Ulama Preneur | Kisah Keteladanan

Biografi Singkat
Di sebuah kampung Arab bernama Pekojan, di jantung kota Batavia yang ramai dan kosmopolitan, lahir seorang anak pada 17 Rabiul Awal 1238 H / 2 Desember 1822 M. Nama yang kemudian ia sandang adalah Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya al-Alawi — atau yang lebih dikenal luas dengan sebutan Habib Utsman Mufti Betawi.
Dari jalur ayah, nasabnya bersambung langsung kepada Rasulullah ﷺ melalui keluarga Ba’alawi Hadramaut. Dari jalur ibu, ia adalah cucu Syekh Abdurrahman Al-Mishri — ulama asal Mesir yang menetap dan berpengaruh di Betawi. Ditinggal ayah sejak usia tiga tahun, ia diasuh dan dididik oleh sang kakek dalam bahasa Arab, ilmu falak, dan ilmu adab.
Di usia 18 tahun ia berlayar ke Mekkah, bermukim tujuh tahun, dan menyerap ilmu dari guru-guru terbaik Haramayn. Sekembalinya ke Betawi, ia tidak hanya membawa kedalaman ilmu — ia membawa visi yang tidak lazim untuk zamannya: ilmu harus diproduksi, dicetak, dan disebarkan secara sistematis agar menjangkau seluruh lapisan umat. Sayyid Utsman wafat pada tahun 1913 M dalam usia 90 tahun lebih, dan dimakamkan di Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Kisah Preneur: Ketika Ulama Mendirikan Percetakan
Kebanyakan ulama pada zamannya berdakwah dari mulut ke mulut. Sayyid Utsman melakukan itu — namun menambahkan satu dimensi yang tidak dimiliki hampir semua ulama semasanya: ia mendirikan percetakan sendiri.
Dengan mesin litografi — teknologi cetak yang kala itu masih tergolong baru dan mahal — ia membangun perusahaan percetakan yang dikelola secara mandiri. Setiap karya yang ia tulis langsung dicetak di percetakannya sendiri dan disebarkan ke seluruh Nusantara. Di era ketika mayoritas ulama masih mengandalkan penyalinan tangan, Sayyid Utsman sudah memahami kekuatan reproduksi massal sebagai instrumen dakwah. Ia bukan hanya ulama yang menulis — ia adalah penerbit, produser konten, dan distributor ilmu sekaligus dalam satu sosok.
Produktivitasnya menggetarkan. Karyanya mencapai antara 109 hingga lebih dari 120 judul — mencakup tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, sirah nabawiyah, hingga persoalan adat dan kemasyarakatan — dalam bahasa Arab dan Melayu berhuruf Arab pegon. Sebagian hadir sebagai kitab-kitab tebal rujukan keilmuan, sebagian lagi berupa risalah-risalah tipis namun padat yang menjawab persoalan umat secara cepat dan tepat — format yang dalam bahasa digital hari ini tidak berbeda jauh dengan artikel dakwah yang tersebar luas di media sosial.
Model bisnisnya bahkan menembus dua pasar sekaligus: umat yang haus ilmu, dan pemerintah yang membutuhkan panduan keagamaan. Sebagian karyanya dibeli langsung oleh pemerintah Hindia Belanda untuk disebarluaskan — sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kualitas karyanya diakui melampaui batas komunitas Muslim semata.
Peran dan Kontribusi kepada Masyarakat
Sebagai mufti, Sayyid Utsman menjadi rujukan utama dalam berbagai persoalan ibadah dan muamalah — fatwanya didengar tidak hanya oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh sesama ulama. Sebagai pendidik, majelis pengajarannya melahirkan ulama-ulama besar, di antaranya Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang yang namanya hingga kini masih harum di kalangan masyarakat Betawi.
Sebagai penerbit, kontribusinya paling abadi. Karya-karyanya menyebar dari Jawa hingga Sumatera, dari Kalimantan hingga Sulawesi — menjangkau umat jauh melampaui yang bisa dicapai pengajaran lisan. Sebagian karyanya kini tersimpan di Leiden University, Belanda — bukti bahwa pengaruhnya melampaui batas Nusantara dan diakui dunia akademik internasional.
Dalam jaringan keilmuan global, ia aktif menjaga hubungan dengan ulama-ulama besar di luar Nusantara — termasuk Sayyid Yusuf An-Nabhani, Mufti Beirut — memastikan keilmuan Islam Nusantara tetap terhubung dengan arus keilmuan Islam dunia.
