Teungku Chik di Tiro: Ulama yang Turun Gunung Memimpin Jihad

Ulama Nusantara | Kisah Keteladanan

Gambar 1: Teungku Chik di Tiro

Biografi Singkat dan Asal-Usul

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman lahir pada 1 Januari 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah, di Dayah Jrueng, kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia tumbuh dari akar keluarga ulama yang sangat dalam — ayahnya adalah Teungku Syekh Ubaidillah, sementara ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Dari kedua sisi keluarganya, darah keulamaan mengalir deras — sebuah warisan yang membentuk karakter, keilmuan, dan keberaniannya sejak dini. IbtimesNU Online

Di masa kecilnya, Teungku Chik di Tiro hidup dalam lingkungan yang kental dengan ajaran Islam. Ia biasa belajar Al-Qur’an dan ilmu agama “Jawi” kepada ibunya di rumah, dan tulisan Arab kepada ayahnya. Di usia 15 tahun, ia belajar kepada pamannya, Teungku Chik Dayah Tjut di Tiro — mempelajari bermacam ilmu agama, sejarah, serta tasawuf dari kitab-kitab karangan Imam Al-Ghazali. Perjalanan keilmuannya tidak berhenti di situ. Ia kemudian berpindah ke Aceh Besar untuk mendalami ilmu agama selama dua tahun, di mana pada siang hari ia belajar Islam, sementara di malam hari ia bergaul dengan pejuang-pejuang gerilya — sebuah kombinasi yang kelak membentuk sosoknya menjadi ulama sekaligus panglima yang sempurna. Rawda Umroh BandungNU Online

Puncak perjalanan keilmuannya adalah ketika ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Di sana ia memperdalam ilmu agamanya, sekaligus menjumpai pimpinan-pimpinan Islam, hingga ia mulai mengetahui tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Mekkah bukan hanya tempat ia memperdalam ilmu — ia juga menjadi tempat di mana visi jihadnya semakin matang dan mengkristal. Ibtimes


Kisah Perjuangan Teungku Chik di Tiro

Kisah paling monumental dari Teungku Chik di Tiro bermula dari sebuah momen yang mengharukan sekaligus heroik — sebuah rapat darurat yang digelar para ulama Tiro ketika Aceh sedang berada di titik terendah perlawanannya.

Pada 1880, ketika pasukan Belanda dipimpin Jenderal van der Heyden telah menaklukkan daerah Aceh Besar, pejuang Aceh yang bersembunyi di kaki Gunung Seulawah datang berkumpul di Gunung Biram, Lamtamot. Mereka memikirkan langkah yang harus diambil: menyerah atau melawan. Hasil pertemuan itu adalah mereka meminta bantuan dengan mengutus seseorang ke Tiro. Ibtimes

Setelah kedatangan utusan tersebut, ulama Tiro menggelar rapat dua kali di Dayah Krueng dan Daya Lampoh Raja. Hasil pertemuan menyepakati bahwa ulama Tiro harus segera membantu perjuangan di Aceh Besar. Namun, utusan Gunung Biram meminta seorang pemimpin yang harus ikut langsung ke medan perang — karena semangat perlawanan di sana sudah luntur dan membutuhkan sosok yang mampu membangkitkannya kembali. Ibtimes

Di sinilah momen paling menentukan itu terjadi. Orang-orang yang hadir dalam rapat tidak ada yang ingin mengemukakan diri menjadi pemimpin perlawanan. Tiba-tiba, Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut mengatakan bahwa keponakannya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang baru pulang dari Mekkah, hendak berbicara. Ia pun menyatakan bersedia memimpin perang di Aceh Besar. Seorang ulama yang baru pulang dari Tanah Suci, memilih turun langsung ke medan perang — bukan karena terpaksa, melainkan karena panggilan iman yang tidak bisa ia abaikan. Ibtimes

Pada tahun 1880, di tengah keterpurukan moral dan menurunnya semangat juang rakyat Aceh, Teungku Chik di Tiro muncul dengan seruan jihadnya yang menggelegar. Ia menegaskan bahwa mati syahid dalam perjuangan melawan penjajah adalah jalan menuju surga. Fatwa-fatwa dan khotbah-khotbahnya mampu membakar semangat juang rakyat Aceh yang sebelumnya mulai kendor. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengumpulkan sekitar 6.000 tentara bersama para ulama lainnya, dengan dukungan dari Sultan Aceh. Okezone MuslimNU Online

