Qais bin Sa’ad bin Ubadah: Sahabat Preneur Pelopor Pembiayaan Sosial Tanpa Riba

Kategori: Sahabat Preneur | Kisah Teladan

Biografi Singkat

Qais bin Sa’ad bin Ubadah adalah pemuda dari Suku Khazraj di Yastrib, Madinah. Ayahnya Sa’ad bin Ubadah adalah seorang pemimpin di suku tersebut, dan ibunya bernama Ummu Fukaihah binti Ubaid bin Dulaim al-Khazrajiyah. Keluarganya termasuk keluarga terpandang di tengah bangsa Arab karena terkenal dengan kedermawanannya. Kliksumut

Ia adalah pemuda istimewa yang menjadi Muslim sejak belia. Ayahnya memperkenalkan dirinya ke hadapan Nabi Muhammad SAW, dan ia pun menjadi salah satu orang yang melayani Nabi Muhammad SAW. Anas bin Malik pernah berkata bahwa kedudukan Qais bin Sa’ad di sisi Nabi tidak ubahnya seperti seorang ajudan. Kliksumut

Abu Umar al-Waqidi mengatakan, “Qais bin Sa’ad bin Ubadah merupakan salah seorang sahabat Rasulullah yang paling dermawan dan paling pemberani. Ia merupakan singa bangsa Arab, seorang cendekiawan yang pandai dalam strategi. Tak terbantahkan lagi, ia adalah pemuka kaumnya.” Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Kedermawanan adalah karakter keluarga ini.” Qais bin Sa’ad meninggal dunia pada tahun 59 H di Madinah Al-Munawarah. Mujahid DakwahUinsuna


Kisah Perjalanan Preneur: Berkeliling Menawarkan Pinjaman, Menolak Pelunasannya

Kisah kedermawanan Qais bin Sa’ad yang paling populer adalah ihwal keringanan hatinya untuk memberi pinjaman kepada banyak orang. Qais suka berkeliling ke rumah-rumah di Madinah untuk menawarkan pinjaman. Bukan menunggu orang datang meminta — ia yang aktif mendatangi, mencari siapa yang sedang kesulitan, dan menawarkan bantuan modal tanpa bunga. ResearchGate

Inilah yang membedakannya dari dermawan biasa. Ia bukan sekadar memberi ketika diminta — ia membangun sistem, berkeliling secara aktif, menjangkau mereka yang mungkin terlalu malu untuk meminta. Sebuah model outreach yang mendahului konsep inklusi keuangan modern lebih dari empat belas abad.

Namun ketika orang yang berutang padanya hendak membayar utang, Qais tidak bersedia menerima pelunasan. Ia malah mempersulit orang tersebut untuk membayar, dengan niat baik untuk menolak pengembalian uang. Qais bahkan memperpanjang jatuh tempo utang. Jika ada orang yang memaksa untuk membayar utang, maka uang itu akan disedekahkan dan dihadiahkan. Kuliahalislam

Suatu hari Qais memberikan pinjaman dalam jumlah besar kepada salah seorang rekannya yang sedang dalam kondisi sulit. Pada hari yang telah ditentukan untuk melunasi utang, orang yang bersangkutan berangkat untuk membayarnya. Ternyata Qais tidak bersedia menerimanya, dan hanya berkata, “Kami tidak akan menerima kembali apa pun yang telah kami berikan.” Uinsu

Kisah itu tidak berhenti di situ. Ada lanjutan yang justru lebih menggetarkan. Suatu kali Qais jatuh sakit hingga harus terbaring beberapa hari. Namun hanya satu dua orang saja yang menjenguknya. Padahal, biasanya ketika ada orang yang sakit, tetangga dan rekan akan berduyun-duyun datang. Qais bin Sa’ad menanyakan mereka, dan dijawab, “Sesungguhnya mereka malu menjengukmu karena masih memiliki utang padamu.” KuliahalislamAn-Nur

Jawaban itu menohok hatinya. Orang-orang yang ia cintai tidak berani datang — bukan karena benci, melainkan karena malu menanggung beban utang. Maka Qais mengambil keputusan yang luar biasa. Qais bin Sa’ad bin Ubadah memutihkan seluruh utang orang-orang yang berutang padanya — sehingga seketika itu juga, para penjenguk datang berduyun-duyun memenuhi rumahnya. NU Online

Ia membebaskan seluruh utang bukan karena ia tidak butuh uangnya kembali — melainkan karena ia lebih membutuhkan kedekatan dengan saudara-saudaranya daripada pelunasan piutangnya. Inilah kalkulasi seorang preneur yang benar-benar memahami apa yang paling berharga.


Prinsip yang Selalu Ia Terapkan

Pertama: Modal adalah alat pemberdayaan, bukan alat pengerukan. Qais tidak meminjamkan uang untuk mendapat untung. Ia meminjamkan untuk menghidupkan orang yang sedang mati-matian bertahan. Tidak ada bunga, tidak ada jaminan, tidak ada persyaratan rumit — hanya kepercayaan dan niat baik.

