Ulama Preneur | Kisah Keteladanan

Biografi Singkat dan Asal-Usul
Nama lengkapnya adalah Kiagus Hadji Muhammad Anang Thajib — disingkat KHM Anang Thajib. Gelar “Kiagus” yang ia sandang bukan sekadar nama panggilan, melainkan sebuah penanda silsilah yang panjang dan terhormat. Nama Kiagus berasal dari KIBAGUS, singkatan dari Kiai Bagus — gelar yang diberikan kepada seorang ulama berdarah Arab yang berdakwah di Kerajaan Demak bernama Syaikh Abdurrahman bin Pangeran Fathullah, yang menikah dengan salah seorang putri dari keluarga Keraton Demak. Muslim.or.idMuslim.or.id
Leluhurnya memilih hijrah ke Palembang di pertengahan abad ke-16, sekitar tahun 1547, pada masa perebutan kekuasaan dalam Kerajaan Demak. Di Palembang, garis keturunan ini dikenal sangat menyukai kegiatan keagamaan dan menjadi donatur untuk menunjang dakwah Islam. Dari akar inilah KHM Anang Thajib tumbuh — membawa darah ulama dari Demak, berpijak di bumi Palembang, lalu merantau jauh ke Bandung untuk membuka lembaran baru yang ternyata mengubah sejarah gerakan Islam di kota kembang itu. Muslim.or.id
KHM Anang Thajib wafat pada tahun 1944 — meninggalkan warisan berupa tanah, masjid, madrasah, dan jaringan persaudaraan keilmuan yang dampaknya jauh melampaui masa hidupnya sendiri. Kompas.tv
Kisah Perjalanan Preneur KHM Anang Thajib
Merantau ke Bandung: Dari Palembang Menuju “Parijs van Java”
Bandung di masa Hindia Belanda adalah kota yang dirancang sebagai pemukiman baru bagi kaum elit Eropa, bahkan sempat mendapat predikat “The Most European City in The East Indies” dan dijuluki “Parijs van Java.” Ke kota inilah para saudagar dari berbagai penjuru Nusantara berdatangan mencari peluang — dan di antara mereka, datanglah keluarga-keluarga Palembang yang membawa semangat dagang dan iman sekaligus. Muslim.or.id
Menurut catatan sejarawan Dadan Wildan dalam Sejarah Perjuangan Persis 1923-1983, orang-orang Palembang di Pasar Baru Bandung telah lama menetap sebagai keturunan dari tiga keluarga yang pindah dari Palembang sejak abad ke-18, ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain dalam hubungan kekerabatan melalui tali perkawinan. Muslim.or.id
KHM Anang Thajib adalah salah satu dari saudagar terkemuka komunitas ini. Usaha yang mereka rintis terutama adalah kain dan barang-barang kelontongan di Pasar Baru Bandung — yang sudah ada sejak tahun 1846 dan mulai dibangun secara permanen pada tahun 1906. Oleh warga Bandung, para pedagang itu disebut sebagai “Urang Pasar.” Muslim.or.id
Pedagang Sukses, Tuan Tanah, dan Wakif
Dari titik sederhana sebagai saudagar di Pasar Baru, KHM Anang Thajib tumbuh menjadi salah satu pedagang pribumi paling sukses dan berpengaruh di Bandung. Sebagai seorang pedagang sukses dan tajir, KHM Anang Thajib dikenal sebagai tuan tanah. Bahkan sesudah wafatnya, tanah-tanah miliknya yang tersebar di pusat kota Bandung tercatat hingga ratusan persil pada Balai Harta Peninggalan atau Weeskamer. Muslim.or.id
Namun yang membedakan KHM Anang Thajib dari saudagar-saudagar sukses lainnya adalah apa yang ia lakukan dengan kekayaan itu. Semasa beliau masih hidup, tidak sedikit dari tanahnya yang telah beliau wakafkan bagi kepentingan sarana ibadah (masjid) dan lembaga pendidikan Islam (madrasah) dan pesantren. Kekayaannya bukan untuk ditumpuk — ia adalah instrumen dakwah yang ia gunakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Muslim.or.id
Menjadi Tulang Punggung Gerakan PERSIS
Di sinilah kisah preneur KHM Anang Thajib mencapai dimensi paling bersejarahnya. Di Bandung, KHM Anang Thajib menikah dengan Nyayu Fatimah. Dari pernikahannya lahirlah putri-putri yang kelak menjadi penghubung antara dirinya dengan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam Indonesia. Salah satu putrinya dinikahi oleh KHM Zamzam — pendiri sekaligus Ketua Umum PERSIS (Persatuan Islam) yang pertama, menjabat dari 1923 hingga 1942. Muslim.or.idKompas.tv
Hubungan mertua-menantu ini bukan hubungan biasa. Di lahan milik KHM Anang Thajib di Jalan Pangeran Sumedang, tidak jauh dari Pasar Baru, berdirilah sebuah pesantren kecil yang dipimpin oleh Syaikh Hasan bin Hamid Al-Anshary, ulama asal Sudan yang merupakan sahabat dan teman sejawat Syaikh Ahmad Surkati. Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, penulis buku Api Sejarah, di lokasi bekas pesantren kecil itu kini berdiri gedung bank di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Otto Iskandardinata. Bincang Syariah
Lebih dari sekadar menyediakan lahan, KHM Anang Thajib adalah tokoh muwakif PERSIS — sosok wakif yang menopang gerakan pembaruan Islam di Bandung dengan kekuatan ekonominya. Di saat para ulama dan aktivis PERSIS membutuhkan tempat berpijak, KHM Anang Thajib hadir dengan tanah, dana, dan dukungan yang memungkinkan gerakan itu tumbuh dari majelis kecil menjadi kekuatan besar dalam sejarah Islam Indonesia. Kompas.tv
Prinsip-Prinsip yang Diterapkan KHM Anang Thajib
- Pertama, bisnis adalah kendaraan dakwah, bukan tujuan akhir.