Prinsip yang Diterapkan
Pertama, ilmu yang tidak disebarkan adalah ilmu yang tersimpan sia-sia. Ia membangun sistem penyebaran ilmu yang bekerja bahkan ketika ia tidak sedang mengajar — percetakannya adalah perpanjangan tangan dakwahnya yang tidak pernah berhenti.
Kedua, teknologi adalah instrumen dakwah yang harus dikuasai. Mesin litografi adalah teknologi mutakhir zamannya. Sayyid Utsman tidak menghindarinya atas nama tradisi — ia memeluknya sebagai alat mempercepat penyebaran ilmu.
Ketiga, kemandirian produksi adalah kunci kebebasan penyebaran. Dengan percetakan milik sendiri, ia tidak bergantung pada pihak lain. Ia menguasai penuh seluruh rantai produksi — dari pena hingga ke tangan pembaca.
Keempat, produktivitas adalah bentuk syukur tertinggi atas ilmu yang diterima. Lebih dari seratus judul karya bukan lahir dari satu ledakan semangat — melainkan dari kebiasaan berkarya yang konsisten, hari demi hari, sepanjang hayat.
Warisan Peninggalan
Warisan Sayyid Utsman hidup dalam tiga wujud. Pertama, karya-karya tulisnya yang masih dikaji dan diajarkan — baik di Indonesia maupun di koleksi Leiden University. Kedua, tradisi penerbitan Islam yang ia rintis menjadi preseden awal bagi berkembangnya industri penerbitan Islam di Nusantara. Ketiga, murid-muridnya yang tumbuh menjadi ulama besar dan meneruskan estafet keilmuan yang ia bangun — warisan manusia yang tidak akan lapuk oleh waktu.
Pelajaran untuk Entrepreneur Masa Kini
Pertama, kuasai teknologi distribusi sebelum orang lain menyadari kekuatannya. Podcast, media sosial, dan platform digital adalah mesin litografi zaman kita — mereka yang lebih dulu menguasainya akan menjangkau audiens jauh lebih luas.
Kedua, bangun ekosistem produksi yang mandiri. Ketergantungan pada pihak ketiga adalah kerentanan. Miliki platform sendiri, bangun audiens sendiri, jangan sepenuhnya bergantung pada algoritma orang lain.
Ketiga, konsistensi selalu mengalahkan viralitas sesaat. Lebih dari seratus judul karya lahir bukan dari satu momen ajaib, melainkan dari kebiasaan berkarya yang tidak pernah berhenti.
Keempat, reputasi yang dibangun di atas kedalaman ilmu dan integritas menciptakan posisi yang tidak mudah digantikan siapa pun — bahkan pemerintah kolonial pun datang membeli.
Daftar Pustaka
“Sayyid Utsman, Mufti Betawi Era Kolonial Belanda.” Islami.co, 26 Februari 2020. “Sayyid Usman bin Yahya: Mufti dari Betawi.” BincangSyariah.com, 18 Januari 2018. “Sayyid Utsman Betawi dan Pengenalan Habaib di Nusantara.” SanadMedia.com, 20 Januari 2025. “Syekh Sayyid Utsman Betawi: Ulama Kontroversial Masa Kolonial Belanda.” MahadAlyJakarta.com, 30 Maret 2023. “Ketika Sayyid Utsman bin Yahya Menyalakan Sebuah Lampu.” MUI.or.id, 2025. Noupal, M. “Kontroversi Tentang Sayyid Utsman bin Yahya (1822-1914) Sebagai Penasehat Snouck Hurgronje.” Jurnal Studi Keislaman, Palembang. Kaptein, Nico J.G. Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia Belanda: Biografi Sayyid Utsman (1822-1914). Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah, 2017. Azra, Azyumardi. “Ḥadrāmī Scholars in the Malay-Indonesian Diaspora: A Preliminary Study of Sayyid Uthmān.” Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies, Vol. 2, No. 2, 1995. Jakarta Islamic Centre. 27 Habaib Berpengaruh di Betawi. Jakarta: Jakarta Islamic Centre, 2020.
Artikel ini merupakan bagian dari seri Ulama Preneur — menggali jejak para ulama Nusantara yang membuktikan bahwa ilmu, inovasi, dan kemandirian bisa berjalan dalam satu langkah yang kokoh.