Abu Yazid Al-Busthami: Raja Para Sufi yang Menemukan Ma’rifat di Kaki Sang Ibu

Gambar 1: Abu Yazid Al-Busthami

Biografi Singkat

Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al-Busthami lahir di Bustham, bagian timur laut Persia, sekitar tahun 200 H/814 M dan wafat di tempat yang sama pada tahun 261 H/875 M. Makamnya masih ada hingga kini, bahkan Sultan Mongol membangun kubah yang megah di atasnya sebagai tanda penghormatan. Republika Online

Abu Yazid dikenal sebagai anak saleh dalam keluarga yang taat beragama. Ibunya dengan tekun membimbingnya belajar agama sejak kecil. Sebelum menjadi sufi, ia adalah seorang fakih bermazhab Hanafi. Titik balik hidupnya datang dari sebuah ayat Al-Qur’an yang ia dengar dalam pengajian tafsir — ketika gurunya menjelaskan Surat Luqman ayat 14, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu,” ayat itu menggetarkan hati Abu Yazid dan mengingatkannya pada ibunya di rumah. ResearchGate + 2

Abu Yazid berkata kepada ibunya, “Aku tidak dapat mengurus dua rumah dalam waktu yang bersamaan. Wahai ibu, mintalah diriku kepada Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang, atau serahkanlah aku kepada Allah semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata.” Ibunya menjawab, “Anakku, aku serahkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau menjadi hamba Allah.” Setelah ibunya menyerahkannya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bistham dan selama tiga puluh tahun berkelana dari satu daerah ke daerah lain, mendisiplinkan dirinya dengan ibadah, mendatangi 113 pembimbing spiritual dan mengambil manfaat dari mereka semua. UinsuIainlhokseumawe


Kisah Paling Mashur: Kendi yang Membeku di Tangan Sepanjang Malam

Di antara seluruh kisah tentang Abu Yazid Al-Busthami, satu kisah yang paling sering dikutip para ulama dan paling menyentuh hati adalah kisah yang ia ceritakan sendiri — sebuah peristiwa kecil di tengah malam yang justru menjadi kunci dari seluruh perjalanan spiritualnya.

Abu Yazid berkata, “Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling ringan, paling sepele di antara yang lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari — segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Allah.” Kuliahalislam

Lalu ia menceritakan peristiwa itu: “Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Aku pun mengambilnya. Ternyata di dalam tempayan kami tak ada air. Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itu pun kosong. Oleh karena itu, aku pergi ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur.” Zapjournals

Di sinilah kisah ini menjadi luar biasa. Seorang pemuda yang baru saja berjalan ke sungai di tengah malam, di udara yang dingin menusuk — tidak meletakkan kendi itu, tidak tidur, tidak beristirahat.

“Malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian memberkati diriku. Kemudian terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku.” Ibuku bertanya, “Mengapa engkau tetap memegang kendi itu?” Aku menjawab, “Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena.” Zapjournals

Malam itu udara dingin, tangan kaku kedinginan memeluk kendi — namun ia tidak meletakkannya. Bukan karena tidak bisa, melainkan karena ia memilih untuk tidak. Satu pilihan kecil di satu malam dingin yang tidak ada seorangpun menyaksikannya — kecuali Allah — itulah yang ia sebut sebagai pintu dari seluruh ma’rifat yang ia peroleh seumur hidupnya.


Peran dalam Masyarakat

Kehidupannya sebagai seorang sufi ditempuh dalam perjalanan yang panjang — kira-kira 30 tahun berkelana menyusuri padang pasir, hidup dengan zuhud, makan serba sedikit, tidur yang tidak begitu banyak. Dari kezuhudannya itulah ia dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ma’rifat yang hakiki. ResearchGate

Ketika orang-orang berkata kepadanya, “Engkau dapat berjalan di atas air.” Abu Yazid menjawab, “Sepotong kayu pun dapat melakukan hal itu.” Mereka berkata, “Engkau dapat terbang di angkasa.” Ia menjawab, “Seekor burung pun dapat melakukan itu.” Mereka bertanya, “Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati?” Abu Yazid menjawab, “Seorang manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada selain Allah.” Jawaban yang menjadi cermin betapa ia tidak pernah terpesona oleh kehebatan dirinya sendiri. Uinsu


Pengaruhnya

Abu Yazid adalah sufi pertama yang melahirkan kata-kata syatahat dalam tradisi tasawuf Islam. Kisah mi’rajnya yang terkenal sangat mempengaruhi imajinasi dan pemikiran para sufi sesudahnya. Imam Junaid Al-Baghdadi — guru besar tasawuf yang telah kita kenal — pernah menyebut Abu Yazid sebagai salah satu rujukan spiritualnya. Namanya masuk dalam silsilah beberapa tarekat besar, termasuk Thariqah Syadziliyah, yang pengikutnya tersebar di seluruh penjuru dunia. UinsaizuRepublika Online


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Pertama, ma’rifat tidak selalu ditemukan di gunung atau padang pasir — kadang ia tersembunyi di dalam sebuah kendi yang dipeluk sepanjang malam di sisi ibu yang tertidur. Abu Yazid sendiri mengakui bahwa bakti kepada ibu adalah pintu terbesar dari seluruh perjalanan spiritualnya.

Kedua, keikhlasan yang sesungguhnya adalah yang dilakukan tanpa penonton. Tidak ada yang melihat Abu Yazid memeluk kendi itu sepanjang malam dalam kedinginan — kecuali Allah. Dan justru dari kesunyian itulah lahir seorang yang disebut “Raja Para Sufi.”

Ketiga, tawadhu seorang wali terlihat dari bagaimana ia memandang karamahnya sendiri. Abu Yazid tidak membanggakan kemampuan berjalan di atas air atau terbang — ia justru menganggapnya biasa, karena baginya yang luar biasa hanyalah kedekatan hati dengan Allah.

Keempat, ilmu yang paling dalam bukan yang ada di buku — melainkan yang lahir dari pengabdian nyata. Abu Yazid menemukan “segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Allah” bukan dari seribu kitab, melainkan dari satu malam bersama kendi dan ibunya yang tertidur. Kuliahalislam


Sumber: Detik Hikmah — “Kisah Abu Yazid Al-Busthami dan Pengabdiannya kepada Sang Ibu” (Desember 2023, bersumber dari kitab Tadzkiratul Auliya karya Fariduddin Aththar); Kemenag RI — “Pengabdian Abu Yazid Al-Busthami pada Ibunya” (Agustus 2024); Jakartamu.com — “Kisah Abu Yazid al-Busthami: Bakti kepada Allah dan Orang Tua”; JalanSufi.com — “Abu Yazid Al Busthami”; Pustaka Arsip Kabupaten Kampar — “Abu Yazid Al-Busthami”; Laduni.id — “Kitab Abu Yazid Al-Busthami”; Wikipedia Bahasa Indonesia — Abu Yazid al-Busthami.

Scroll to Top