Tafsir Tematik Klasik

Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Petunjuk, Rahmat, dan Sumber Hidayah

1.Al Baqarah Ayat 2 (Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa)

 

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

 

Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 2)

 

Tafsir Shafwatut Tafasir

 

ثم قال تعالى {ذَلِكَ ٱلْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ} أي هذا القرآن المنزل عليك يا محمد هو الكتابُ الذي لا يدانيه كتاب {لاَ رَيْبَ فِيهِ} أي لا شك في أنه من عند الله لمن تفكر وتدبر، أو ألقى السمع وهو شهيد {هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ} أي هادٍ للمؤمنين المتقين، الذين يتقون سخط الله بامتثال أوامره واجتناب نواهيه، ويدفعون عذابه بطاعته، قال ابن عباس: المتقون هم الذين يتقون الشرك، ويعملون بطاعة الله، وقال الحسن البصري: اتقوا ما حُرِّم عليهم، وأدَّوْا ما افتُرض عليهم.

 

Tafsir al Jalalain

 

 {ذٰلِكَ} أي هذا {ٱلْكِتَٰبُ} الذي يقرؤه محمد {لاَ رَيْبَ} لا شك {فِيهِ} أنه من عند الله وجملة النفي خبر مبتدؤه ذلك والإشارة به للتعظيم {هُدًى} خبر ثانٍ أي هاد {لّلْمُتَّقِينَ} الصائرين إلى التقوى بامتثال الأوامر واجتناب النواهي

لاتقائهم بذلك النار.

 

Kesimpulan: Kedua tafsir sepakat bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang tidak mengandung keraguan karena berasal dari Allah dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Hidayah Al-Qur’an dapat diraih oleh mereka yang menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta menjaga diri dari kesyirikan dan kemaksiatan sebagai wujud ketakwaan.

 

2. QS Yunus Ayat 57 (Al-Qur’an sebagai obat)

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ 

 

Artinya: “manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.” (QS. Yunus: 57)

 

Tafsir al Jalalain

 

{يَـٱأَيُّهَا ٱلنَّاسُ} أي أهل مكة {قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مّن رَّبِّكُمْ} كتاب فيه ما لكم وما عليكم، وهو القرآن {وَشِفَآءٌ} دواء {لِمَا فِى ٱلصُّدُورِ} من العقائد الفاسدة والشكوك {وَهُدَىً} من الضلال {وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ} به.

 

Kesimpulan: Berdasarkan tafsir ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk, rahmat, dan sumber hidayah bagi umat manusia. Al-Qur’an hadir sebagai nasihat dari Allah yang membimbing manusia menuju jalan yang benar, menyembuhkan penyakit hati seperti keraguan, kesyirikan, dan akhlak yang buruk. Selain itu, Al-Qur’an menjadi pedoman hidup yang mengarahkan manusia keluar dari kesesatan menuju kebenaran. Bagi orang-orang yang beriman, Al-Qur’an juga menjadi rahmat karena membawa ketenangan, keberkahan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan agar memperoleh hidayah dan rahmat dari Allah Swt.

 

3. QS Al Isra Ayat 9 (Al-Qur’an sebagai petunjuk)

 

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرً

 

Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar”. (QS. Al Isra: 9)

 

Tafsir Al Jalalain

 

{إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى} أي الطريقة التي {هِىَ أَقْوَمُ} أعدل وأصوب {وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا.

 

Kesimpulan: Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang mengarahkan manusia kepada jalan yang paling lurus, benar, dan terbaik, serta memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman yang beramal saleh berupa pahala yang besar di sisi Allah.

 

4. QS Fushilat Ayat 44 (Al-Qur’an sebagai petunjuk dan obat bagi orang yang beriman)

 

وَلَوْ جَعَلْنٰهُ قُرْاٰنًا اَعْجَمِيًّا لَّقَالُوْا لَوْلَا فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗۗ ءَا۬عْجَمِيٌّ وَّعَرَبِيٌّۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌۗ وَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًىۗ اُولٰۤىِٕكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَّكَانٍ ۢ بَعِيْدٍࣖ

 

Artinya: Seandainya Kami menjadikannya (Al-Qur’an) bacaan dalam bahasa selain Arab, niscaya mereka akan mengatakan, “Mengapa ayat-ayatnya tidak dijelaskan (dengan bahasa yang kami pahami)?” Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab, sedangkan (rasul adalah) orang Arab? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman, sedangkan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada penyumbat dan mereka buta terhadapnya (Al-Qur’an). Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh” (QS. Fushilat: 44)

 

Tafsir al Jalalain

 

{وَلَوْ جَعَلْنَٰهُ} أي الذكر {قُرْءَاناً أعْجَمِيّاً لَّقَالُواْ لَوْلاَ} هلاّ {فُصِّلَتْ} بُينت {ءَايَٰتُهُ} حتى نفهمها؟ { أَ } قرآن {أَعْجَمِىٌّ وَ} نبيّ {عَرَبِىٌّ}؟ استفهام إنكار منهم بتحقيق الهمزة الثانية وقلبها ألفاً بإشباع ودونه {قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى} من الضلالة {وَشِفَاءٌ} من الجهل {وَٱلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِى ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ} ثقل فلا يسمعون {وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى} فلا يفهمونه {أُوْلَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ} أي هم كالمنادَى من مكان بعيد لا يسمع ولا يفهم ما ينادى به.

 

Kesimpulan: Tafsir ini menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk (hidayah) dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman, karena membimbing mereka ke jalan yang benar serta menghilangkan kebodohan dan kesesatan. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman, Al-Qur’an tidak memberikan manfaat karena hati mereka tertutup sehingga tidak mampu memahami dan menerima petunjuk Allah.

Scroll to Top