
Biografi Singkat
Nama lengkapnya adalah Abu Amru Uwais bin Amir bin Jaza’ al-Qarni al-Muradi al-Yamani. Ia lahir di Qarn, sebuah desa terpencil di Yaman, dalam keluarga yang sederhana dan miskin. Uwais hidup bersama ibunya selepas ditinggal ayahnya sejak kecil. Muslim.or.id
Uwais sendiri menderita penyakit sopak — sejenis penyakit kulit yang membuat tubuhnya belang-belang — sejak kecil. Meski fisiknya tidak sempurna dan hidup dalam kemiskinan, Uwais tumbuh menjadi pemuda yang saleh. Harta yang ia miliki hanyalah dua helai pakaian yang sudah kusut. Tak ada orang yang menghiraukan nasibnya. LpmqkemenagStart News
Uwais al-Qarni dikenal sebagai seorang sufi yang hidup dalam kesederhanaan. Meski tidak pernah bertemu Rasulullah SAW, ruhaninya selalu terhubung dengan beliau. Ketakwaannya tampak dari ketekunan beribadah: bekerja keras di siang hari sambil terus berzikir dan membaca Al-Qur’an, lalu menghabiskan malam untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui salat. Lpmqkemenag
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para sahabatnya — khususnya Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib — agar mencari Uwais dari kafilah Yaman setelah wafatnya beliau, dan meminta doanya. Rasulullah menggambarkan Uwais sebagai pemuda yang “tidak dikenal di bumi, tetapi dikenal di langit.” Lpmqkemenag
Kisah Paling Mashur: Menggembala untuk Ibu, Beribadah untuk Allah
Banyak orang mengenal Uwais al-Qarni dari kisah ia menggendong ibunya ke Makkah. Namun di balik kisah itu, ada kisah yang lebih sunyi dan lebih dalam — kisah tentang apa yang ia lakukan setiap hari, di setiap pagi dan sore yang tidak pernah dicatat oleh siapapun, di antara padang rumput tandus Yaman dan kandang ternak milik orang lain.
Sehari-hari, Uwais hidup dari hasil pekerjaannya sebagai penggembala kambing dan domba milik orang lain, serta pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia dan ibunya. Ini bukan pekerjaan yang dipilih karena nyaman — ini adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Seorang pemuda yatim, miskin, berpenyakit kulit, merawat ibu yang lumpuh dan penglihatannya hampir hilang, mengambil upah dari menggembala ternak milik orang lain di bawah terik matahari Yaman. Muslim.or.id
Upah yang diterimanya hanya cukup untuk menopang keperluan hariannya bersama sang ibu. Apabila ada yang berlebihan, Uwais menggunakannya untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan — sama seperti keadaannya sendiri. Blogger
Yang paling menggetarkan bukan jumlah upahnya, melainkan apa yang ia lakukan di sela-sela pekerjaannya. Kesibukannya sebagai pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya. Ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Blogger
Bayangkan: berjalan bermil-mil mengikuti ternak di padang terbuka sepanjang siang dalam kondisi berpuasa, lalu pulang ke rumah untuk merawat ibu yang lumpuh, kemudian menghabiskan malam dengan shalat dan doa, dan keesokan harinya mengulangi semuanya lagi. Tanpa satu pun orang yang melihat. Tanpa satu pun tepuk tangan. Tanpa pengakuan dari siapapun.
Inilah yang membuat kisah penggembalaannya menjadi cermin paling jujur dari karakternya. Pernah suatu ketika, seorang fuqaha di negeri Kufah ingin mencoba dekat dengannya dan memberi dua helai pakaian baru sebagai hadiah. Namun Uwais menolaknya sambil berkata, “Aku khawatir, nanti ada orang yang menuduhku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, pasti dari mencuri.” Seorang yang bahkan menolak pemberian karena takut dituduh — itulah standar kehati-hatian seorang Uwais. Start News
Hingga suatu hari, datanglah rombongan dari Yaman menuju Madinah. Umar dan Ali mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama rombongan itu. Rombongan itu menjawab bahwa Uwais ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta di perbatasan kota. Umar dan Ali pun bergegas menuju tempat itu. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, mereka memberi salam. Namun Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah mengakhiri salatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung itu. Umar lalu membalikkan tangan Uwais — tampaklah tanda putih di telapak tangannya, sebagaimana yang pernah dikabarkan Nabi. “Namamu siapa?” tanya Umar. Ia menjawab, “Abdullah.” Umar tersenyum dan berkata, “Kami semua adalah hamba Allah. Tapi siapa namamu yang sebenarnya?” Akhirnya ia menjawab, “Saya Uwais Al-Qarni.” Start News
Dua orang paling berkuasa di dunia Islam saat itu — Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib — datang menemuinya bukan di masjid, bukan di majelis ilmu, melainkan di pinggir kota, di tengah kumpulan unta milik orang lain yang sedang ia jaga. Dan ia masih sedang salat.
