Biografi Singkat
Nama lengkap beliau adalah Hammad bin Salamah bin Dinar, imam panutan, Syaikhul Islam Abu Salamah al-Bashri an-Nahwi, maula Alu Rabi’ah bin Malik, dan anak saudara perempuan Humaid ath-Thawil. Menurut pendapat yang masyhur ia lahir pada tahun 91 H. Wikipedia
Hammad bin Salamah dikenal sebagai sosok ulama ahli hadis. Dalam kehidupannya ia juga dikenal sebagai orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah dan sedikit berkecimpung dalam kekuasaan. Salah satu keistimewaan yang dimilikinya adalah mampu menaklukkan kekuatan penguasa dengan sangat mudah. Kliksumut
Bidang ilmu yang digelutinya adalah hadis, sama seperti Al-Auza’i dan Sufyan Ats-Tsauri. Di antara guru-guru beliau adalah Tsabit Al-Bunani, Qatadah, pamannya Humaid ath-Thawil, Ishaq bin Abdillah Abi Thalhah, dan Anas bin Sirin. Sedangkan di antara murid-muridnya adalah Ibnu Juraij, Ats-Tsauri, Syu’bah — yang ketiganya bahkan lebih tua dari Hammad — serta Ibnul Mubarak dan Ibnul Mahdi. Wikipedia
Hammad bin Salamah wafat pada tahun 167 H dalam usia 76 tahun. Dan cara wafatnya pun sungguh menakjubkan: Yunus bin Muhammad al-Mu’addib mengatakan, “Hammad meninggal saat shalat di masjid.” Ia menghembuskan nafas terakhir di tempat paling ia cintai, dalam keadaan yang paling ia sukai. Republika OnlineWikipedia
Kisah Paling Mashur: Menolak Hadiah demi Menjaga Kejernihan Ilmu
Di antara sekian banyak kisah tentang Hammad bin Salamah, satu kisah yang paling sering dikutip para ulama adalah tentang kewaraan dan kehati-hatiannya menjaga jarak antara dirinya dan harta — khususnya agar ilmu yang ia sampaikan tidak ternodai oleh kepentingan apapun.
Dari Muhammad bin Al-Hajjad, ia berkata, “Ada seorang yang mendengar ceramah dari Hammad bersama kami. Pada suatu hari orang tersebut pergi ke Cina, dan ketika kembali ia memberikan hadiah kepada Hammad. Hammad berkata kepadanya, ‘Jika aku menerima pemberianmu maka aku tidak akan bercerita tentang hadits lagi kepadamu. Dan jika aku tidak menerima pemberianmu maka aku akan bercerita tentang hadits kepadamu.’ Maka orang tersebut berkata, ‘Janganlah engkau menerima hadiah itu, dan ceritakanlah hadits kepadamu.'” Wikipedia
Bayangkan dramanya: seorang murid yang baru kembali dari perjalanan jauh ke Cina membawa oleh-oleh untuk gurunya — sebuah tanda kasih dan penghargaan yang sangat wajar. Namun Hammad justru meletakkan muridnya itu di hadapan dua pilihan yang keduanya sama-sama menyakitkan: terima hadiah, tapi ilmu berhenti mengalir; atau kembalikan hadiah, dan ilmu terus mengalir.
Bagi Hammad, hubungan antara guru dan murid dalam jalur ilmu adalah sesuatu yang harus steril dari pertukaran materi. Begitu ada hadiah yang masuk, maka ada kemungkinan — meski tipis — bahwa hadis yang ia sampaikan tidak lagi sepenuhnya karena Allah. Dan itu tidak bisa ia toleransi.
Sikap wara’ ini bahkan menembus ranah kekuasaan. Dari Musa bin Ismail, ia berkata, “Aku mendengar Hammad berkata kepada seseorang, ‘Jika seorang penguasa mengundangmu, hendaknya engkau membaca: Qul huwallahu ahad. Maka janganlah engkau datang kepadanya’ — karena Hammad tidak suka diberi hadiah setelah itu.” Wikipedia
Dari Al-Bukhari, ia berkata, “Aku mendengar Adam bin Abil Iyyas berkata, ‘Aku mendengar Hammad bin Salamah diundang seorang penguasa dan ia berkata: Apa aku harus memperlihatkan jenggot pirangku kepada mereka? Tidak, sungguh aku tidak mendatangi undangan tersebut.'” ResearchGate
Seorang ulama tua berjenggot putih, yang ilmunya diakui oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Mubarak, menolak undangan penguasa semata karena khawatir hatinya ikut tunduk. Inilah standar kewaraan yang membuat ilmunya tetap bersih hingga tiga belas abad kemudian.
