Buku Arba‘un Hadits fi Mu‘amalah Rasulillah SAW merupakan sebuah karya yang mengangkat sisi keteladanan Rasulullah Muhammad SAW dalam bidang muamalah, khususnya dalam konteks kerja dan kewirausahaan. Ditulis oleh M. Bahtiar, salah seorang santri Pesantren Ruhama Al Fajar, buku ini berupaya menghadirkan pemahaman normatif dan aplikatif tentang bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam aktivitas ekonomi, perdagangan, dan etika bisnis.
Secara konseptual, karya ini berangkat dari semangat menghidupkan kembali nilai-nilai entrepreneurship yang berakar dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga ibadah yang bernilai spiritual. Penulis menyusun empat puluh hadits yang relevan dengan tema muamalah Rasulullah SAW, lalu mengurai maknanya secara sistematis dan kontekstual. Struktur penyajian ini meneladani metode Arba‘in Imam Nawawi, namun dengan fokus pada dimensi sosial-ekonomi Nabi, menjadikannya unik dan menarik sebagai literatur dakwah ekonomi Islam di kalangan santri dan masyarakat umum.
Pada bagian awal, penulis menegaskan prinsip dasar Islam tentang pentingnya bekerja. Hadits pertama menekankan keutamaan mencari rezeki dari hasil usaha tangan sendiri, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa “makanan terbaik adalah yang diperoleh dari hasil kerja tangannya sendiri.” Nilai ini menunjukkan etos kerja dan kemandirian sebagai pilar utama dalam kehidupan seorang Muslim. Selanjutnya, hadits kedua menyoroti dimensi spiritual dalam mencari rezeki, bahwa tawakkal (berserah diri kepada Allah) merupakan landasan kokoh dalam usaha manusia. Di sini penulis menguraikan bahwa tawakkal bukan berarti pasif, melainkan sebuah kesadaran bahwa hasil kerja tetap bergantung pada kehendak Allah setelah adanya ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Hadits-hadits berikutnya memperluas pembahasan ke ranah etika bisnis. Misalnya, hadits ketiga dan keempat yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah membahas akhlak pedagang dalam Islam, terutama pentingnya kejujuran, amanah, dan kelapangan hati (tasamuh) dalam transaksi. Rasulullah SAW disebutkan selalu memudahkan urusan jual beli, tidak memperumit transaksi, serta mengutamakan kerelaan kedua belah pihak. Prinsip tasamuh ini menjadi dasar bagi terciptanya keadilan dan keberkahan dalam aktivitas ekonomi.
Sementara itu, hadits kelima menyoroti urgensi niat yang ikhlas dalam setiap bentuk muamalah. Penulis menegaskan bahwa keikhlasan menjadi pembeda antara aktivitas ekonomi biasa dan ibadah bernilai ukhrawi. Hadits keenam mengingatkan pentingnya waktu pagi sebagai momen penuh berkah untuk memulai pekerjaan, sebagaimana doa Rasulullah SAW bagi umatnya yang beraktivitas di awal hari. Sedangkan hadits ketujuh menempatkan pedagang yang jujur dan amanah sejajar dengan para nabi, shiddiqin, dan syuhada di sisi Allah, menunjukkan betapa tingginya posisi profesi ini dalam pandangan Islam apabila dijalankan dengan akhlak mulia.
Dalam bagian-bagian selanjutnya, penulis menguraikan berbagai tema penting lain yang relevan dengan praktik kewirausahaan Islami. Di antaranya adalah larangan menipu dalam transaksi, keutamaan bekerja dengan keterampilan tangan, makna ketakwaan dalam bekerja, larangan berkhianat dan memonopoli pasar, serta dorongan untuk bersedekah dan berlapang dada dalam interaksi ekonomi. Selain itu, hadits-hadits yang dipilih juga menyinggung makruh-nya sifat meminta-minta tanpa kebutuhan, peringatan terhadap gaya hidup berlebihan, serta anjuran untuk selalu berdoa memohon keberkahan dalam perdagangan.
Secara metodologis, buku ini menggunakan pendekatan normatif-hadis, di mana setiap hadits dijelaskan dengan penjabaran makna, konteks, dan pesan moralnya. Penulis tidak banyak menggunakan analisis historis atau sosiologis, namun lebih menekankan pada aspek pendidikan karakter Islami yang lahir dari pemahaman terhadap hadits. Pendekatan seperti ini menjadikan buku ini sangat relevan sebagai bahan ajar di lingkungan pesantren dan madrasah, khususnya dalam kajian akhlak, ekonomi Islam, dan kewirausahaan berbasis nilai-nilai kenabian.
Dari sisi kebaruan, buku ini menempati posisi penting dalam upaya santri menulis karya ilmiah berbasis hadits dengan orientasi sosial-ekonomi. Ia menjadi bukti nyata bahwa dunia pesantren tidak hanya berkutat pada fikih dan tauhid, tetapi juga mampu mengembangkan ilmu muamalah yang kontekstual dengan kebutuhan zaman. Melalui karya ini, M. Bahtiar berhasil menghidupkan semangat entrepreneurship Nabawi, yaitu semangat bekerja keras, jujur, berakhlak, dan berorientasi pada keberkahan.
Secara keseluruhan, Arba‘un Hadits fi Mu‘amalah Rasulillah SAW layak diapresiasi sebagai karya ilmiah-keagamaan yang memperkaya literatur ekonomi Islam di kalangan santri. Buku ini tidak hanya mengajak pembacanya memahami hadits-hadits tentang muamalah Rasulullah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral yang dapat membentuk karakter entrepreneur Muslim sejati—yang bekerja dengan etos tinggi, hati yang lapang, serta niat yang tulus karena Allah Ta‘ala.