
Biografi Singkat
Nu’man bin Tsabit bin Marzuban, atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Hanifah, lahir di Kota Kufah pada tahun 80 H/699 M dan wafat di Kota Baghdad pada tahun 150 H/767 M. Beliau tumbuh di dalam keluarga yang saleh dan kaya. Ayahnya, Tsabit, merupakan seorang pedagang sutra yang masuk Islam pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Blogger
Sebelum masuk ke dunia santri, putra Nu’man ini adalah seorang wiraswasta. Hari-harinya selalu di pasar, membantu sang ayah berjualan sutra. Saat di rumah, ia sibuk memikirkan bagaimana memproduksi kain-kain sutra pilihan. Sosoknya kelak dikenal sebagai ulama entrepreneur — seorang yang memahami pasar sekaligus memahami hukum. Startfmmadina
Titik balik hidupnya datang dari seorang ulama bernama Al-Sya’bi. Al-Sya’bi mengatakan kepada Abu Hanifah: “Kamu harus memperdalam ilmu dan mengikuti halaqah para ulama, karena kamu cerdas dan memiliki potensi yang sangat tinggi.” Sejak saat itu ia bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Jumlah total guru Imam Abu Hanifah tidak kurang dari 4.000 orang guru. Di antaranya 7 orang dari sahabat Nabi, 93 orang dari kalangan tabi’in, dan sisanya dari kalangan tabi’ at-tabi’in. BloggerBlogger
Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150 Hijriah dalam usia 70 tahun. Ketika jenazahnya dibawa untuk disalatkan di Baghdad, umat Islam begitu banyak yang ingin menyalatkannya sehingga proses salat jenazah dilakukan enam kali karena padatnya kerumunan. Laduni
Kisah Paling Mashur: Menyedekahkan Ribuan Dirham karena Mitra Dagang Lupa Satu Pesan
Di antara seluruh kisah yang beredar tentang Imam Abu Hanifah, satu kisah paling sering dikutip para ulama dan cendekiawan hingga hari ini — sebuah kisah yang lahir bukan dari mimbar pengajian, melainkan dari lantai pasar yang ramai.
Syaqiq Al-Balkhi berkisah, Imam Abu Hanifah memilih seorang mitra dalam perdagangannya bernama Basyar. Suatu ketika, Imam Abu Hanifah meminta Basyar menjalankan aktivitas dagang kain khuzz. Sambil berpesan kepada Basyar bahwa di antara kain-kain itu ada yang cacat, disertai petunjuk yang jelas, ia diminta untuk memberitahu cacat tersebut kepada setiap pembeli. Mujahid Dakwah
Bayangkan: itu bukan permintaan mudah. Di pasar Kufah yang hiruk-pikuk, ramai oleh pedagang dari segala penjuru, dengan pembeli yang datang silih berganti dan transaksi terjadi dalam hitungan menit — mengingat setiap detail pesan dari sang mitra adalah tantangan tersendiri. Namun bagi Abu Hanifah, itu bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Setelah berselang waktu, Basyar kembali ke Kufah dengan hasil bisnis yang berhasil — semua dagangan terjual. Sebagaimana pesan Imam Abu Hanifah di awal, ia pun memastikan kepada Basyar: “Apakah kamu telah menerangkan kecacatan yang ada pada barang yang aku pesankan kepadamu kemarin?” Basyar menjawab, “Maaf, saya telah lalai!” Mujahid Dakwah
Basyar lupa. Hanya satu pesan. Namun bagi Abu Hanifah, satu pesan yang terlupa itu sudah cukup mencampuri kehalalan seluruh hasil dagangan. Akibat kelalaian ini, Imam Abu Hanifah menyedekahkan semua yang tertimpa campur — baik modal maupun pengembangannya — seluruhnya. Ia berkata: “Harta itu telah bercampur dengan syubhat, dan aku tidak membutuhkannya.” Facebook
Dalam riwayat lain yang lebih detail, disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah mengirim 70 helai kain melalui Al-Bisyr untuk dijual di Mesir, dengan surat yang menjelaskan mana kain yang cacat agar diberitahukan kepada pembeli. Al-Bisyr kembali dengan hasil penjualan sebanyak 3.000 keping dinar — setara sekitar 12,75 kg emas. Namun ketika ditanya apakah ia telah menjelaskan cacat kain itu kepada pembeli, Al-Bisyr tidak bisa memastikannya. Maka sang imam berdiri, lalu menyedekahkan seluruh hasil penjualan 70 helai kain tersebut. Wikipedia