Peran dalam Masyarakat
Hammad bin Salamah membagi siang harinya secara disiplin. Musa bin Ismail menuturkan, “Seandainya aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak pernah melihat Hammad tertawa, niscaya aku berkata benar. Dia sibuk, baik menceritakan hadits, membaca Al-Qur’an, bertasbih, atau shalat. Dia membagi siang sedemikian rupa.” Wikipedia
Hammad memberi makanan berbuka puasa bagi 50 orang pada setiap hari di bulan Ramadhan. Dan apabila datang malam hari raya, beliau memberikan setiap seorang dari mereka sepasang baju. Seorang yang makan sedikit untuk dirinya sendiri, tetapi memberi makan banyak untuk orang lain — itulah gambaran konkret zuhudnya. Wikipedia
Pengaruhnya
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan tentang beliau, “Jika kaulihat seseorang membenci Hammad atau memfitnahnya, saksikanlah bahwa dia adalah musuh kebenaran dan musuh sunnah.” Facebook
Abdullah bin Mubarak berkata, “Ketika masuk Bashrah, aku tidak mengetahui ada orang yang tingkah lakunya seperti orang-orang generasi pertama kecuali Hammad bin Salamah.” Pujian dari seorang yang dikenal sebagai imam para zahid — bukan pujian yang mudah keluar dari lisannya. Republika Online
Dari Abdurrahman bin Mahdi ia berkata, “Seandainya dikatakan kepada Hammad, ‘Kamu akan mati besok,’ maka dengan sekuat tenaga ia akan menambah amal-amal kebaikannya.” Kesaksian ini bukan hanya tentang ibadah, melainkan tentang konsistensi — ia tidak pernah menganggap dirinya sudah cukup beramal, bahkan di penghujung usianya. Wikipedia
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Dari perjalanan hidup Hammad bin Salamah, ada empat hikmah yang layak direnungkan.
Pertama, ilmu yang bersih hanya lahir dari hati yang bersih dari kepentingan. Hammad menolak hadiah muridnya bukan karena tidak suka diberi, melainkan karena ia tidak mau ada celah walau sekecil apapun yang bisa mencampuri keikhlasannya dalam menyampaikan hadis Nabi.
Kedua, jarak dari penguasa adalah salah satu penjaga kemerdekaan seorang ulama. Hammad konsisten menghindari undangan penguasa, bukan karena membenci mereka, melainkan karena ia paham bahwa kedekatan dengan kekuasaan selalu membawa godaan — walau halus dan tidak terasa.
Ketiga, tawadhu yang sejati adalah selalu merasa kurang beramal. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Hammad, “Apakah engkau memandang bahwa Allah akan mengampuni orang sepertiku?” Hammad menjawab, “Demi Allah, sekiranya aku diberi pilihan antara muhasabah Allah terhadapku dengan muhasabah kedua orang tuaku, niscaya aku memilih muhasabah Allah. Karena Allah lebih sayang kepadaku daripada kedua orang tuaku.” Wikipedia
Keempat, cara seseorang mengakhiri hidupnya mencerminkan bagaimana ia menjalaninya. Hammad bin Salamah menghabiskan hidupnya dalam shalat, zikir, dan tilawah — maka wajar Allah mengizinkan ia menutup mata di tempat yang paling ia cintai: dalam keadaan sujud di masjid.
Sumber: Yayasan Takrimul Quran — “Hammad bin Salamah” (Maret 2024, bersumber dari kitab Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim al-Asfahani, Tahdzib Al-Kamal, Siyar A’lam An-Nubala’); Islami.co — “Kisah Hammad bin Salamah dengan Perempuan Ahli Ibadah” (bersumber dari Hilyatul Auliya wa Thabaqat al-Asfiya’); Al-Sofwa — “Hamad bin Salamah”; Salim A. Fillah — “Hammad” (Januari 2017).