekh Abdul Wahab Bugis, mereka menempuh perjalanan panjang dan penuh tantangan menuju Mekkah dan Madinah, demi satu tujuan mulia: mendalami ilmu agama secara mendalam langsung dari sumbernya.

Di tengah pergaulan keilmuan yang ketat dengan ulama-ulama besar Haramain, persahabatan antara Syekh Abdurrahman dengan Syekh Arsyad Al-Banjari tumbuh begitu erat — bukan sekadar pertemanan biasa, melainkan ikatan ilmiah yang saling melengkapi. Keduanya sama-sama mendalami ilmu falak, sebuah disiplin ilmu astronomi Islam yang krusial untuk menentukan arah kiblat dan waktu-waktu ibadah secara akurat.

Persahabatan ini membuahkan kisah keteladanan yang nyata ketika keduanya kembali ke Nusantara. Syekh Abdurrahman mengajak sahabatnya, Syekh Arsyad Al-Banjari, untuk melakukan safari dakwah bersama di tanah Betawi. Dalam perjalanan dakwah ini, mereka menemukan persoalan serius yang tengah dihadapi masyarakat: banyak masjid di Betawi yang arah kiblatnya kurang tepat, sebuah kesalahan yang berdampak langsung pada keabsahan ibadah shalat masyarakat sehari-hari.

Dengan bekal keilmuan falak yang mumpuni, Syekh Arsyad — didampingi dan didukung penuh oleh Syekh Abdurrahman yang memahami betul kondisi sosial dan geografis Betawi — turun langsung membetulkan arah kiblat beberapa masjid di kawasan tersebut. Langkah ini bukan perkara sepele pada masanya; dibutuhkan penguasaan ilmu astronomi yang presisi sekaligus kepercayaan masyarakat yang besar terhadap kapasitas keilmuan kedua ulama ini. Keberhasilan mereka membenahi arah kiblat ini menjadi bukti nyata bagaimana ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh di Tanah Suci, kemudian diaplikasikan secara konkret untuk kemaslahatan umat di kampung halaman.

Kisah ini juga menjadi gambaran nyata semangat kolaborasi keilmuan yang dipegang teguh oleh Empat Serangkai — bahwa ilmu yang mereka peroleh bukan untuk disimpan dan dibanggakan sendiri, melainkan untuk disebarluaskan dan diamalkan demi kebaikan bersama, melintasi batas wilayah dan latar belakang masing-masing.


Peran dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat

Sebagai bagian dari Empat Serangkai Ulama Nusantara, Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi turut memperkuat jaringan keilmuan Islam yang menghubungkan Nusantara dengan pusat keilmuan di Tanah Suci. Kehadirannya menjadi salah satu bukti nyata betapa eratnya hubungan keilmuan antara ulama-ulama Al-Azhar dan Haramain dengan para penuntut ilmu dari Tanah Jawi, sebuah jaringan yang menurut catatan sejarawan turut dibangun melalui guru-guru besar seperti Syekh ‘Athaullah Al-Mishri di Mesir.

Dalam bidang keilmuan falak, kontribusinya bersama Syekh Arsyad Al-Banjari dalam membetulkan arah kiblat masjid-masjid di Betawi memberikan dampak yang sangat konkret bagi keabsahan ibadah masyarakat — sebuah jasa yang sering kali luput dari perhatian, namun memiliki nilai yang begitu fundamental dalam praktik keagamaan sehari-hari.

Pengaruhnya terhadap masyarakat Betawi juga terus berlanjut melalui jalur keturunan. Dari pernikahannya, lahir seorang putri bernama Aminah yang kemudian menurunkan Habib Usman bin Yahya — sosok yang kelak dikenal luas sebagai Mufti Betawi dan figur ulama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Islam di Batavia pada masanya. Melalui jalur keturunan inilah, warisan keilmuan dan keberkahan Syekh Abdurrahman terus mengalir dan berkembang dalam sejarah keulamaan Betawi.