Yang membuat kisah ini semakin menggetarkan adalah bagaimana Abu Hanifah menyikapinya. Ia tidak marah atas keteledoran itu. Jangankan sampai marah, komentar pun tidak. Abu Hanifah malahan menyikapinya dengan senyum ramah. Dua belas setengah kilogram emas dilepasnya dengan senyum, karena baginya harta yang bercampur syubhat jauh lebih berat dibanding kehilangannya. Pengawal
Peran dalam Masyarakat
Di Kufah, Abu Hanifah duduk di tokonya sambil berdiskusi tentang hukum dan Al-Qur’an. Ia tidak mengenakan pakaian istana, juga tidak berdiri di mimbar megah. Namun dari toko kecil itulah lahir salah satu mazhab fikih terbesar dalam sejarah Islam. Start News
Sering ada orang lewat yang ikut duduk di majelisnya tanpa sengaja. Ketika orang itu hendak beranjak pergi, Abu Hanifah segera menghampirinya dan bertanya tentang kebutuhannya. Jika ia punya kebutuhan, Abu Hanifah akan memberinya. Jika sakit, akan ia antarkan. Jika memiliki utang, maka ia akan membayarkannya, sehingga terjalinlah hubungan baik antara keduanya. Muslim.or.id
Imam Abu Hanifah tidak mau menerima bantuan pemerintah. Seluruh biaya hidupnya ditanggung sendiri dan diperoleh dari hasil usaha dagangannya — berbeda dengan Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki, yang biaya hidupnya ditanggung seluruhnya oleh baitul mal. Blogger
Pengaruhnya
Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i termasuk orang pertama yang mengakui keunggulan Abu Hanifah. Dalam karya Syekh Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, diabadikan pengakuan As-Syafi’i: “Transmisi keilmuan umat Islam dalam bidang fikih berinduk kepada Abu Hanifah.” Startfmmadina
Abu Hanifah hidup dalam dua kekuasaan: Umayyah selama 52 tahun dan Abbasiyah selama 18 tahun. Saat keduanya berkuasa, Imam Abu Hanifah pernah ditawari jabatan hakim dan menolak tawaran tersebut. Hal tersebut membuatnya dipenjara dan dicambuk berkali-kali, hingga akhirnya beliau keluar dari penjara dan wafat. Ia memilih siksa penjara daripada menggadaikan independensi ilmunya kepada kekuasaan. Blogger
Imam Abu Hanifah merupakan seorang yang tidak menganggap bahwa pendapat selain dirinya adalah salah. Beliau sering mengatakan: “Apa yang aku sampaikan ini adalah sekadar pendapat. Ini yang dapat aku usahakan semampuku. Jika ada pendapat yang lebih baik dari ini, ia lebih patut diambil.” Sebuah kerendahan hati yang langka dari seorang yang menjadi rujukan fikih seluruh dunia. Blogger
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Dari perjalanan hidup Imam Abu Hanifah, ada empat hikmah mendalam yang layak direnungkan.
Pertama, kejujuran dalam muamalah bukan sekadar etika, melainkan ibadah. Abu Hanifah melepas ribuan dinar dengan lapang dada karena satu pesan soal kecacatan kain tidak tersampaikan. Di era transaksi digital yang rentan penipuan hari ini, kisah ini adalah tamparan sekaligus cermin.
Kedua, terlambat memulai bukan alasan untuk tidak menjadi yang terbaik. Abu Hanifah termasuk satu dari sekian ulama yang terlambat belajar. Namun berkat ketekunan dan kecerdasan yang dimilikinya, ia mampu mengalahkan orang-orang yang belajar jauh sebelum dirinya. Startfmmadina
Ketiga, kemandirian finansial adalah penjaga kemerdekaan ilmu. Dengan tidak menerima satu dirham pun dari penguasa, Abu Hanifah bebas mengatakan yang benar meski berujung penjara. Ilmu yang bergantung pada kekuasaan akan selalu tunduk pada kekuasaan.
Keempat, tawadhu seorang alim terlihat dari cara ia memperlakukan pendapatnya sendiri. Seorang yang menjadi sandaran fikih jutaan umat masih berkata “barangkali aku keliru.” Inilah puncak kerendahan hati yang sejati.
Sumber: NU Online — “Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya”; NU Online — “Saat Sales Marketing Imam Hanafi Lupa Jelaskan Kecacatan Barang” (dari kitab Irsyadul Ibad karya Syekh Zainuddin Al-Malibariy); PengusahaMuslim.com — “Menyembunyikan Cacat Barang, Transaksi Tak Sah?” (dari riwayat Abu Said Al-Khadimy); Islami.co — “Abu Hanifah dan Sikap Jujurnya dalam Bisnis” (dari kitab Al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin Al-Qulyubi); An-Nur.ac.id & Wirabuana.ac.id — “Imam Abu Hanifah: Biografi dan Kisah Teladan”.