Asma binti Abu Bakar: Sahabat Preneur Perempuan yang Membangun Usaha dari Nol dengan Kedua Tangannya

Kategori: Sahabat Preneur | Kisah Teladan

Biografi Singkat

Asma binti Abdullah bin Utsman Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir pada tahun 595 M atau 27 tahun sebelum hijrah Nabi Muhammad. Ia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, saudari Aisyah RA, istri Zubair bin Awwam — salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga — dan ibu dari Abdullah bin Zubair. Ia termasuk As-Sabiqun Al-Awwalun, menjadi orang ke-18 yang masuk Islam. ResearchGate

Asma dikenal sebagai wanita terhormat yang menonjol dalam kecerdasannya, kemuliaan diri, dan kemauannya yang kuat. Ia mendapat gelar “Dzatun Nithaqain” — perempuan pemilik dua selendang — dari Rasulullah SAW, karena ia merobek selendang pinggangnya menjadi dua untuk mengikat bekal Rasulullah dan ayahnya saat hendak hijrah ke Madinah. Warta Mandailing

Asma binti Abu Bakar meninggal dunia pada tahun 73 Hijriyah dalam usia 100 tahun. Adz-Dzahabi berkata, “Asma adalah orang terakhir yang meninggal di antara golongan kaum Muhajirin.” Selama hidupnya ia tidak pikun, giginya tidak satu pun yang tanggal, dan pikirannya tetap kuat dan prima. Warta Mandailing


Kisah Perjalanan Preneur Asma binti Abu Bakar

Asma binti Abu Bakar berkata dalam riwayat yang tercatat dalam Shahih Bukhari: “Az-Zubair menikahiku ketika ia belum memiliki apa-apa, baik harta, budak atau semisalnya, selain unta untuk mengambil air dan seekor kuda miliknya. Maka aku yang memberi makan kudanya, mencari air, membuat geriba dan membuat adonan roti. Aku juga yang mengangkut biji-bijian untuk pakan ternak di atas kepalaku dari tanah bagian Az-Zubair yang diberikan oleh Rasulullah.” Laduni

Bayangkan latar belakangnya: ia adalah putri orang paling kaya di Makkah, calon mertua Rasulullah, perempuan dari keluarga Quraisy paling terhormat. Namun ketika menikah, ia tidak membawa kekayaan ayahnya ke dalam rumah tangga. Ia memulaikan segalanya dari nol — dengan kedua tangannya sendiri.

Suatu ketika Asma binti Abu Bakar menjunjung keranjang berisi buah kurma dari kebun yang dihibahkan Rasulullah kepada sang suami. Jarak kebun sejauh dua pertiga farsakh — sekitar empat kilometer — ia tempuh dengan berjalan kaki, membawa muatan berat di atas kepalanya. Laduni

Di tengah perjalanan itu terjadilah sebuah peristiwa yang sangat mengharukan. Ia bertemu Rasulullah SAW beserta sejumlah orang Anshar. Rasulullah memanggilnya dan bermaksud memboncengkannya di belakang untanya. Namun Asma merasa malu berjalan bersama rombongan laki-laki, dan ia ingat kecemburuan Zubair. Maka ia pun menundukkan kepala dan membiarkan Rasulullah berlalu. Start News

Setibanya di rumah, ia menceritakan kejadian itu kepada Zubair. Zubair berkata, “Demi Allah, kepayahanmu mengangkut biji-biji kurma itu lebih kucemburui daripada engkau naik kendaraan bersama beliau.” Seorang suami yang lebih tidak rela melihat istrinya berpayah-payah daripada melihatnya berboncengan dengan Nabi — itu adalah pengakuan tertinggi atas kerja keras seorang istri. Start News

Semua kepayahan itu baru berakhir sesudah Abu Bakar mengirimkan seorang pelayan untuk menggantikan tugasnya mengurusi kuda, sehingga seakan-akan beliau telah memerdekakannya. Asma tidak pernah sekalipun mengeluh kepada ayahnya sebelum itu — ia menjalani setiap kepayahan dengan penuh keikhlasan, sampai sang ayah sendiri yang akhirnya tidak tega. Republika Online


Prinsip yang Selalu Ia Terapkan

Pertama: Tidak pernah meminta sebelum berusaha sendiri. Asma adalah putri orang terkaya di Makkah, namun tidak pernah mengulurkan tangan kepada ayahnya meminta kemudahan. Ia bekerja dulu, baru kemudahan itu datang sendiri. Prinsip ini selaras dengan pesan Rasulullah kepadanya: “Berikanlah sesuai kemampuanmu dan janganlah bakhil, sehingga orang lain akan bakhil terhadapmu.” Lpmqkemenag