- Kedua, investasi terbaik adalah investasi pada generasi dan lembaga.
- Ketiga, jaringan keluarga yang dibangun di atas nilai adalah aset yang tak ternilai.
- Keempat, menjadi wakif adalah cara seorang entrepreneur melampaui kematiannya sendiri.
Peran dan Kontribusi Besar kepada Masyarakat
KHM Anang Thajib memainkan peran yang sering kali tidak terlihat namun sangat fundamental dalam sejarah Islam Indonesia: ia adalah penyangga ekonomi gerakan pembaruan. Tanpa fondasi ekonomi yang ia bangun, gerakan PERSIS yang melahirkan tokoh-tokoh seperti A. Hassan dan Mohammad Natsir mungkin tidak akan memiliki ruang fisik untuk tumbuh dan berkembang.
Roda perekonomian warisan dari tiga generasi saudagar pribumi di Bandung terus digelendingkan oleh penerusnya, bahkan semakin maju dan berkembang menjadi basis kekuatan baru umat Islam di tengah arus deras kaum pergerakan yang tengah menunjukkan jati dirinya di hadapan penguasa penjajah. KHM Anang Thajib adalah bagian penting dari ekosistem kekuatan Islam pribumi yang memberikan ruang gerak bagi kaum intelektual dan ulama untuk berjuang. Muslim.or.id
Di tengah dominasi ekonomi kolonial dan pedagang non-pribumi, keberadaan saudagar Muslim pribumi sekelas KHM Anang Thajib adalah pernyataan sikap: bahwa umat Islam bisa berdiri tegak secara ekonomi sekaligus membangun peradaban di atas fondasi nilai-nilai keislaman.
Warisan Peninggalan KHM Anang Thajib
Warisan KHM Anang Thajib tersebar dalam tiga bentuk yang saling melengkapi. Pertama, warisan fisik berupa tanah-tanah wakaf yang menjadi tempat berdirinya masjid, madrasah, dan pesantren di pusat kota Bandung — termasuk lahan yang pernah menjadi pesantren kecil di Jalan Pangeran Sumedang yang menjadi salah satu embrio gerakan pendidikan Islam modern di Bandung.
Kedua, warisan kelembagaan melalui dukungannya kepada PERSIS — organisasi yang kelak melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Natsir, A. Hassan, dan generasi intelektual Muslim Indonesia yang mewarnai sejarah bangsa.
Ketiga, dan mungkin yang paling abadi, adalah warisan model: bahwa ulama dan saudagar bisa berjalan dalam satu sosok, bahwa kekayaan dan kesalehan bukan dua hal yang bertentangan, dan bahwa seorang entrepreneur Muslim yang sejati selalu meninggalkan lebih banyak dari yang ia ambil.
Pelajaran untuk Preneur Masa Kini
Pertama, bangun bisnis yang cukup kuat untuk menopang mimpi yang lebih besar dari sekadar keuntungan pribadi. KHM Anang Thajib berdagang agar ia punya cukup untuk membangun masjid, madrasah, dan menopang gerakan keilmuan — bukan sekadar agar ia punya cukup untuk diri sendiri.
Kedua, jadikan wakaf sebagai exit strategy terbaik dalam bisnismu. Di era modern, konsep ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk: mendirikan yayasan, mengalokasikan sebagian keuntungan untuk pendidikan, atau mewakafkan aset produktif. KHM Anang Thajib mengajarkan bahwa harta yang paling awet adalah harta yang diberikan, bukan yang disimpan.
Ketiga, kenali siapa yang kamu dukung secara ekonomi, karena itu adalah perpanjangan dari nilai-nilaimu. Dukungan KHM Anang Thajib kepada PERSIS bukan kebetulan — ia memilih secara sadar untuk menggabungkan kekuatan ekonominya dengan gerakan keilmuan yang ia yakini, dan hasilnya adalah sinergi yang mengubah sejarah.
Keempat, jaringan yang dibangun di atas kesamaan nilai jauh lebih kuat dari jaringan yang dibangun di atas kesamaan kepentingan semata. KHM Anang Thajib, KHM Zamzam, Syaikh Ahmad Surkati — mereka adalah ekosistem ulama-saudagar yang saling menopang karena dipersatukan oleh visi yang sama tentang kebangkitan Islam, bukan sekadar keuntungan bersama.
Daftar Pustaka
Batarfie, Abdullah Abubakar. “Saudagar Palembang dan Lahirnya Gerakan Pembaharuan Islam di Bandung.” Batarfie.com, 31 Agustus 2021. Diterbitkan ulang di Hidayatullah.com, 16 September 2021. “Kiagus H. Anang Thajib (W. 1944), Tokoh Penting Persis yang Terlupakan.” Risalah, Edisi 07/59, Oktober 2021. Diakses melalui Myedisi.com. “Kiagus H. Anang Thajib: Tokoh Muwakif PERSIS.” Academia.edu, diunggah Januari 2022. Wildan, Dadan. Sejarah Perjuangan Persis 1923-1983. Bandung: Gema Syahid, 1995. Suryanegara, Ahmad Mansyur. Api Sejarah. Bandung: Salamadani, 2009. Federspiel, Howard M. Islam and Ideology in the Emerging Indonesian State: The Persatuan Islam (PERSIS), 1923 to 1957. Leiden: Brill, 2001.
Artikel ini merupakan bagian dari seri Ulama Preneur — menggali jejak para ulama-saudagar Nusantara yang membuktikan bahwa ilmu, iman, dan usaha bisa berjalan dalam satu langkah yang kokoh.