Kedua: Jemput bola, jangan tunggu. Qais suka berkeliling ke rumah-rumah di Madinah untuk menawarkan pinjaman. Ia memahami bahwa orang yang paling membutuhkan sering kali yang paling tidak berani meminta. Maka ia yang datang — bukan menunggu. ResearchGate

Ketiga: Harta yang dilepaskan lebih produktif dari harta yang digenggam. Bahkan kedermawanan Qais ini sempat diperbincangkan Abu Bakar dan Umar. Mereka berkata, “Kalau kita biarkan pemuda ini dengan kedermawanannya, niscaya hartanya akan habis tak bersisa.” Namun Sa’ad bin Ubadah, ayahnya, mendengar itu dan berkata tegas, “Siapakah yang dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar? Mereka mengajarkan kekikiran kepada anakku dengan memperalat namaku.” Facebook

Keempat: Zuhud di tengah kekayaan adalah puncak kebebasan. Qais meninggal sebagai orang zuhud, sekalipun ia kaya raya, taqwa, dan banyak membela kebenaran. Kaya namun tidak terikat oleh kekayaannya — itulah freedom sesungguhnya. Wirabuana


Kontribusi Besar bagi Peradaban Islam

Kontribusi Qais bin Sa’ad bagi peradaban Islam tidak hanya tercatat dalam lembaran sejarah kedermawanan — ia juga meninggalkan jejak dalam sejarah kepemimpinan. Ketika Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah, Qais bin Sa’ad terpilih untuk menjadi gubernur Mesir — sebuah kepercayaan besar dari khalifah kepada seorang pemimpin yang teruji kejujuran dan kecerdasannya. Uinsuna

Yang paling abadi dari warisan Qais bin Sa’ad adalah model pembiayaan sosialnya: memberikan pinjaman tanpa bunga, aktif menjangkau yang membutuhkan, lalu mengikhlaskan pelunasannya. Empat belas abad kemudian, konsep ini menjadi fondasi dari qardhul hasan dalam fikih muamalah Islam — pinjaman kebajikan tanpa tambahan apapun yang kini menjadi produk unggulan perbankan syariah di seluruh dunia. Qais bin Sa’ad mempraktikkannya jauh sebelum ia dikodifikasikan menjadi hukum.

Ketika iman Qais bin Sa’ad mulai tertanam di hatinya, Qais mengubah kemampuannya untuk menipu orang menuju jalan kejujuran. Seorang yang sebelum Islam disebut sebagai tokoh yang paling licik di antara bangsa Arab — diubah oleh iman menjadi simbol kejujuran, kedermawanan, dan kepedulian sosial yang paling nyata di Madinah. Republika ID


Pelajaran untuk Entrepreneur Masa Kini

Pertama, model bisnis terbaik adalah yang mengangkat orang lain sekaligus mengangkat diri sendiri. Qais tidak menunggu keuntungan — ia menciptakan ekosistem di mana orang-orang yang dibantu bisa bangkit, dan dari kebangkitan mereka itulah ia mendapat keberkahan yang jauh lebih besar dari sekadar pengembalian modal.

Kedua, pembiayaan tanpa riba bukan idealis — ia adalah model paling berkelanjutan. Ketika Qais memutihkan seluruh utang, ia tidak rugi — ia justru mendapat loyalitas, kepercayaan, dan kecintaan seluruh komunitas Madinah yang tidak bisa dibeli dengan uang berapapun.

Ketiga, aktif menjangkau pasar yang tidak berdaya adalah strategi paling mulia. Di era UMKM hari ini, banyak pelaku usaha kecil yang tidak punya akses modal bukan karena tidak layak, melainkan karena tidak tahu ke mana harus meminta. Qais hadir dengan solusi sebelum ada yang sempat meminta — itulah empati yang bertransformasi menjadi sistem.

Keempat, kekayaan yang dikelola dengan zuhud akan selalu cukup. Qais kaya raya namun tidak pernah takut kehilangan — karena baginya harta adalah titipan Allah yang harus diputarkan untuk kepentingan umat, bukan ditimbun untuk ketenangan pribadi.


Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia — Qais bin Sa’ad dan Qays bin Sa’ad; Detik Hikmah — “Qais bin Sa’ad, Sahabat Rasulullah yang Dermawan” (Desember 2023, bersumber dari Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas dan The Great Sahaba oleh Rizem Aizid); IDX Channel — “Kisah Dermawan Qais bin Sa’ad, Sahabat Rasul yang Mengikhlaskan Deretan Utang” (Desember 2023); Republika Online — “Disebut Sebagai Ajudan Rasulullah, Siapakah Qais bin Sa’ad?” (Juli 2025); HASMI — “Qais bin Sa’ad bin Ubadah” (September 2025); NU Online — “Kisah Qais bin Sa’d dan Utang Teman-temannya” (Maret 2026); Kalam Sindonews — “Kisah Sahabat Nabi yang Suka Menawarkan Pinjaman Lalu Memutihkannya” (Agustus 2023); Kisahmuslim.com — “Qays bin Saad bin Ubadah, Pemuda Anshar yang Cerdas dan Dermawan”; Khalid Muhammad Khalid — Biografi 60 Sahabat Nabi, Penerbit Ummul Qura’, hlm. 321–327.

Scroll to Top