Kedua: Kedermawanan adalah bagian dari manajemen rezeki. Pernah suatu ketika ia jatuh sakit, kemudian ia segera membebaskan seluruh harta yang dipunyainya. Dulu ia pernah berkata kepada anak-anak dan keluarganya: “Berinfaklah kalian, bersedekahlah, dan jangan tunda keutamaan. Jika kalian menunda keutamaan, kalian tidak akan pernah mendapatkannya. Dan jika kalian memberi sedekah, kalian tidak akan kehilangan.” Warta Mandailing

Ketiga: Memahami pasar dan mitra kerja. Asma memahami betul watak suaminya yang pencemburu, dan ia menjaga perasaannya bahkan dalam urusan pekerjaan — menolak tawaran Rasulullah demi menjaga kepercayaan suami. Pemahaman tentang “mitra” dalam bisnis maupun kehidupan adalah fondasi kerjasama yang kuat. Detik.com

Keempat: Belajar dari yang lebih ahli tanpa rasa malu. Ketika tidak pandai membuat adonan roti, Asma meminta bantuan tetangga-tetangga Anshar yang lebih berpengalaman. Ia tidak pura-pura bisa — ia belajar. Dan para tetangga itu dengan senang hati membantunya. Wikipedia


Kontribusi Besar bagi Peradaban Islam

Kontribusi Asma binti Abu Bakar bagi peradaban Islam jauh melampaui ladang kurma dan kandang kudanya. Di momen paling menentukan dalam sejarah Islam — hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah — ia diperintahkan Abu Bakar untuk memantau keadaan umat Islam di Makkah dan ditugaskan mengantarkan makanan sekaligus mengakali kaum Quraisy agar tidak mengetahui keberadaan ayahnya dan Rasulullah yang bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari tiga malam. Tanpa keberanian dan kecerdikannya, misi hijrah itu bisa saja gagal. Pengawal

Di dalam didikannya, kepribadian Abdullah bin Zubair dibentuk — seorang khalifah yang gigih dan pemberani, anak pertama kaum muslimin yang lahir setelah hijrah. Asma adalah ibu yang memahami peranannya dalam melahirkan generasi utama yang berkualiti, generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Detik.com

Keberanian dan pengabdiannya menjadi teladan yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perjuangan dan pengembangan komunitas Muslim. Warisan Asma tidak hanya terbatas pada peran langsungnya dalam peristiwa-peristiwa penting sejarah Islam, tetapi juga dalam nilai-nilai yang ia tanamkan pada generasi berikutnya. Start News


Pelajaran untuk Entrepreneur Masa Kini

Pertama, modal besar bukan syarat memulai usaha — kemauan kerja keras adalah syaratnya. Asma memulai dari nol: satu kuda, satu unta, dan sebidang kebun. Namun ia tidak menunggu kondisi sempurna untuk mulai bekerja. Ia turun tangan dari hari pertama pernikahannya.

Kedua, seorang entrepreneur perempuan tidak perlu memilih antara keluarga dan produktivitas. Asma mengelola kebun, merawat ternak, membuat makanan, ikut dalam peperangan, mendidik anak yang kelak menjadi khalifah, dan menjaga kesetiaan terhadap suaminya — semuanya sekaligus. Produktivitas sejati tidak mengorbankan satu untuk yang lain.

Ketiga, sedekah bukan hambatan bagi pertumbuhan usaha, melainkan bahan bakarnya. Asma mewakafkan seluruh hartanya ketika sakit, dan hidupnya tetap berkah hingga usia 100 tahun dengan akal yang prima. Ini adalah bukti nyata dari prinsip yang ia ajarkan sendiri: memberi tidak akan membuat kehilangan.

Keempat, memahami mitra dan lingkungan adalah kecerdasan bisnis yang sering diremehkan. Asma memahami karakter suaminya, membangun hubungan baik dengan tetangga, dan tahu kapan harus meminta bantuan. Kecerdasan sosial ini adalah aset yang jauh lebih berharga dari modal materi.


Sumber: Islami.co — “Asma binti Abu Bakar, Putri Abu Bakar yang Menjadi Petani dan Beternak Kuda” (April 2021); Republika Online — “Asma Binti Abu Bakar Ash-Shiddiq: Mulia, Cerdas, dan Pantang Menyerah” (Maret 2017); UI Salam — “Kisah Asma binti Abu Bakar” (November 2019); Biografi Tokoh Ternama — “Asma binti Abu Bakar, Perempuan Pemilik Dua Selendang”; Mubadalah.id — “Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq: Perempuan Pembentuk Para Pahlawan” (Juni 2024); NU Online Jatim — “Meneladani Asma binti Abu Bakar Meraih Ridha Suami”; KisahSahabat.com — “Kisah Asma binti Abu Bakar RA”; Muslimah Bekerja — “Asma binti Abu Bakar, Putri Abu Bakar yang Menjadi Petani dan Beternak Kuda”; Shahih Al-Bukhari No. 5224 (Kitabun Nikah); Shahih Muslim (Kitabul Jihad was Siyar).

Scroll to Top