Warisan Peninggalan

Warisan paling nyata yang ditinggalkan Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi adalah makamnya di kompleks Masjid Jami Al-Islam, yang hingga kini masih menjadi tempat ziarah bagi masyarakat yang ingin mengenang dan mendoakan beliau. Keberadaan makam ini menjadi penanda sejarah hidup bahwa jejak keilmuan Empat Serangkai Ulama Nusantara benar-benar pernah hadir dan berkontribusi nyata di tanah Betawi.

Warisan keilmuan falak yang ia kembangkan bersama Syekh Arsyad Al-Banjari juga menjadi fondasi penting bagi tradisi keilmuan astronomi Islam di Nusantara, yang terus diwariskan dan dikembangkan oleh generasi-generasi ulama setelahnya.

Tidak kalah penting, garis keturunan yang menyambung hingga ke Habib Usman bin Yahya — Mufti Betawi yang sangat berpengaruh — menjadi bukti bahwa warisan Syekh Abdurrahman bukan hanya berhenti pada keilmuannya semata, melainkan terus mengalir dan berkembang melalui generasi-generasi penerus yang juga mendedikasikan diri untuk keilmuan dan dakwah Islam di tanah Betawi.


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Kisah Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi, meski riwayat hidupnya tidak terdokumentasi secara lengkap, tetap menyimpan pelajaran berharga yang relevan untuk diteladani.

Pertama, persahabatan dalam menuntut ilmu adalah kekuatan besar yang melahirkan karya nyata. Kolaborasinya dengan Syekh Arsyad Al-Banjari dalam membetulkan arah kiblat masjid-masjid di Betawi mengajarkan kita bahwa ilmu yang dipadukan dengan kerja sama yang tulus akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika dikerjakan sendirian.

Kedua, ilmu yang dipelajari jauh-jauh hari harus kembali diabdikan untuk kampung halaman. Sejauh apa pun perjalanan menuntut ilmu ke Tanah Suci, esensi sejatinya adalah untuk kembali memberi manfaat nyata bagi masyarakat asal.

Ketiga, detail-detail kecil dalam ibadah patut diperhatikan secara serius. Kepedulian Syekh Abdurrahman dan sahabatnya terhadap persoalan arah kiblat — sesuatu yang mungkin tampak teknis dan kurang “menarik” dibandingkan ceramah-ceramah besar — mengajarkan kita bahwa keteladanan sejati juga hadir dalam perhatian terhadap hal-hal mendasar yang berdampak langsung pada keabsahan ibadah umat.

Keempat, warisan terbaik adalah warisan yang terus mengalir lintas generasi. Melalui jalur keturunan yang melahirkan ulama-ulama besar setelahnya, kita belajar bahwa pengaruh baik seseorang tidak akan pernah benar-benar terputus, selama nilai-nilai yang ditanamkan terus dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya.


Daftar Pustaka

“Syekh Abdurrahman al-Misri: Ulama Betawi yang Mendunia.” TriTimes.id, 13 Februari 2025. “Abdurrahman Mishri al-Jawi.” Wikipedia Bahasa Indonesia, diakses 2026. “Syekh Abdur Rahman Misri Al Betawi.” Mahabbah Al-Banjari Blog, 15 Desember 2016. “Berziarah ke Makam Syekh Abdurrahman Al Masri Al Batawi, Salah Satu Empat Serangkai Ulama Besar Nusantara di Mekkah pada Abad ke-18.” Sisi Lain Islam di Nusantara Blog. “Syekh Junaid Al-Batawi, Ulama Betawi yang Namanya Mahsyur di Tanah Suci.” Okezone Muslim, 22 Juni 2021. “Syaikh Junaid Al Batawi Ulama Betawi Berpengaruh.” Islamic Center, 9 Maret 2023. “Syekh ‘Athaullah Al-Mishri, Guru Ulama Nusantara di Abad 18.” Tawazun.id, 21 Mei 2025. Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Bandung: Mizan, 1994.


Artikel ini merupakan bagian dari seri Ulama Nusantara — mengenang dan meneladani para pejuang ilmu yang telah mewarnai peradaban Islam di bumi Indonesia.

Scroll to Top