Geografi dan Asal-Usul
Thawus bin Kaisan adalah Abu Abdirrahman Thawus bin Kaisan al-Yamani al-Himyari, termasuk anak keturunan bangsa Persia, sedang ayahnya dari kaum Qasith. Beliau termasuk kibar at-tabi’in — tabi’in senior — sangat dikenal dalam memberi wasiat dan nasihat, dan tidak gentar dalam meluruskan setiap kesalahan. ResearchGate
Ada yang berkata bahwa nama asli beliau adalah Dzakhwan, sedangkan Thawus adalah nama julukan karena dia laksana thawus — burung merak — bagi para fuqaha dan pemuka pada masanya. Blogger
Yaman pada masa itu adalah negeri yang subur — tanah hijau yang diapit pegunungan di barat dan padang luas di timur, terkenal sebagai salah satu peradaban pertanian tertua di Jazirah Arabia. Thawus bin Kaisan tinggal di sebuah desa di dekat Shan’a yang disebut dengan al-Janad — sebuah desa kecil yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk istana dan kota besar. Dari desa itulah ia menjalani hidupnya sebagai seorang yang mengolah tanah, menghidupi keluarga dari keringat sendiri, dan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat sekitarnya. Rentak
Imam adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Thawus bin Kaisan lahir pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan atau bahkan sebelumnya. Beliau adalah murid dari sahabat Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Abbas — bahkan termasuk murid khusus Ibnu Abbas — Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr bin Ash, Zaid bin Arqam, Abu Hurairah, dan Aisyah radhiyallahu’anhum. Mandailing Online
Thawus bin Kaisan sebagai Pengolah Tanah: Antara Bumi dan Langit
Thawus bin Kaisan adalah gambaran seorang Muslim yang menjadikan tanah sebagai ladang ibadah. Ia mengolah bumi Yaman yang subur, menghidupi keluarganya dari hasil yang halal, dan menjadikan kemandirian ekonominya sebagai benteng yang melindungi kemerdekaan lisannya. Seorang ulama yang bergantung pada belas kasihan penguasa tidak akan berani berkata jujur. Namun seorang ulama yang menghidupi diri dari tanahnya sendiri akan berdiri tegak di hadapan siapapun.
Ibnu Hibban mengatakan: “Dia termasuk ahli ibadah dari penduduk Yaman, salah seorang ahli fikih mereka, dan salah satu pemuka tabi’in.” Prinsip hidupnya sederhana namun kokoh: tanah memberinya rezeki, ilmu memberinya cahaya, dan keduanya ia jaga agar tidak dikotori oleh pemberian tangan-tangan penguasa yang zalim. Blogger
Kisah: Tujuh Ratus Dinar yang Dilempar ke Sudut Dinding
Ini adalah kisah yang paling masyhur dan paling mengguncang dari kehidupan Thawus bin Kaisan — sebuah peristiwa yang membuktikan bahwa kemandirian seorang petani ulama tidak bisa dibeli dengan emas sebanyak apapun.
Thawus bin Kaisan adalah penduduk Yaman, gubernurnya saat itu adalah Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi, saudara dari Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj menempatkan saudaranya itu sebagai wali setelah kekuasaannya menguat. Muhammad bin Yusuf mewarisi banyak sifat jahat saudaranya, namun tak sedikit pun kebaikan Hajjaj yang diambilnya. Mandailing Online
Gubernur yang zalim ini berkali-kali mencoba membungkam kritik tajam Thawus dengan cara yang paling halus: hadiah. Namun setiap kali, Thawus menolaknya mentah-mentah.
Suatu ketika, Muhammad bin Yusuf ingin melipatgandakan pemberiannya. Diutuslah seorang pegawainya yang cerdik sambil berpesan: “Pergilah! Bawa kantong ini pada Thawus bin Kaisan. Upayakan agar ia mau menerimanya. Kalau kau berhasil, aku akan memberi hadiah yang banyak kepadamu. Aku akan naikkan pangkatmu!” Rentak
Pegawai itu pun berangkat ke desa al-Janad membawa kantong berisi 700 dinar emas. Sesampainya di rumah Thawus, ia menyampaikan hadiahnya dengan penuh keramahan. Thawus menjawab singkat: “Aku tidak membutuhkannya.” Utusan itu berkali-kali mendesaknya dengan segala cara, namun Thawus tetap menolak. Akhirnya, secara diam-diam utusan itu menaruh pundi-pundi berisi 700 dinar itu di salah satu sudut rumah Thawus, lalu pergi dan melapor kepada gubernur bahwa Thawus telah menerimanya. Mandailing Online
Gubernur pun bergembira. Namun tidak lama kemudian, ia mengutus orang kembali ke rumah Thawus dengan dalih “salah pengiriman” — sebenarnya ingin memastikan uang itu diterima. Ketika utusan itu tiba dan menyampaikan maksudnya, Thawus berkata dengan tenang: “Apa yang Anda katakan memang benar jika aku tidak mengkhawatirkan para ulama setelah kita berkata, ‘Kami akan mengambil seperti Thawus bin Kaisan,’ akan tetapi mereka tidak melakukan seperti yang aku ucapkan — yakni menjual dan menyedekahkannya kepada fakir miskin.” Rentak
Thawus mengambil kembali kantong itu dan mengembalikannya bulat-bulat. 700 dinar emas — ditolak. Bukan karena ia kaya. Bukan karena ia tidak butuh. Tetapi karena ia tahu bahwa menerima hadiah penguasa akan menutup mulutnya dari kebenaran, dan kebenaran jauh lebih mahal dari 700 dinar manapun.
