Syekh Abdus Samad Al-Palimbani: Penyebar Semangat Jihad dari Tanah Palembang

Ulama Nusantara | Kisah Keteladanan

Gambar 1: Syekh Abdus Samad Al-Palimbani

Biografi Singkat dan Asal-Usul

Seperti tampak pada gelar di belakang namanya, Syekh Abdus Samad berasal dari Palembang. Pada waktu kelahirannya, daerah yang kini menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Selatan itu adalah pusat sebuah kerajaan Islam — Kesultanan Palembang yang berdiri sejak pertengahan abad ke-17 M. Di sinilah, di jantung peradaban Islam Sumatera, seorang ulama besar lahir dan dibesarkan. Wikipedia

Syaikh Abdussamad memiliki darah campuran Melayu dan Arab — ayahnya bernama Syaikh Abdul Jalil bin Syaikh Abdul Wahab bin Syaikh Ahmad Al-Mahdani, seorang ulama dari Yaman, dan ibunya Raden Ranti merupakan perempuan keturunan asli Kesultanan Palembang. Perpaduan dua darah ini membentuk sosok yang sekaligus berakar kuat di bumi Nusantara dan terhubung erat dengan tradisi keilmuan Islam di Timur Tengah. Afyan

Syeikh Abdus Shamad mendapat pendidikan dasar dari ayahnya sendiri, Syeikh Abdul Jalil, di Kedah. Kemudian Syeikh Abdul Jalil mengantar semua anaknya ke pondok di negeri Patani — yang pada zaman itu memang menjadi tempat terkemuka untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman dengan sistem pondok yang lebih mendalam. Dari Patani, perjalanan keilmuannya terus berlanjut hingga ke Mekkah dan Madinah, di mana ia bergabung dengan lingkaran ulama-ulama besar Nusantara yang sedang menimba ilmu di Tanah Suci. Afyan

Di Mekkah, ia terlibat dalam masyarakat Jawa dan menjadi teman seperguruan dengan ulama Nusantara lainnya seperti Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan Daud Al-Fatani — empat serangkai ulama yang kelak menjadi pilar-pilar keilmuan Islam Nusantara abad ke-18. Amalsholeh


Kisah Keteladanan

Kisah yang paling menggambarkan karakter Syekh Abdus Samad Al-Palimbani adalah pertemuannya yang tak terduga dengan Tarekat Sammaniyah di Jeddah — sebuah momen yang mengubah seluruh arah perjalanan spiritualnya. Syaikh Abdussamad semula berencana melanjutkan studi ke Al-Azhar, Mesir. Namun dalam perjalanan, ia singgah di Jeddah. Seusai shalat di masjid, ia memperhatikan seorang pria yang berdzikir dengan cara yang berbeda dari biasanya — bukan hanya lisannya yang menyebut nama Allah, tetapi seluruh tubuhnya seakan bergetar seiring lantunan dzikir, seolah digerakkan oleh kekuatan Ilahi. Keingintahuan membuatnya mendekati dan berkenalan dengan pria tersebut, yang ternyata adalah Syaikh Shiddiq Khan, seorang pengikut Tarekat Sammaniyah. Pertemuan singkat namun dahsyat ini mengalihkan arah hidupnya — dari perjalanan ke Mesir, ia memilih mendalami Tarekat Sammaniyah yang kelak ia bawa ke Nusantara. Afyan

Namun keteladanan Syekh Abdus Samad tidak berhenti pada dimensi spiritual semata. Ia adalah ulama yang tidak bisa berdiam diri menyaksikan kezaliman. Oleh karena rasa bencinya kepada Belanda dan melihat pihak Belanda yang kafir telah memegang pemerintahan di lingkungan Islam sementara Sultan tidak memiliki kuasa sedikit pun, ia merasa tidak betah untuk tinggal di Palembang walau itu adalah negeri kelahirannya sendiri. Keputusan yang ia ambil pun menggambarkan betapa teguhnya prinsipnya: lantaran anti Belanda, ia tidak mau menaiki kapal Belanda sehingga terpaksa menebang kayu di hutan untuk membuat perahu bersama murid-muridnya yang setia — sebuah tindakan yang memperlihatkan bahwa baginya, prinsip bukan sesuatu yang hanya diucapkan di atas mimbar, melainkan sesuatu yang hidup dalam setiap pilihan nyata. BmmBmm

Dari Mekkah, semangatnya untuk membebaskan Nusantara dari penjajahan tidak pernah padam. Ia menulis surat-surat yang membakar semangat perlawanan, menyerukan jihad kepada para penguasa dan rakyat Nusantara agar tidak tunduk kepada penjajah.


