Abdullah bin Mubarak: Ulama Preneur yang Berdagang demi Membiayai Para Penuntut Ilmu

Gambar Hanyalah Ilustrasi

Biografi Singkat

Nama lengkapnya Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih, Abu Abdurrahman Al-Handzali, lahir di Marwa, Khurasan, pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya berkebangsaan Turki dan ibunya berketurunan Persia. Gelarnya sangat banyak: Al-Hafizh, Syekh Al-Islam, Fakhr Al-Mujahidin, dan pemimpin para ahli zuhud. Ia menghabiskan usianya untuk berhaji, berjihad, dan berdagang sehingga dikenal dengan julukan As-Saffar — orang yang rajin melakukan perjalanan. WikipediaWikipedia

Imam Adz-Dzahabi menggambarkannya sebagai Syaikhul Islam, pemimpin para ahli takwa pada zamannya, al-Hafizh yang mumpuni, serta termasuk orang yang paling banyak melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, berjihad, berdagang, dan berinfak kepada saudaranya sesama Muslim karena Allah. Ia wafat pada tahun 181 H/797 M. Ketika Khalifah Harun al-Rasyid mendengar berita wafatnya, ia berkata, “Telah wafat penghulu para ulama.” WikipediaWikipedia


Kisah Paling Mashur: Berangkat Haji dengan 1.000 Dinar, Pulang Tanpa Satu Pun

Di antara seluruh kisah tentang Abdullah bin Mubarak, satu kisah yang paling sering dikisahkan dan paling berkesan adalah tentang perjalanan haji yang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mulia dari yang direncanakan.

Dalam rombongan haji tahun itu, Abdullah bin Mubarak membawa bekal sebanyak 1.000 dinar lebih untuk membiayai rombongannya. Di suatu tempat, kafilah berhenti untuk beristirahat. Tanpa disengaja, Abdullah melihat seorang anak perempuan yang mengendap-endap mengambil seekor bangkai burung, lalu membawanya pulang. Ia mengikutinya diam-diam dan bertanya, “Apa yang kau lakukan, Nak?” Si gadis menjawab, “Bagi kami, bangkai ini halal. Sudah tiga hari kami kelaparan.” Ia lalu menjelaskan bahwa ayahnya dahulu orang kaya, namun dibunuh dan dirampas seluruh hartanya oleh sekelompok orang jahat. WikipediaWikipedia

Abdullah terdiam. Di kantongnya ada 1.000 dinar yang ia siapkan untuk haji. Di hadapannya ada keluarga yang memakan bangkai karena kelaparan.

Ia mengambil keputusan: seluruh 1.000 dinar itu ia serahkan kepada keluarga tersebut. Kemudian ia kembali ke Marwa, tidak jadi berhaji tahun itu. Namun yang menggetarkan adalah apa yang terjadi setelahnya. Dalam tidurnya, Abdullah mendengar suara, “Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji.” WikipediaWikipedia

Ia berangkat membawa 1.000 dinar untuk Allah, dan Allah mengirim malaikat sebagai gantinya. Tidak ada haji yang lebih mabrur dari haji yang tidak pernah ia jalani.


Peran dalam Masyarakat

Ia berdagang bukan untuk memperkayakan dirinya sendiri, melainkan untuk membiayai para penuntut ilmu agar mereka tercukupi kebutuhannya dan tenang dalam menjaga kalam Ilahi dan sunnah Nabi. Kepada Fudhail bin Iyadh ia berkata dengan terus terang, “Jika bukan karena engkau dan sahabat-sahabatmu yang mencari ilmu, niscaya aku tidak sudi berdagang.” WikipediaWikipedia

Ia mengatur hidupnya secara berselang-seling: tahun pertama menunaikan haji, tahun kedua berjihad, tahun ketiga berdagang. Keuntungan dari perdagangannya dibagikan kepada para pengikutnya. Bahkan ketawaran-ketelitiann wara’nya luar biasa: ketika kudanya menerobos ladang gandum milik orang lain, ia meninggalkan kudanya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ia berkata, “Kudaku itu telah mengganyang gandum yang ada pemiliknya.” WikipediaWikipedia


Pengaruhnya

Ismail bin Iyas, sahabatnya, berkata, “Tidak ada orang lain di dunia yang seperti Ibnul Mubarak. Saya tidak tahu ada sifat baik apa pun yang Allah ciptakan kecuali Dia telah memberikannya kepada Abdullah bin Mubarak.” Wikipedia

Ibnu Mahdi mengatakan, “Pemimpin agama ada empat: Malik, Ats-Tsauri, Hammad bin Zaid, dan Ibnul Mubarak” — bahkan ia memuliakan Ibnul Mubarak melebihi yang lainnya. Murid-muridnya tersebar di berbagai negeri, di antaranya Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Mani’, dan sejumlah ulama besar lainnya yang meneruskan warisannya. Wikipedia


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Pertama, niat berdagang menentukan berkah yang mengalir darinya. Abdullah bin Mubarak berdagang bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan untuk membebaskan para ulama dari ketergantungan kepada penguasa. Ketika niat itu bersih, setiap transaksi menjadi ibadah.

Kedua, harta yang paling produktif adalah harta yang diputar untuk kepentingan ilmu dan dakwah. Dengan kekayaan dagangnya, ia menghidupi penuntut ilmu, membiayai jihad, dan memberangkatkan kaum fakir berhaji — tiga amal sekaligus dari satu sumber rezeki.

Ketiga, wara’ bukan hanya urusan ibadah ritual, melainkan meresap ke dalam setiap aspek kehidupan. Meninggalkan kuda mahal karena makan gandum orang lain — bukan karena tidak mampu mengganti, melainkan karena prinsip tidak mau mengambil yang bukan haknya walau sekecil apapun.

Keempat, sedekah yang tepat waktu lebih berharga dari ibadah yang direncanakan. Abdullah melepas 1.000 dinar hajinya untuk keluarga yang kelaparan — dan Allah menggantikannya dengan malaikat. Pelajaran ini mengajarkan kita bahwa Allah tidak pernah membiarkan seorang yang ikhlas rugi karena kebaikannya.


Sumber: NU Online — “Kisah Hidup Abdullah Ibnu Mubarak, Menggali Ilmu dari 4.000 Guru” (Februari 2026); Islami.co — “Kisah Kedermawanan Sufi Kaya Abdullah bin Mubarak”; Almanhaj.or.id — “Imam Ibnu Mubarak”; Kisah Hikmah — “Keutamaan Abdullah bin Mubarak”; Al-Azhar Peduli — “Kisah Abdullah bin Mubarak, Gagal Berhaji tapi Mendapat Kemuliaan Seperti Haji Mabrur”; Legenda Islam — “Kisah Abdullah bin Al-Mubarak”.

Scroll to Top