Di lain waktu, ketika Thawus sedang bersujud di musim dingin tanpa pakaian tebal, Muhammad bin Yusuf yang kebetulan lewat memerintahkan pengawalnya melemparkan beberapa helai baju tebal ke atas punggung Thawus yang sedang sujud. Selesai shalat, Thawus melihat tumpukan pakaian itu, mengerti bahwa itu kiriman penguasa, lalu menendangnya ke tepi dan berjalan pulang tanpa menoleh sedikit pun. Rentak
Peran dalam Masyarakat
Di bawah bimbingan 50 ulama alumnus Madrasah Muhammad ﷺ, Thawus seakan menjelma menjadi duplikat bagi para sahabat Rasulullah dalam kemantapan iman, kejujuran kata-kata, kezuhudan terhadap dunia, dan keberanian dalam menyerukan kalimat yang benar kendati harus ditebus dengan harga yang mahal. Blogger
Thawus bin Kaisan hadir di masyarakatnya bukan sekadar sebagai pengolah tanah, tetapi sebagai penjaga moral. Ia adalah suara yang berani ketika orang-orang diam, nasihat yang lurus ketika penguasa bengkok, dan teladan hidup bahwa seorang yang bekerja dengan tangannya sendiri bisa berdiri lebih tegak dari siapapun.
Ketika bertemu Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Thawus berkata dengan berani: “Wahai Amirulmukminin, sesungguhnya di dalam neraka jahanam itu ada sebuah sumur. Jika dilemparkan sebuah batu dari tepinya, batu tersebut akan melayang-layang selama 70 tahun sebelum tiba di dasarnya. Tahukah Anda, bagi siapakah Allah menyediakan sumur itu?” Khalifah menjawab tidak tahu. Thawus berkata: “Disediakan bagi mereka yang menyekutukan Allah dalam kekuasaan-Nya lalu berbuat aniaya.” Mendengar ini, gemetarlah tubuh sang khalifah dan ia menangis terisak-isak. Rentak
Pengaruh kepada Masyarakat
Atha bin Abi Rabah meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Sungguh aku menyangka bahwa Thawus adalah termasuk penduduk surga.” Pengakuan sebesar ini dari seorang sahabat mulia adalah bukti betapa luar biasanya pengaruh dan ketinggian akhlak Thawus di mata orang-orang yang mengenalnya. NU Online
Ibnu Uyainah menyimpulkan: “Ada tiga orang yang selalu menjauhi penguasa pada zaman masing-masing, yaitu Abu Dzar, Thawus, dan Ats-Tsauri.” Amr bin Dinar pula berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih mampu menahan dirinya dari mengambil kepunyaan orang lain selain dari Thawus.” Mandailing Online
Thawus bin Kaisan berhaji sebanyak 40 kali sepanjang hidupnya. Semoga Allah merahmati Abu Abdirrahman. Dan ketika ia wafat, jenazahnya dishalatkan oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik sendiri — penguasa yang pernah ia nasihati dengan keras. Ini adalah ironi yang indah: seorang petani desa yang selalu menolak hadiah penguasa, dishalatkan oleh penguasa itu sendiri saat wafat. NU OnlineBlogger
Ayat dan Hadits
وَقُل لِّلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dinilai hasan)
Penutup
Thawus bin Kaisan mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa dekat ia dengan istana, melainkan dari seberapa jauh ia menjaga dirinya dari ketergantungan kepada tangan-tangan penguasa. Dari tanahnya di al-Janad, ia menghidupi diri dengan halal. Dari ilmunya, ia menghidupi masyarakatnya dengan kebenaran. Dan dari keberaniannya, ia mewariskan kepada generasi sesudahnya bahwa seorang Muslim yang benar-benar merdeka adalah ia yang perutnya diisi oleh tangannya sendiri, dan lisannya diisi oleh kebenaran dari Tuhannya.
“Ada tiga orang yang selalu menjauhi penguasa pada zaman masing-masing: Abu Dzar, Thawus, dan Ats-Tsauri.” — Ibnu Uyainah.
Wallahu a’lam bishawab.