Peran dan Pengaruh Besar terhadap Masyarakat

Syekh Abdussamad Al-Palimbani terkenal karena berperan dalam penyebaran Islam melalui karya-karya kitabnya dan mengajar sejumlah ulama Indonesia yang belajar ke Arab Saudi. Pengaruhnya merentang dua bidang sekaligus: keilmuan tasawuf dan perlawanan terhadap penjajahan. Amalsholeh

Dalam bidang keilmuan, ia tercatat sebagai ulama Nusantara pertama yang lulus dari lembaga pendidikan Islam di Mekkah dan Madinah dalam bidang sufisme dan teologi. Lebih dari itu, ia menjadi satu-satunya ulama dari Palembang — bahkan satu-satunya dari seluruh Nusantara — yang namanya tercatat dalam kamus biografi Arab, Hilyat Al-Basyar fi Tarikh Al-Qarn Al-Tsalist Asyar. Sebuah pengakuan luar biasa yang membuktikan bahwa reputasi keilmuannya diakui jauh melampaui batas geografis Nusantara. AmalsholehAmalsholeh

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara, melengkapi nama-nama ulama berpengaruh seangkatannya seperti Al-Raniri, Al-Banjari, Hamzah Fansuri, dan Yusuf Al-Maqassari. Dalam bidang perlawanan terhadap penjajahan, ia menjadi salah satu ulama pertama yang secara sistematis menggerakkan semangat jihad melalui tulisan — sebuah strategi perlawanan yang jauh melampaui kemampuan senjata pada zamannya. Amalsholeh


Warisan Peninggalan

Warisan terbesar Syekh Abdus Samad Al-Palimbani adalah karya-karya tulisnya yang terus dibaca dan dikaji hingga hari ini. Dua karyanya yang paling monumental adalah Hidayat As-Salikin dan Siyar As-Salikin — keduanya merupakan adaptasi dan pengembangan dari karya Imam Al-Ghazali yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, sehingga ajaran tasawuf yang semula hanya bisa diakses oleh kalangan terpelajar berbahasa Arab menjadi terbuka luas bagi seluruh masyarakat Nusantara.

Di Nusantara, khususnya Indonesia, pengaruh Al-Palimbani dianggap cukup besar, khususnya berkaitan dengan ajaran tasawuf. Melalui karya-karyanya, Tarekat Sammaniyah yang ia bawa dari Mekkah menyebar luas di Palembang dan sekitarnya, membentuk corak keislaman masyarakat Sumatera yang kental dengan nuansa tasawuf hingga generasi-generasi sesudahnya. Bmm

Selain itu, semangat anti-kolonialisme yang ia nyalakan melalui tulisan-tulisannya menjadi inspirasi perlawanan yang terus diwarisi oleh para ulama dan pemimpin perjuangan sesudahnya. Syaikh Abdus-Samad Al-Palimbani berperan penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah — sebuah warisan yang melampaui batas keilmuan dan menyentuh langsung sejarah perjuangan bangsa. Darunnajah


Daftar Pustaka

“Biografi Syekh Abdussamad Al-Palimbani.” Kompas.com, 18 Maret 2024. “Teladan Ilmu dan Perjuangan Syekh Abdus Samad Al-Palimbani.” Republika Online / Ihram.co.id, 7 Februari 2022. “Mengenal Syeikh Abdush Shamad Al-Palimbani, Ulama Tasawuf Asal Sumatera.” InPAS Online, 17 Februari 2024. “Jejak Ulama Palembang Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, Penyebar Semangat Jihad Anti Penjajahan.” RMOL Sumsel, 16 Mei 2023. “Biografi Syekh Abdus Samad Al-Palembani.” Laduni.id, diakses Juni 2026. Masyrullahushomad. “Peranan Syaikh Abdus-Samad Al-Palimbani dalam Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajah Abad XVIII.” Danadyaksa Historica, Universitas Muhammadiyah Palembang. Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Prenada Media, 2004. Abdullah, Mal An. Syaikh Abdus-Samad Al-Palimbani: Biografi dan Warisan Keilmuan. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019. Quzwain, M. Chatib. Mengenal Allah: Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh Abdus-Samad Al-Palimbani. Jakarta: Bulan Bintang, 1985. Van Bruinessen, Martin. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Bandung: Mizan, 1994.


Artikel ini merupakan bagian dari seri Ulama Nusantara — mengenang dan meneladani para pejuang ilmu yang telah mewarnai peradaban Islam di bumi Indonesia.

Scroll to Top