Syekh Sirri As-Saqathi: Ulama Preneur yang Beristighfar 30 Tahun karena Ucapan Alhamdulillah

Biografi Singkat

Nama lengkapnya Abi al-Hasan Sarri ibn al-Mughalis as-Saqathy. Ia adalah murid dari sufi besar Syekh Ma’ruf Al-Kharkhy, sekaligus guru dan paman dari Imam Junaid Al-Baghdadi — tokoh sufi paling masyhur di zamannya. Pengawal

Beliau menguasai berbagai disiplin ilmu: hadis, fikih, tasawuf, ilmu kalam, sejarah, hingga filsafat. Ia bukan sekadar ahli ilmu, melainkan ahli amal yang menghabiskan waktunya semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Murid-muridnya menjulukinya Al-Mughilis — karena ia tak pernah keluar dari rumah kecuali hanya untuk beribadah. Republika OnlineKebumen24

Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata, “Aku tidak melihat seorang yang lebih hebat ibadahnya daripada Syekh Sirri as-Saqathi. Selama 98 tahun beliau tidak pernah terlihat berbaring kecuali pada saat sakit jelang wafatnya.” Menariknya, di balik semua itu, ia adalah seorang pengusaha yang memiliki toko di pusat kota Baghdad — sebagaimana disampaikan Abbas bin Masruq dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah. Ia wafat pada tahun 253 H/867 M di Baghdad. Pengawal + 2


Kisah Paling Mashur: Beristighfar 30 Tahun karena Satu Ucapan Alhamdulillah

Di antara seluruh kisah tentang Syekh Sirri As-Saqathi, satu kisah yang paling sering dikenang dan paling mengguncang hati adalah kisah tentang sebuah kata — kata yang paling lazim diucapkan setiap Muslim, namun justru menjadi sebab ia memohon ampun kepada Allah selama tiga puluh tahun tanpa henti.

Suatu hari, pasar di kota Baghdad terbakar. Padahal saat itu Sirri As-Saqathi memiliki toko di pasar tersebut. Mendengar kabar itu, ia segera menuju ke tempat kejadian. Hatinya tentu bergetar — toko itu adalah mata pencahariannya, sumber nafkah yang ia gunakan untuk beribadah dan membantu sesama. Usk

Namun di tengah jalan, seseorang berlari tergopoh-gopoh menemuinya dan berkata, “Api tidak sampai menjalar ke tokomu.” Mendengar hal itu, Sirri As-Saqathi langsung mengucapkan, “Alhamdulillah!” Usk

Sebuah ucapan yang sangat wajar. Sangat manusiawi. Namun bagi Sirri As-Saqathi, ucapan itu menyisakan ganjalan yang dalam. Ia merenungi kembali apa yang terjadi di dalam hatinya ketika mengucapkan hamdalah itu — dan ia mendapati sesuatu yang tidak ia sukai.

Ia menyesali ucapan alhamdulillah tersebut karena menyadari bahwa rasa syukurnya itu lahir dari kesenangan pribadi atas keselamatan tokonya — sementara di waktu yang sama, toko-toko milik saudara-saudaranya sesama Muslim justru sedang hangus terbakar. Ia merasa telah mendahulukan kepentingan dirinya sendiri atas kepentingan saudaranya, bahkan dalam sebuah ucapan syukur. Kebumen24

Ia pun beristighfar. Bukan selama sehari, bukan sebulan — melainkan selama 30 tahun ia terus memohon ampun kepada Allah atas satu ucapan alhamdulillah yang ia anggap tidak murni karena Allah semata. Pengawal

Inilah yang membuat kisah ini begitu mengguncang: bukan tentang dosa besar, bukan tentang kemaksiatan — melainkan tentang standar keikhlasan seorang ulama yang jauh melampaui ukuran kebanyakan manusia. Ia tidak menghukumi dirinya berdasarkan apa yang tampak di luar, melainkan berdasarkan apa yang bergerak di dalam hatinya.


Peran dalam Masyarakat

Di zamannya, Sirri As-Saqathi dikenal sebagai ulama besar dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang sulit dicari bandingannya. Namun ia tidak menjadikan tokonya sekadar tempat mencari untung. Sebagai tokoh sufi yang zuhud dan wara’, keberadaan tokonya di pusat kota Baghdad justru menjadi jembatan antara dunia perdagangan dan dunia spiritual — membuktikan bahwa seorang wali bisa hadir di tengah pasar tanpa hatinya ikut terjual di sana. ArrahimPengawal


Pengaruhnya

Warisan terbesar Syekh Sirri As-Saqathi bukan hanya ilmunya, melainkan muridnya. Imam Junaid Al-Baghdadi — yang kelak menjadi Sayyidut Thaifah, pemimpin kaum sufi sedunia — adalah keponakan sekaligus murid didikannya. Artinya, seluruh pohon tasawuf yang tumbuh dari Junaid Al-Baghdadi berakar dari tangan Sirri As-Saqathi. Pengawal

Nama Sirri As-Saqathi hingga kini masuk dalam rantai emas silsilah beberapa tarekat besar, termasuk Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah — dibaca dan dikenang dalam setiap khataman oleh jutaan pengikut tarekat di seluruh dunia. Arrahim


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Pertama, standar keikhlasan seorang ulama jauh lebih tinggi dari standar orang kebanyakan. Kebanyakan orang merasa cukup dengan tidak berbuat dosa — Sirri As-Saqathi beristighfar tiga puluh tahun karena niat yang kurang murni dalam sebuah ucapan syukur.

Kedua, empati kepada sesama adalah bagian dari tauhid. Ia tidak bisa bersyukur atas keselamatan tokonya sendiri ketika di waktu yang sama saudara-saudaranya sedang merugi. Kesenangan yang lahir dari penderitaan orang lain, meski tidak disengaja, tidak layak disambut dengan hamdalah.

Ketiga, memiliki toko di pusat kota tidak menghalangi seseorang menjadi wali. Yang membedakan seorang ulama preneur dengan pedagang biasa bukan jenis dagangannya, melainkan ke mana hatinya menghadap ketika transaksi berlangsung.

Keempat, warisan terbaik seorang guru adalah murid yang melampaui gurunya. Sirri As-Saqathi melahirkan Junaid Al-Baghdadi — dan itu sudah cukup untuk membuat namanya abadi dalam sejarah Islam.


Sumber: TQN News — “Syekh Sirri Saqathi, Sufi Pengusaha yang Menyesali Ucapannya” (Maret 2022); RCTI+ Muslim — “Kisah Imam Sirri As-Saqothi Istighfar 30 Tahun karena Ucapan Hamdalah” (Oktober 2023); Rakyatku.com — “Sirri As-Saqathi, Sufi yang Merasa Menyesal Mengucap Alhamdulillah”; Giwangkara.com — “Kisah Sirri As-Saqathi, 30 Tahun Beristighfar karena Mengucapkan Alhamdulillah”; WakidYusuf.wordpress.com — “Tokoh Sufi: Sirri As-Saqathi”.

Scroll to Top