Pada Mei 1881, di Tiro dan pasukannya berhasil merebut Benteng Belanda di Indrapuri, yang kemudian memicu babak baru Perang Aceh. Pada puncak peperangan, daerah kekuasaan Belanda di Aceh yang semula hampir mencakup seluruh wilayah, menyusut drastis hanya menjadi 4 kilometer persegi — sebuah pencapaian militer yang luar biasa bagi pasukan gerilya tanpa persenjataan modern. NU Online

Namun Belanda yang tidak mampu mengalahkannya di medan perang, memilih jalan pengecut. Pada 21 Januari 1891, Chik di Tiro mengalami pengkhianatan — ia diberi makanan beracun oleh putra pemimpin Sagi yang telah bekerja sama dengan Belanda. Setelah memakan hidangan tersebut, ia dibawa ke Benteng Aneuk Galong untuk dirawat, namun nyawanya tak tertolong. Ia wafat dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Meureu, Aceh Besar. NU Online


Peran dan Pengaruh Besar terhadap Masyarakat

Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Peran ini melampaui sekadar fungsi militer — ia adalah pemompa semangat spiritual yang menyelamatkan moral perlawanan rakyat Aceh dari kehancuran total. Ibtimes

Sebagai ulama, ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperluas jaringan perlawanan. Ia memanfaatkan setiap persinggahannya di kota-kota Aceh untuk menyampaikan ceramah tentang perang suci di masjid-masjid, serta mengirim surat kepada ulama-ulama lain untuk menggalang dukungan. Masjid-masjid di Aceh berubah menjadi pusat mobilisasi perlawanan — sebuah strategi dakwah yang sekaligus menjadi strategi perang. NU Online

Kehebatannya sebagai panglima diakui bahkan oleh musuhnya sendiri. Selama ia memimpin peperangan, terjadi empat kali pergantian gubernur Belanda untuk Aceh — Abraham Pruijs van der Hoeven (1881-1883), Philip Franz Laging Tobias (1883-1884), Henry Demmeni (1884-1886), dan Henri Karel Frederik van Teijn (1886-1891). Empat gubernur berganti dalam satu dasawarsa — sebuah bukti nyata betapa besar tekanan yang ia berikan kepada mesin kolonial Belanda. Ibtimes


Warisan Peninggalan Teungku Chik di Tiro

Warisan Teungku Chik di Tiro bukan hanya berupa kisah keberanian di medan perang, melainkan juga tradisi perlawanan berbasis nilai spiritual yang terus menginspirasi generasi sesudahnya. Meskipun Teungku Chik di Tiro telah tiada, semangat jihad dan perlawanan yang ia kobarkan terus membara di kalangan rakyat Aceh selama bertahun-tahun setelah kematiannya. Para penerusnya seperti Teungku Fakinah, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan pejuang lainnya melanjutkan api perjuangan yang telah ia nyalakan. Okezone Muslim

Sebagai penghormatan atas perjuangannya, Presiden Soeharto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Teungku Chik di Tiro melalui Keputusan Presiden No. 987/TK/1973 pada 6 November 1973. Hingga kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia — termasuk salah satu jalan utama di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang setiap hari dilalui oleh jutaan orang tanpa banyak yang mengetahui kisah besar di balik nama itu. NU Online

Makamnya di Meureu, Aceh Besar, masih ramai diziarahi hingga hari ini — menjadi pengingat abadi bahwa pernah ada seorang ulama yang memilih meninggalkan mimbar demi turun ke medan perang, demi menjaga harkat agama dan martabat bangsanya.


Daftar Pustaka

“Teungku Chik di Tiro.” Wikipedia Bahasa Indonesia, diakses Juni 2026. “Teungku Chik di Tiro: Kehidupan, Perjuangan, dan Akhir Hidup.” Kompas.com, 28 Mei 2021. “Teungku Chik di Tiro: Ulama Pejuang yang Rela Berkorban Demi Agama dan Bangsa.” Nukilan.id, 24 Januari 2025. “Teungku Chik Di Tiro, Panglima Perang Sabil.” Paradeshi.co.id, 2 Mei 2023. “Teungku Chik Di Tiro, Pahlawan Asal Pidie Dimakamkan di Meureu Aceh Besar.” Serambi Wiki, 19 Agustus 2020. “Biografi Teungku Chik di Tiro Pahlawan Islam dari Aceh.” Orami.co.id, Juni 2024. Kamajaya. Lima Putera-Puteri Aceh Pahlawan Nasional. Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1981. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 987/TK/1973 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, 6 November 1973.


Artikel ini merupakan bagian dari seri Ulama Nusantara — mengenang dan meneladani para pejuang ilmu yang telah mewarnai peradaban Islam di bumi Indonesia.

Scroll to Top