Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari: Matahari Islam Nusantara dari Tanah Banjar

Gambar 1: Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Biografi Singkat

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari lahir di Desa Lok Gabang, Martapura, Kalimantan Selatan, pada 15 Safar 1122 H/19 Maret 1710 M. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya Siti Aminah. Sejak kecil lingkungan religiusnya membentuk ia menjadi sosok yang agamis. Sindo News

Pada 1717 M, Sultan Tahlil Allah — penguasa Kesultanan Banjar — tertarik dengan kecerdasan anak berusia tujuh tahun itu saat berkunjung ke Desa Lok Gabang. Ia meminta kepada kedua orang tua Arsyad untuk menyerahkan anaknya, dan membesarkannya di lingkungan istana sebagai anak angkat. Dari anak petani desa, ia tumbuh di istana — namun kemewahan istana tidak mengubah sedikitpun kesederhanaan dan ketekunan belajarnya. Sindo News

Ketika menginjak usia sekitar 30 tahun, Sultan mengabulkan keinginannya belajar ke Makkah dan menanggung seluruh biaya perjalanan. Selama lebih dari 30 tahun ia menuntut ilmu di sana — tidak pulang sebelum gurunya menyatakan bekalnya sudah cukup. Selama di Haramain, ia bersama tiga ulama Indonesia lainnya membentuk kelompok yang dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi: Syekh Abdus Shamad Al-Palembani, Syekh Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Mesri — yang belakangan menjadi menantunya sendiri. Ia wafat pada 13 Oktober 1812 M dan dimakamkan di Kalampayan, Martapura — makamnya hingga kini ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Nusantara. Laduni + 2


Kisah Paling Mashur: Mengubah Hutan Belukar Menjadi Pesantren dan Sawah

Di antara seluruh kisah tentang Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, satu kisah yang paling mencerminkan keteladanannya adalah apa yang ia lakukan pertama kali setelah pulang ke tanah Banjar — bukan meminta jabatan, bukan mencari kemewahan, melainkan turun ke hutan.

Sekembalinya ke kampung halaman pada bulan Ramadhan 1186 H/1772 M, ia disambut Sultan Tahmidullah II yang menunjuknya sebagai ulama Kesultanan Banjar. Sultan kemudian menghadiahkan sebidang tanah kosong berupa hutan belukar di luar kota Martapura. Turos Pustaka

Di sinilah kisahnya menjadi luar biasa. Seorang ulama yang baru menghabiskan lebih dari tiga dekade belajar di Makkah, yang seharusnya duduk di singgasana ilmu dengan murid berdatangan — justru menggulung lengan bajunya dan turun ke tanah.

Syekh Muhammad Arsyad bersama beberapa guru dan muridnya mengolah tanah itu menjadi sawah yang produktif dan kebun sayur, serta membangun sistem irigasi untuk mengairi lahan pertanian. Kampung baru ini kemudian dikenal dengan nama Kampung Dalam Pagar. NU Online

Di situlah ia membangun model pendidikan yang mengintegrasikan sarana belajar dalam satu tempat — mirip model pesantren — yang merupakan gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah Islam di Kalimantan. Selain pusat keagamaan, Dalam Pagar juga menjadi pusat pertanian yang menghidupi para santri. NU Online

Dikisahkan pula bahwa pada zaman Belanda, Syekh Arsyad menggoreskan tongkatnya di tanah, dan dari goresan itu mengalirlah sungai-sungai kecil yang menjadi jaringan irigasi kampung tersebut. Hingga kini, daerah itu dikenang masyarakat dengan nama Sungai Tuan. Dan sebelum tiba di Banjarmasin, ia sempat singgah di Jakarta dan meluruskan arah kiblat beberapa masjid yang menurutnya tidak tepat — termasuk Masjid Jami Kampung Sawah, Masjid Luar Batang, dan Masjid Pekojan. PengawalUsk


Peran dalam Masyarakat

Sultan Tahmidullah II yang sangat menaruh perhatian pada perkembangan Islam kemudian mendorong Syekh Arsyad mengarang sebuah kitab. Lahirlah Kitab Sabilal Muhtadin — yang menjadi pedoman pendidikan Islam di Kesultanan Banjar dan rujukan bagi penuntut ilmu Islam di Asia Tenggara. Bahkan Sultan sendiri menjadi salah satu muridnya — seorang raja yang duduk berguru di hadapan seorang anak petani dari Lok Gabang. Turos Pustaka

Tidak hanya membangun pesantren, Syekh Muhammad Arsyad juga aktif berdakwah kepada masyarakat umum, dari perkotaan hingga daerah terpencil. NU Online


Pengaruhnya

Kitab Sabilal Muhtadin karyanya menjadi rujukan bagi pemeluk Islam bermazhab Syafi’i di Asia Tenggara dan menjadi referensi keilmuan di Universitas Al-Azhar Mesir. Karya-karyanya bak sumur yang tak pernah kering untuk digali hingga generasi kini, sehingga seorang pengkaji naskah ulama Melayu berkebangsaan Malaysia menjulukinya “Matahari Islam Nusantara.” LaduniKebumen24


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Pertama, seorang ulama yang benar tidak mencari kemudahan setelah pulang belajar — ia mencari ladang untuk mengabdi. Syekh Arsyad pulang dari Makkah bukan untuk diperlakukan sebagai tamu agung, melainkan untuk mencangkul tanah bersama murid-muridnya.

Kedua, ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang menyelesaikan masalah nyata di hadapan mata. Ia tidak hanya mengajar fikih — ia juga membangun irigasi, mengolah sawah, dan merancang sistem pesantren yang menjawab kebutuhan riil masyarakat Kalimantan.

Ketiga, tawadhu seorang ulama terlihat dari kesediaannya berbaur dengan yang paling bawah. Seorang anak angkat sultan yang belajar 30 tahun di Makkah memilih turun ke hutan belukar bersama murid-muridnya — itulah kerendahan hati yang sesungguhnya.

Keempat, karya tulis adalah sedekah jariyah yang mengalir tanpa batas waktu. Kitab Sabilal Muhtadin yang ditulisnya dua abad lebih silam masih menjadi rujukan di Al-Azhar Mesir dan pesantren-pesantren Asia Tenggara hingga hari ini. Laduni


Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia — Muhammad Arsyad al-Banjari; Kompas.com — “Biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari” (Februari 2022); Republika Online — “Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Ulama Besar Kalimantan” (Februari 2020); Ulama Nusantara Center — “Biografi Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari” (Maret 2024); Universitas Islam An-Nur Lampung — “Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari”; RisalahNU.com — “Ziarah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari” (November 2023).

Scroll to Top