Setelah Umar dan Ali memintanya berdoa sesuai pesan Rasulullah, Khalifah Umar berjanji menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais sebagai jaminan hidupnya. Dengan halus Uwais menolak seraya berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.” Wikipedia
Peran dalam Masyarakat
Uwais bukan ulama yang mengajar di majelis besar. Ia bukan pemimpin yang memimpin pasukan. Namun kehadirannya meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam dari banyak orang yang punya keduanya.
Setiap rezeki berlebih selalu ia gunakan untuk membantu tetangga yang kekurangan — menggambarkan bahwa ia bukan hanya peduli kepada ibu, tetapi juga kepada sesama. Di tengah masyarakat yang mengenalnya hanya sebagai penggembala miskin berpenyakit kulit, ia diam-diam menjadi penopang bagi orang-orang yang lebih miskin dari dirinya sendiri. Blogger
Pengaruhnya
Rasulullah SAW menyebut bahwa pada hari kiamat, Uwais akan menjadi perantara bagi banyak hamba Allah yang memerlukan syafaat. Besarnya jumlah orang yang mendapat ampunan melalui dirinya diumpamakan sebanyak bulu pada seluruh kambing milik dua kabilah besar Arab, Rabi’ah dan Mudhar. Lpmqkemenag
Meninggalnya Uwais al-Qarni menggemparkan masyarakat kota Yaman. Sedemikian banyaknya orang tak dikenal yang berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang dan saling bertanya, “Siapakah sebenarnya engkau, wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal hanyalah seorang fakir yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta?” Wikipedia
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Dari perjalanan hidup Uwais al-Qarni, ada empat hikmah yang layak direnungkan dengan sungguh-sungguh.
Pertama, kemuliaan tidak ditentukan oleh pekerjaan, melainkan oleh hati yang mengerjakan. Uwais hanyalah penggembala ternak milik orang lain — pekerjaan paling bawah dalam tangga sosial masyarakatnya. Namun karena hati dan niatnya, ia menjadi yang paling tinggi derajatnya di langit.
Kedua, ibadah yang paling berat adalah yang tidak ada yang melihat. Uwais berpuasa sambil menggembala di panas terik Yaman, lalu bermunajat di malam hari setelah seharian bekerja — tanpa satu pun penonton, tanpa satu pun pujian. Itulah ibadah yang paling murni.
Ketiga, tawadhu yang sejati adalah menghindari ketenaran bahkan ketika ketenaran itu halal. Ketika Khalifah Umar menawarkan uang Baitul Mal, Uwais menolak dan hanya meminta satu hal: “Biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.” Ia tidak ingin terkenal bahkan setelah bertemu dua orang paling berpengaruh di dunia Islam. Wikipedia
Keempat, seseorang yang memberi dari kekurangan lebih mulia dari orang yang memberi dari kelebihan. Uwais menyisihkan upah penggembalaannya yang hanya cukup untuk diri dan ibunya, lalu tetap berbagi untuk tetangga yang lebih kekurangan. Inilah kedermawanan yang paling bersih.
Sumber: Detik.com Hikmah — “Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang Tak Dikenal di Bumi tapi Terkenal di Langit” (bersumber dari buku Uwais al-Qarni: Mutiara Sufi yang Tersembunyi karya Maulana Uwais Ahmed Akhtarul Qaderi); Kompas Cahaya — “Perjuangan dan Bakti Tanpa Batas kepada Ibu” (bersumber dari buku 99 Asmaul Husna karya MB Rahimsyah); NU Online — “Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah”; Masjid Ismuhu Yahya — “Kisah Uwais Al-Qarni dalam Al-Qur’an: Teladan Berbakti kepada Ibu”; MerahPutih — “Kisah Inspiratif, Uwais al-Qarni Sang Penghuni Langit”.